Suara hujan mengguyur atap kamar Anggia malam itu, menciptakan simfoni yang seharusnya menenangkan. Namun, sejak pesan misterius yang ia terima beberapa hari lalu, tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak. Pikirannya terus berkelana, menebak-nebak siapa di balik pesan itu, dan yang paling menyiksa adalah pertanyaan besar tentang apa yang mungkin tersembunyi di balik topeng Raka.
Anggia tidak bisa melupakan kata-kata dalam pesan itu: "Hati-hati dengan siapa yang kau percayai, Anggia. Kadang topeng bisa terlihat begitu sempurna hingga kita lupa melihat wajah asli di baliknya." Satu pesan, tapi mampu mengguncang seluruh keyakinannya terhadap hubungan mereka.
Dua hari kemudian, Anggia memutuskan untuk menemui Maya kembali. Dalam pertemuan di sebuah kafe kecil di dekat kampus, Maya mendengarkan dengan serius saat Anggia menceritakan segala kegelisahannya.
"Gi, aku tahu kamu cinta sama Raka, tapi kalau sampai muncul pesan semacam itu, mungkin ada alasan untuk berhati-hati," kata Maya sambil menggenggam tangan Anggia.
"Tapi, aku tidak tahu harus mulai dari mana, May. Aku benar-benar ingin mempercayainya, tapi semakin aku mencoba, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalaku," ucap Anggia dengan suara lirih.
Maya terdiam sejenak, tampak berpikir keras. "Mungkin... kita bisa coba cari tahu lebih dalam tentang dia."
Anggia mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
Maya menarik napas panjang. "Ada satu cara. Aku kenal seseorang yang cukup pintar melacak informasi. Dia mungkin bisa membantu kita mencari tahu siapa pengirim pesan itu dan mungkin memberi kita petunjuk tentang apa yang Raka sembunyikan."
Mendengar itu, hati Anggia berdebar-debar antara cemas dan penasaran. Ia tahu ini berisiko, tapi rasa ingin tahunya lebih kuat dari apa pun. Setelah berdiskusi cukup lama, Anggia akhirnya setuju untuk bertemu dengan teman Maya tersebut.
Beberapa hari kemudian, Anggia dan Maya pergi ke sebuah kedai kecil di pinggir kota. Di sana, mereka bertemu dengan Tio, seorang pemuda dengan penampilan santai namun tatapan tajam. Tio adalah teman lama Maya yang ternyata sangat ahli dalam bidang teknologi dan informasi. Maya memperkenalkan mereka, dan Tio segera menyimak dengan seksama ketika Anggia mulai menceritakan semuanya, termasuk tentang hubungan dan kecurigaannya terhadap Raka.
"Hmm… Menarik," gumam Tio setelah mendengar cerita Anggia. "Kamu yakin pesan itu datang dari seseorang yang benar-benar tahu sesuatu?"
"Aku… tidak tahu pasti. Tapi kata-katanya terlalu spesifik. Rasanya… ada yang tahu lebih banyak tentang Raka dibandingkan aku," jawab Anggia ragu.
Tio mengangguk paham. "Oke, aku akan coba bantu. Mungkin kita bisa mulai dengan melacak nomor yang mengirim pesan itu. Kalau dia menggunakan aplikasi pesan atau nomor tak dikenal, ada kemungkinan aku bisa menemukan lokasi pengirim atau setidaknya identitasnya."
Dengan jari-jarinya yang cekatan, Tio mulai mengotak-atik laptopnya sambil sesekali mengajukan pertanyaan pada Anggia. Ia bahkan menanyakan hal-hal kecil seperti aktivitas sehari-hari Raka, kebiasaan-kebiasaan kecilnya, hingga pekerjaan dan teman-temannya. Anggia menjawab semuanya sebaik mungkin, merasa aneh mengingat detail kecil yang selama ini mungkin tidak ia anggap penting.
Sementara Tio melakukan pencariannya, Anggia merasakan getaran di ponselnya. Sebuah pesan baru masuk.
"Berhenti mencari tahu, atau kamu akan menyesal."
Pesan itu membuat tangan Anggia gemetar. Ia menunjukkan pesan itu pada Maya dan Tio, yang langsung menatapnya dengan wajah tegang.
"Ini semakin aneh, Gi. Ada yang tahu kita sedang mencoba mencari tahu," kata Maya dengan nada khawatir.
Tio merapikan laptopnya dan menatap Anggia dengan serius. "Kamu yakin mau lanjut? Kalau memang ada sesuatu yang tersembunyi, besar kemungkinan ini bukan hal sepele."
Anggia terdiam sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang semakin berkecamuk. Namun, ia tahu bahwa sudah terlalu jauh untuk mundur. Rasa penasaran dan kecurigaan semakin mendesaknya.
"Aku ingin tahu kebenarannya, Tio. Apa pun itu," jawab Anggia tegas.
Tio mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi kita harus hati-hati. Kalau memang ada sesuatu yang besar, kita tidak bisa gegabah."
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Anggia menerima pesan dari Tio yang mengabarkan bahwa dia berhasil mendapatkan beberapa petunjuk. Mereka bertemu kembali di tempat yang sama, dan Tio langsung menunjukkan hasil yang ia dapatkan.
