Sepulang dari kunjungannya ke yayasan misterius itu, perasaan Anggia semakin campur aduk. Kata-kata wanita tua tadi seolah menggantung di udara, meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Siapa sebenarnya Raka, dan apa yang ia lakukan di sana? Anggia merasa kebenaran mulai menampakkan diri, namun setiap lapisan yang ia kupas justru semakin menunjukkan kerumitan.
Di kamar tidurnya malam itu, Anggia merenungi hubungan mereka yang sudah hampir dua tahun berjalan. Selama ini, Raka selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang tak tergantikan. Tetapi sekarang, Anggia mulai menyadari bahwa Raka juga memiliki sisi yang selama ini ia sembunyikan. Sebuah sisi yang mungkin tidak pernah akan ia ungkapkan jika Anggia tak mencoba untuk menggali lebih dalam.
Keesokan harinya, Anggia bertekad untuk menghadapi Raka langsung dan meminta penjelasan. Mereka bertemu di taman kota, tempat favorit mereka yang biasanya penuh dengan tawa dan canda. Namun, sore itu, suasana terasa tegang. Anggia mencoba membuka percakapan, berusaha mengendalikan gemuruh emosinya.
“Mas, aku ingin tanya sesuatu… tentang yayasan itu,” Anggia memulai dengan suara bergetar.
Raka terdiam sejenak, tampak terkejut namun segera mencoba mengendalikan ekspresinya. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, “Yayasan apa yang kamu maksud, Gi?”
Anggia menatapnya dengan tatapan penuh harap sekaligus kekecewaan. "Aku tahu kamu sering mentransfer sejumlah uang ke sebuah yayasan. Aku pergi ke sana kemarin dan bertemu dengan salah satu pengurus di sana. Aku ingin tahu, Mas… kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Raka tampak ragu, matanya beralih sejenak sebelum akhirnya menatap Anggia dalam-dalam. “Aku tidak ingin kamu tahu karena… aku takut kamu salah paham, Gi. Yayasan itu adalah tempat yang ku bantu untuk mendukung anak-anak yang kurang mampu. Tapi ada alasan kenapa aku tidak pernah bercerita.”
“Apa itu, Mas?” Anggia mendesak, kini tak ada lagi keraguan di hatinya untuk menggali lebih dalam.
Raka menundukkan pandangannya, seolah sedang menyiapkan diri untuk mengungkapkan rahasia yang lama ia simpan. “Beberapa tahun lalu, aku pernah menjalin hubungan yang cukup serius dengan seseorang. Dia bekerja di yayasan itu. Kami berencana untuk menikah, tapi… dia meninggal dalam sebuah kecelakaan.”
Anggia merasakan gelombang emosi menyelimuti dirinya. Rasa marah, kecewa, dan iba bercampur aduk. “Kenapa kamu tidak pernah bilang, Mas? Apakah aku begitu tidak penting hingga kamu merasa perlu menyembunyikan masa lalumu?”
“Bukan begitu, Gi,” ucap Raka, suaranya lirih. “Aku hanya merasa bahwa masa laluku seharusnya tidak membebani hubungan kita. Aku tidak ingin kamu merasa bersaing dengan kenangan yang sudah tidak ada. Namun, yayasan itu adalah peninggalan satu-satunya dari dia yang masih tersisa. Itu sebabnya aku selalu mendukungnya.”
Anggia terdiam, mencoba mencerna kata-kata Raka. Di satu sisi, ia bisa memahami perasaan Raka yang berusaha menjaga kenangan dari masa lalu tanpa melibatkan dirinya. Tetapi di sisi lain, perasaan kecewa dan terluka tetap menggerogoti hatinya.
“Mungkin kamu merasa aku egois karena menyimpan ini sendirian,” lanjut Raka. “Tapi aku hanya tidak ingin menyakitimu.”
Anggia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Aku mengerti, Mas. Tapi hubungan ini tentang kejujuran. Jika kamu terus menyimpan rahasia dariku, bagaimana aku bisa percaya lagi?”
Raka mengangguk pelan. “Kamu benar, Gi. Maafkan aku… Aku janji, tidak ada lagi yang akan aku sembunyikan darimu. Aku tidak ingin kehilangan kamu hanya karena masa lalu.”
Setelah percakapan itu, Anggia merasakan ada sedikit kelegaan. Namun, benaknya masih dipenuhi keraguan yang sulit diabaikan. Ia berharap semuanya sudah jelas, tetapi hatinya tetap merasakan kegelisahan yang entah berasal dari mana.
Beberapa hari kemudian, saat sedang bersantai di kampus, Anggia menerima sebuah pesan baru dari nomor yang sama dengan pesan-pesan misterius sebelumnya.
