Keesokan harinya, Anggia bangun dengan perasaan lega, meski sedikit lelah karena pembicaraan mendalam yang ia lakukan dengan Raka malam sebelumnya. Pikirannya masih dipenuhi dengan cerita masa lalu Raka dan Citra, terutama sosok Anton yang penuh amarah dan dendam. Walau Anggia ingin percaya bahwa semua ini sudah selesai, ada bagian dalam hatinya yang merasa bahwa bayangan masa lalu Raka masih terus membayangi.
Hari itu, Anggia memutuskan untuk bertemu kembali dengan Tio dan menceritakan semua yang telah terjadi. Mereka bertemu di kafe kecil di dekat kampus, dan Tio mendengarkan dengan seksama setiap detail yang diceritakan Anggia, dari pertemuannya dengan Anton hingga pengakuan Raka.
“Jadi, Raka mengaku merasa bersalah karena pertengkaran terakhirnya dengan Citra?” Tio mengulanginya untuk memastikan.
Anggia mengangguk. “Iya, dia bilang mereka bertengkar malam itu, dan Citra pergi dalam keadaan marah. Paginya, dia mengalami kecelakaan.”
Tio terdiam, tampak berpikir keras. “Itu memang bisa jadi penyebab rasa bersalah Raka, tapi ada sesuatu yang tidak beres di sini, Gi. Jika Anton benar-benar yakin ada yang disembunyikan Raka, dan ditambah dengan pesan-pesan misterius yang kamu terima, sepertinya ada lebih dari sekadar rasa bersalah.”
Anggia tertegun mendengar pendapat Tio. “Apa maksudmu? Kamu pikir ada yang lain?”
“Aku tidak ingin membuatmu cemas, tapi menurutku ada kemungkinan bahwa Raka menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertengkaran,” kata Tio serius. “Kecelakaan itu… apa kamu pernah mendengar detail tentang kejadiannya? Siapa tahu ada informasi penting yang bisa menjelaskan mengapa Anton begitu marah pada Raka.”
Anggia menggeleng. “Aku tidak tahu apa-apa. Raka tidak pernah membicarakannya secara detail.”
“Kalau begitu, mungkin ada baiknya kita mencari tahu lebih banyak tentang kecelakaan itu. Biasanya, catatan kepolisian bisa memberikan detail yang tak terduga.”
Malam itu, Anggia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya lagi pada Raka. Ia ingin tahu lebih banyak tentang kecelakaan yang menimpa Citra, namun tak ingin Raka merasa tersudut. Saat mereka berbicara di telepon, Anggia mencoba membuka topik itu dengan hati-hati.
“Mas, boleh aku tanya sesuatu tentang kecelakaan Citra?” tanyanya pelan.
Raka terdiam sesaat di ujung telepon, lalu menjawab, “Ada apa, Gi? Bukankah aku sudah cerita semuanya kemarin?”
“Aku tahu, Mas. Tapi aku hanya penasaran, mungkin ada detail yang bisa kamu ingat… atau hal-hal yang mungkin bisa menjelaskan kenapa Anton begitu marah padamu?”
Raka terdiam lama, membuat Anggia semakin cemas. Akhirnya, ia mendengar Raka menghela napas panjang.
“Gi, aku sudah cerita semuanya padamu. Apa kamu tidak percaya?” tanya Raka dengan nada yang sedikit terdengar kecewa.
“Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin memahami semuanya,” jawab Anggia, mencoba menenangkan suasana.
Raka tidak menjawab langsung. Akhirnya, setelah beberapa saat, ia berkata pelan, “Citra meninggal karena kecelakaan tunggal di jalan tol. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Polisi bilang dia kehilangan kendali… mungkin karena emosinya saat itu.”
Anggia mengangguk meski Raka tidak bisa melihatnya. Informasi ini membuatnya merasa sedikit lega, meski tak sepenuhnya. Namun, bagian dari dirinya masih menyimpan kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan.
Beberapa hari kemudian, Tio datang dengan sebuah berita mengejutkan. Ia berhasil menghubungi seseorang di kepolisian yang masih menyimpan laporan kecelakaan Citra. Menurut Tio, ada beberapa detail penting dalam laporan itu yang tidak biasa.
“Gi, kamu pasti ingin tahu ini,” kata Tio dengan serius saat mereka bertemu lagi. “Laporan kecelakaan itu mencatat bahwa mobil Citra tidak mengalami kerusakan rem atau apa pun yang menunjukkan ada masalah teknis. Namun, ada jejak sidik jari di kemudi yang teridentifikasi bukan milik Citra.”
