Angin sore yang lembut menerpa wajah Anggia saat ia duduk di taman kampus yang mulai sepi. Pikirannya menerawang, menembus batas antara kenyataan dan harapan yang ia bangun bersama kekasihnya, Raka. Sudah hampir dua tahun mereka bersama, dan dalam waktu itu, Raka selalu menunjukkan sisi terbaiknya. Dia pria yang penuh perhatian, manis, dan selalu tahu cara membuat Anggia tersenyum. Namun, entah mengapa, sejak beberapa bulan terakhir, perasaan resah itu perlahan-lahan tumbuh di dalam hatinya.
"Kenapa aku merasa ada yang dia sembunyikan?" Anggia berbisik pada dirinya sendiri. Hatinya tidak tenang setiap kali mengingat tatapan Raka yang semakin sering mengalihkan pandangannya, seolah menghindari pertanyaan yang mungkin bisa membongkar rahasia yang tersimpan rapat. Meskipun Raka selalu hadir di saat-saat penting dan selalu memberikan cinta, ada sisi dari dirinya yang terasa tertutup.
Sore itu, Anggia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Maya, yang sudah lama menjadi tempat curhat terbaiknya. Maya selalu mendukungnya dalam segala hal, tetapi kali ini Anggia ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih serius, tentang keraguannya pada Raka.
"Hei, Gi! Tumben serius banget mau ketemu begini. Ada apa?" Maya menyapa dengan senyum yang selalu membuat Anggia merasa sedikit lebih tenang.
"Aku... aku ngerasa ada yang nggak beres sama Raka," Anggia memulai dengan suara pelan. "Dia berubah. Dulu dia selalu cerita semuanya ke aku, tapi sekarang rasanya ada jarak."
Maya memandang Anggia dengan tatapan prihatin. "Mungkin cuma perasaan kamu aja, Gi. Kamu tahu kan kalau orang bisa berubah? Tapi, kalau kamu merasa ada yang salah, mungkin kamu perlu cari tahu lebih lanjut."
Anggia terdiam, memikirkan ucapan Maya. Ia sadar, cinta adalah soal kepercayaan, tapi ia juga tahu bahwa dirinya tak bisa terus-menerus dikepung rasa curiga yang tanpa alasan. Setelah berbicara cukup lama, Anggia pun memutuskan untuk mengamati Raka lebih dekat, mungkin dengan itu ia bisa mendapatkan jawaban atas kebingungannya.
Malam itu, setelah pulang dari kampus, Anggia mengirim pesan pada Raka.
"Mas, bisa ketemu nggak malam ini? Ada yang ingin aku bicarain," tulis Anggia singkat.
Raka, yang biasanya langsung merespons pesan Anggia, kali ini baru menjawab setelah beberapa menit.
"Tentu, sayang. Kita ketemu di tempat biasa aja ya?"
Anggia merasakan ketegangan dalam jawaban Raka yang singkat. Mereka biasanya bertemu di sebuah kafe kecil yang terletak di sudut kota. Tempat itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, tempat mereka berbagi tawa, cerita, dan impian. Namun malam ini, Anggia merasa suasana yang biasanya hangat berubah menjadi canggung.
Saat tiba di kafe, Anggia melihat Raka sudah menunggunya dengan wajah yang tampak lelah, namun tetap tersenyum saat melihatnya.
"Maaf bikin kamu nunggu lama, Mas," kata Anggia sambil duduk di depannya.
"Nggak apa-apa, Gi. Jadi, ada apa nih? Kamu tampak serius banget," Raka membuka percakapan dengan nada ringan, tapi matanya menunjukkan ada yang ia sembunyikan.
Anggia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. "Aku cuma... mau nanya sesuatu. Mungkin ini akan terdengar aneh, tapi aku perlu tahu."
Raka tersenyum, mencoba menenangkan Anggia. "Tentu, tanya aja. Aku ada di sini untuk kamu."
"Apa... ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" Anggia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Raka tampak terkejut, tapi hanya sejenak sebelum dia kembali tersenyum. "Kenapa kamu tanya seperti itu? Kamu nggak percaya sama aku?"
"Bukan begitu, Mas. Cuma... aku ngerasa akhir-akhir ini kamu beda," Anggia berkata pelan sambil menundukkan wajahnya.
Raka terdiam, menatap Anggia seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Raka mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Anggia.
"Aku nggak pernah mau menyakiti kamu, Gi. Mungkin... memang ada beberapa hal yang belum bisa aku ceritakan. Bukan karena aku nggak percaya sama kamu, tapi karena aku masih mencari waktu yang tepat."
Perasaan Anggia campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega karena Raka mengakui ada hal yang ia sembunyikan. Namun di sisi lain, hatinya semakin gelisah. "Apa itu sesuatu yang besar?"
Raka menatap mata Anggia dalam-dalam. "Mungkin, Gi. Tapi aku janji, pada waktunya, kamu akan tahu semuanya."
Kata-kata Raka membuat Anggia berpikir keras sepanjang perjalanan pulang. Ada keinginan untuk mempercayainya, tetapi juga rasa takut akan kebenaran yang mungkin tidak seindah yang ia bayangkan.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Anggia memutuskan untuk menenangkan diri dan berhenti berpikir terlalu jauh. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan kegiatan lain. Tapi pada suatu malam, saat ia sedang bersantai, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal.
"Hati-hati dengan siapa yang kau percayai, Anggia. Kadang topeng bisa terlihat begitu sempurna hingga kita lupa melihat wajah asli di baliknya."
Jantung Anggia berdegup kencang membaca pesan itu. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Siapa yang mengirim pesan itu? Apa yang ia maksud dengan topeng? Apakah pesan itu berkaitan dengan Raka?
Perasaan takut dan penasaran mulai merasuki pikiran Anggia. Ia tidak tahu apakah ini hanya sekadar ancaman tak berdasar atau petunjuk dari seseorang yang tahu lebih banyak tentang Raka. Satu hal yang pasti, malam itu Anggia tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Raka, senyumannya, serta janji yang belum ditepati, semua itu bergulir dalam pikirannya.
Di balik ketidakpastian itu, Anggia merasa dirinya berada di ambang penemuan besar yang bisa mengubah hidupnya – atau malah menghancurkannya.
Bersambung...