"Tidak, Eva, Tante melarangmu tidak hadir," ujar Mama Gio, dengan nada ngeyel seperti biasanya. "Toh, kehadiranmu nanti sebagai tamu Papa Gio. Jadi tidak ada hubungannya dengan Gio."
"Maaf, Tante," ulang Evania, berharap Mama Gio menyerah.
"Tante pastikan kamu tidak akan bertemu Gio di sana, Eva," Mama Gio mulai membujuk. "Tante bisa atur itu nanti."
Evania yang sudah malas berhubungan dengan keluarga Gio harus bertahan dengan pendiriannya, "Maaf, Tante, aku nggak akan hadir."
Mama Gio yang kesabarannya mulai habis sebenarnya masih ingin membujuk Evania, namun suaminya terus menghalangi.
Akhirnya Mama Gio menyerah juga. "Eva, Tante akan bertemu kamu nanti untuk bahas masalah itu. Waktu dan tempat akan Tante kabari nanti."
Panggilan berakhir.
Evania tentu saja tahu, pertemuan itu bakalan terjadi dalam minggu ini. Dan langsung bad mood.
***
Dia yang tadinya mengira bakal terlepas dari keluarga Gio, malah dihadapkan kenyataan kalau dalam waktu dekat bakal bertemu lagi dengan wanita egois dan cerewet itu.
Evania duduk diam seakan membeku di sofa. Ruangan ini seketika hening. Samar, terdengar suara mesin mobil tetangga sebelah yang baru pulang. Lalu diakhiri bunyi alarm pintu mobil dikunci.
Dilanjutkan dengan suara pagar digembok. Kemudian langkah kaki menuju teras, memutar kunci, pintu terbuka, tertutup. Lalu, hening.
Suara-suara itu setiap hari didengar Evania, tapi cuma sebatas tanda bahwa penghuni rumah sebelah baru pulang.
Tetapi barusan, setelah suara orangtua Gio lenyap, meninggalkan mood tak karuan serta kehampaan, gendang telinga Evania justru menangkap jelas suara-suara di luar.
Jadi, begitukah caranya menikmati sebuah suara, yaitu kosongkan pikiran?
Evania tersenyum geli. Itu disebut meditasi.
Ia lalu bangkit berdiri. Dan melepas handuk masih melilit di rambutnya. Menaruhnya di sandaran sofa. Lalu bergerak ke jendela di samping pintu utama. Menyibak sedikit gordyn abu-abu.
Di balik kaca itu terlihat teras, halaman, dan pagar. Sepi.
Biasanya, orangtuanya suka duduk di teras atau di halaman, ngobrol sambil memandangi langit gelap. Menikmati hembusan angin malam yang terkadang hangat, terkadang sejuk.
Tapi malam ini dan malam-malam sebelumnya, yang dinikmati orangtuanya adalah angin Bali.
Dan di saat ini, keduanya mungkin sedang rebutan menggendong cucu pertama. Melupakan anak bungsunya ini, makanya belum menelepon.
Tapi bagus juga, pikirnya. Setidaknya ia punya waktu menenangkan hati dan pikirannya setelah memberitahu orangtua Gio perihal perpisahannya dengan putra mereka, plus berhasil menolak undangan itu.
Di satu sisi ia merasa plong, lega. Karena apa yang mengganjal di pikirannya telah dikeluarkan.
Namun di sisi lain ia galau karena bakal bertemu Mama Gio lagi. Sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya dia nanti. Serentetan pertanyaan pasti bakal diluncurkan kepadanya.
Memikirkannya saja sudah membuatnya ngilu. Bagaimana kalau sudah bertemu nanti?
Hm, aku harus cari cara untuk menghindari pertemuan itu, pikirnya. Mungkin dengan pura-pura ke luar kota, atau, sembunyi di suatu tempat.
Yeah, ide cemerlang. Ia nyengir lega membayangkan dirinya berhasil kabur dari Mama Gio. Bahkan bila perlu ia rela menggunakan jatah cutinya asal tidak bertemu wanita berusia enampuluhan itu.