"Aku berhasil melacak nomor pengirim pesan itu. Sayangnya, dia menggunakan nomor anonim yang sulit untuk ditelusuri lebih jauh, tapi aku menemukan sesuatu yang mungkin penting," Tio berkata sambil menyerahkan beberapa berkas pada Anggia.
Di antara berkas-berkas itu, ada satu yang menarik perhatian Anggia: catatan transaksi keuangan Raka. Terlihat beberapa transfer dengan jumlah yang tidak sedikit ke sebuah rekening yang tidak dikenal.
"Raka punya aktivitas finansial yang cukup mencurigakan," jelas Tio. "Biasanya, rekening ini digunakan untuk transaksi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain."
Jantung Anggia berdegup kencang. "Apa maksudmu? Apa dia terlibat dalam sesuatu yang… ilegal?"
Tio mengangkat bahu. "Aku belum bisa memastikan, tapi transaksi seperti ini bisa menunjukkan banyak hal. Entah itu urusan bisnis yang tidak jelas, atau mungkin ada hubungan dengan seseorang yang tidak ingin dia ungkapkan."
Anggia merasa campur aduk. Rasa takut, penasaran, dan kekecewaan berbaur menjadi satu. Di satu sisi, ia ingin mempercayai Raka, namun di sisi lain, bukti-bukti yang ia lihat membuatnya tidak bisa mengabaikan kecurigaannya.
Malam itu, Anggia kembali ke rumah dengan perasaan berat. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, merenungi apa yang baru saja ia ketahui. Tio berjanji akan membantu lebih lanjut, namun ada bagian dalam dirinya yang ingin segera menuntaskan semuanya. Anggia berpikir untuk langsung mengonfrontasi Raka, menuntut penjelasan darinya.
Namun, sebelum ia sempat memutuskan, ponselnya berdering. Nama Raka tertera di layar, membuatnya tertegun.
"Halo, Gi. Kamu baik-baik saja?" tanya Raka dengan suara yang terdengar lembut seperti biasa.
Anggia menelan ludah, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Aku… aku baik. Ada apa, Mas?"
"Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. Beberapa hari ini kamu tampak tidak seperti biasanya," Raka berkata dengan nada penuh perhatian.
Rasa bersalah tiba-tiba menyergap hati Anggia. Meski ia mencurigai Raka, ia tetap merasa ada sisi tulus dalam kata-kata dan sikapnya yang penuh perhatian itu.
"Mas… sebenarnya aku ingin tanya sesuatu," kata Anggia akhirnya, memberanikan diri.
"Ya? Apa itu, sayang?" Raka menjawab dengan tenang.
Namun, sebelum Anggia sempat mengucapkan apa pun, terdengar suara dering pintu. "Maaf, Gi, ada tamu di rumah. Kita lanjut besok ya? Aku akan segera cerita kalau memang ada yang perlu kamu tahu. Janji," kata Raka cepat sebelum menutup telepon.
Anggia terdiam, memandang ponselnya. Kata-kata Raka barusan memberinya secercah harapan, namun juga menambah kecurigaan. Siapa tamu di rumahnya malam itu? Apakah ada hubungannya dengan semua ini?
Keesokan harinya, Anggia kembali bertemu dengan Tio untuk mendapatkan perkembangan baru. Tio berhasil menemukan informasi tambahan tentang penerima transfer dari rekening Raka. Ternyata, uang tersebut ditransfer ke sebuah yayasan yang berada di luar kota, namun tidak ada informasi lebih lanjut tentang aktivitas yayasan tersebut.
"Mungkin ini hanyalah donasi biasa," kata Tio mencoba meredakan kecemasan Anggia. "Tapi jika kamu ingin lebih jauh, kita bisa coba mengunjungi alamat yayasan itu dan melihat langsung."
Anggia merasa ini adalah pilihan terakhir yang bisa ia lakukan. Dengan perasaan yang penuh dengan kecemasan dan ketidakpastian, ia memutuskan untuk pergi ke alamat tersebut.
Saat tiba di alamat yayasan yang tercantum, Anggia disambut dengan pemandangan gedung tua yang tampak sepi. Tidak ada aktivitas mencolok, hanya sebuah plang kecil yang menunjukkan nama yayasan tersebut.
Dengan hati-hati, ia melangkah masuk. Di dalam, ia disambut oleh seorang wanita tua yang duduk di balik meja kecil. Wanita itu tersenyum ramah, namun tatapannya terasa tajam.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
Anggia menarik napas panjang. "Saya… saya sedang mencari informasi tentang seorang donatur. Namanya Raka."
Wanita itu terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. "Raka ya? Sudah lama dia tidak datang ke sini. Dia orang baik, selalu mendukung yayasan ini."
Anggia merasa bingung. "Apa maksud Anda? Apa yang Raka lakukan untuk yayasan ini?"
Wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Dia banyak membantu anak-anak di sini. Tapi… mungkin ada hal yang lebih besar yang tidak Anda ketahui."
Kata-kata itu menggantung di udara, meninggalkan Anggia dalam kebingungan dan ketidakpastian. Kebenaran tentang Raka mungkin jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan, dan kini, ia berada di tengah misteri yang semakin dalam.
Bersambung...