Anggia terbelalak, jantungnya berdebar kencang. “Apa maksudmu? Maksudnya, ada orang lain yang mungkin ada di sana malam itu?”
Tio mengangguk. “Itu yang mencurigakan. Jika memang ada seseorang bersama Citra sebelum kecelakaan itu terjadi, besar kemungkinan ada faktor lain di balik kejadian tersebut. Mungkin Citra tidak sendirian saat meninggal.”
Anggia terdiam, berusaha memproses informasi yang baru saja didengarnya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya, membuat semuanya semakin membingungkan. Jika memang ada orang lain di mobil Citra malam itu, maka siapa sebenarnya orang itu? Apakah mungkin Raka terlibat lebih jauh dari yang ia akui?
“Tio, kamu pikir mungkin saja Raka ada di mobil itu?” Anggia bertanya pelan, hampir tak sanggup mengatakan kata-kata itu.
“Aku tidak tahu, Gi. Tapi kemungkinan itu tidak bisa diabaikan begitu saja,” jawab Tio dengan wajah serius.
Anggia merasa dirinya berada di ambang kehancuran. Jika benar Raka terlibat dalam kecelakaan itu, bagaimana ia harus menghadapi kenyataan ini? Dan bagaimana caranya bisa melanjutkan hubungan dengan pria yang mungkin menyembunyikan rahasia sebesar ini?
Keesokan malamnya, Anggia memutuskan untuk bertemu Raka sekali lagi. Dengan perasaan tak menentu, ia memutuskan bahwa ini adalah saatnya untuk mengakhiri semua kebohongan – baik dari dirinya maupun dari Raka.
Ketika mereka bertemu, Anggia bisa melihat bahwa Raka tampak kelelahan. Wajahnya pucat, dan ia tampak cemas melihat ekspresi serius di wajah Anggia.
“Ada apa, Gi?” tanya Raka pelan.
Anggia menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari kebenaran dalam mata pria yang begitu ia cintai ini. “Mas, aku tahu ini sulit, tapi aku butuh kejujuranmu. Ada yang ingin aku tanyakan… dan aku mohon, jujurlah padaku.”
Raka mengangguk, terlihat cemas namun siap mendengarkan.
“Aku tahu tentang laporan kecelakaan itu. Tentang sidik jari yang ditemukan di kemudi. Apakah… apakah kamu ada di sana malam itu, Mas?” Anggia bertanya dengan suara lirih.
Wajah Raka berubah seketika. Matanya tampak terkejut, namun tak ada lagi upaya untuk menyembunyikan apa pun. Setelah keheningan yang terasa seperti selamanya, ia akhirnya bicara.
“Iya, Gi,” jawabnya pelan, suaranya nyaris berbisik. “Aku ada di sana malam itu.”
Air mata mengalir di pipi Anggia. Mendengar pengakuan itu membuat semua perasaannya seolah pecah berantakan.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang, Mas? Kenapa kamu terus menyembunyikannya dariku?” tanyanya, hampir tak sanggup menahan tangisnya.
Raka menundukkan kepala, tampak penuh penyesalan. “Karena aku takut kehilanganmu, Gi. Aku takut kamu akan meninggalkanku jika kamu tahu kebenarannya.”
Anggia menggelengkan kepala, merasa sakit hati yang mendalam. “Aku mencintaimu, Mas. Tapi kamu harus tahu bahwa cinta tidak bisa bertahan tanpa kejujuran. Mengapa kamu tidak membiarkan aku menjadi bagian dari rasa sakitmu?”
Raka mencoba menyentuh tangan Anggia, tetapi ia menariknya dengan perlahan. “Gi, aku benar-benar menyesal. Aku… tidak tahu bagaimana bisa hidup dengan kenyataan ini. Aku begitu takut, begitu tertekan dengan rasa bersalah ini. Setiap hari, aku teringat pada malam itu. Aku seharusnya melindungi Citra, tapi aku malah membiarkannya pergi.”
Malam itu, Anggia meninggalkan Raka sendirian. Hatinya hancur berkeping-keping, namun ia tahu bahwa kebenaran harus dihadapi. Meski perih, ia merasa bahwa inilah satu-satunya jalan untuk menemukan kedamaian, baik untuk dirinya maupun untuk masa lalu yang terus menghantui mereka.
Bersambung...