"Jangan mudah percaya. Masih banyak yang belum kau ketahui tentangnya."
Pesan itu kembali mengguncang hati Anggia. Seolah-olah ada seseorang yang terus memperingatkannya untuk tidak lengah. Dengan perasaan penuh kegelisahan, Anggia segera menghubungi Tio dan menceritakan pesan baru yang ia terima.
“Ini sudah semakin aneh, Gi,” kata Tio saat mereka bertemu lagi di kafe langganan mereka. “Seseorang benar-benar mengawasi langkahmu. Aku sudah mencoba melacak nomor itu, tapi sejauh ini belum menemukan apa pun.”
Anggia menggigit bibirnya, kebingungan. “Apa mungkin… semua ini cuma lelucon? Atau seseorang yang iri dengan hubungan kami?”
Tio menggeleng. “Sepertinya ini lebih dari sekadar lelucon, Gi. Kalau seseorang berusaha membuatmu tahu sesuatu, pasti ada alasan kuat di baliknya. Kamu yakin Raka sudah jujur sepenuhnya?”
Anggia merasa bimbang. “Aku tidak tahu, Tio. Tapi setelah semua ini, aku merasa sulit untuk percaya sepenuhnya. Aku tidak mau mencurigainya terus, tapi… perasaan ini tidak bisa hilang.”
Tio menghela napas panjang. “Kamu harus berhati-hati, Gi. Kalau memang ada sesuatu yang lebih besar, kita mungkin harus siap dengan segala kemungkinannya.”
Malam itu, Anggia memutuskan untuk mencoba bicara sekali lagi dengan Raka. Ia ingin memastikan bahwa hubungan mereka tidak lagi dibebani dengan keraguan yang mengganggu. Saat bertemu di kafe favorit mereka, Anggia memperhatikan setiap gerak-gerik Raka dengan seksama, mencari tanda-tanda ketulusan di wajahnya.
“Mas, aku ingin kita jujur satu sama lain. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak menyimpan apa pun lagi dariku,” kata Anggia, suaranya terdengar mantap meski hatinya berdebar-debar.
Raka menatap Anggia dengan tatapan teduh. “Aku mengerti, Gi. Dan aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan apa pun lagi. Aku ingin kita berjalan bersama tanpa ada yang diragukan.”
Anggia merasa sedikit lega, namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa kebenaran masih seperti kabut yang menyelimuti mereka. Raka tampak tulus, tetapi pesan-pesan misterius itu tak berhenti menghantui pikirannya.
Setelah pertemuan itu, Anggia berharap bisa melupakan segalanya dan menjalani hubungan mereka seperti semula. Namun, beberapa hari kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini, pesan itu lebih mengganggu dari sebelumnya.
"Jika kau ingin tahu kebenaran, datanglah ke alamat ini malam ini. Datang sendiri, dan jangan beri tahu siapa pun."
Anggia tertegun membaca pesan itu. Ia merasa cemas dan takut, tapi rasa penasarannya tidak bisa ditahan. Setelah berpikir keras, akhirnya Anggia memutuskan untuk mengikuti petunjuk dalam pesan tersebut. Ia tahu risikonya, tetapi kebenaran yang tersembunyi jauh lebih menarik daripada ketakutan yang mengintai.
Malam itu, Anggia berangkat ke alamat yang diberikan dalam pesan. Lokasinya berada di sebuah gedung tua di pinggiran kota, tempat yang tampak sepi dan jauh dari keramaian. Dengan hati-hati, Anggia melangkah masuk ke dalam gedung. Suara langkah kakinya menggema, menambah kesan misterius di dalam gedung yang gelap itu.
Saat tiba di dalam ruangan yang disinari lampu temaram, Anggia melihat sosok seorang pria yang berdiri di tengah ruangan. Sosok itu berbalik, menatapnya dengan tatapan yang penuh teka-teki.
“Selamat datang, Anggia,” suara pria itu terdengar pelan namun penuh arti. “Aku tahu kamu pasti datang.”
Jantung Anggia berdegup kencang. Ia belum pernah bertemu pria ini, namun ada sesuatu dalam tatapan dan suaranya yang membuatnya merasa tak nyaman.
“Siapa kamu?” tanya Anggia, suaranya bergetar.
Pria itu tersenyum tipis, lalu menjawab dengan tenang. “Aku adalah bagian dari masa lalu Raka, bagian yang mungkin ia tak akan pernah bisa ceritakan padamu. Aku di sini untuk membuka matamu tentang siapa dia sebenarnya.”
Anggia merasa tubuhnya bergetar. Malam itu, ia menyadari bahwa perjalanannya untuk mencari kebenaran baru saja dimulai, dan kebenaran yang akan ia temukan mungkin jauh lebih kelam daripada yang ia bayangkan.
Bersambung...