Biarlah tahun ini tidak healing dulu. Beresin masalah dengan keluarga Gio jauh lebih penting.
Oke sip, begitu saja.
Padahal Evania masih mau mencari jawaban atas teka-teki Gio lebih memilih Junita, tapi malah menambah masalah baru, yaitu ibunda Gio.
Ufft, Evania membuang nafas dengan lelah.
***
Pagi berikutnya.
Setelah pembicaraan kemarin dengan Mama Gio, Evania bergerak cepat.
Begitulah, saat ijin cuti sudah di tangannya, Evania keluar dari ruangan bos dengan wajah berseri. Tiga hari. Mulai besok hingga Jumat.
Hm, kira-kira aku mau kemana ya, sampai Minggu? pikirnya. Atau ke Bali saja?
Evania kembali ke mejanya, dan langsung disambut Mila yang sedang menyisir rambut di balik mejanya.
"Gimana, Ev, dapat cutinya?"
Evania mengangguk penuh semangat. "Senin depan baru masuk."
Mila menyimpan sisirnya ke laci meja. "Terus, plan kemana?"
"Maunya ke Bali, Mil," Evania mengeluarkan ponselnya dari laci paling atas. "Tapi kalau tiba-tiba ke sana, ortu pasti curiga ada yang nggak beres."
Mila bangkit berdiri. Belum bicara, menunggu tiga rekan yang lagi melewati meja mereka menuju pintu.
"Kami duluan, ya," kata salah satu dari mereka, namanya Mimi.
Mila hanya menanggapi dengan lambaian tangan, sementara Evania jongkok, mencari dompetnya di sela-sela tumpukan kertas, di laci paling bawah.
"Jadi, kamu belum kasih tahu mereka?" tanya Mila begitu ruangan ini hanya ada mereka berdua.
Evania berdiri. Di tangannya sekarang ada dompet dan ponsel.
"Nanti saja waktu mereka sudah di rumah,” katanya. “Aku nggak mau merusak mood mereka. Ayahku lumayan dekat dengan Gio, dan mengira kami bakal nikah."
"Wah, kalau gitu mending jangan ke Bali," kata Mila.
Keduanya lalu bergerak ke pintu, keluar, dan menuruni tangga.
"Atau, aku sembunyi saja di rumah, haha," tawa Evania.
"Boleh juga," timpal Mila.
Keduanya tertawa.
Tawa itu seketika lenyap saat tiba di lobi dan menyadari ada sesosok manusia yang sedang duduk di sofa tamu.
"Hai, Evania."
Wajah cantik Evania sontak berubah pucat. Tidak disangka sosok itu bisa berada di sini, saat ini.
Ia menelan ludah dengan susah sebelum membalas sapaan orang itu, "Hai juga, Tante," Lalu nyengir kaku. Di sampingnya Mila menyolek lengan kirinya.
"Mama Gio?" bisik Mila.
"Iya," Evania nyengir kilat.
"Yah, batal deh lunch kita," bisik Mila lagi, pasrah.
"Kaget kan lihat Tante di sini." Mama Gio bangkit berdiri. Nyengir ke arah Evania.
"Iya, Tan, kaget," ujar Evania datar lalu dalam hati merutuki operator telepon, kenapa tidak mengabarinya tadi.
Kalau iya, setidaknya ia bisa menghindar dengan meminta operator berbohong kalau dirinya sedang cuti. Tapi yaahh, sudahlah. Sudah terjadi. Harus dihadapi.
Ibu Gio langsung tersadar begitu mata itu menangkap sosok Mila. "Oh, kalian mau keluar makan siang, ya? Berarti Tante mengganggu, ya?" Tubuh beliau yang lumayan berisi itu memakai setelan blazer putih motif bunga-bunga.
Mila segera paham tujuan kedatangannya. Evania sudah memberitahunya tadi pagi. Hanya saja mereka tidak pernah menyangka beliau bisa secepat ini muncul, di kantor ini pula.
Dan, agar Evania dan tamunya leluasa berbincang, Mila memilih pergi makan sendiri.
***
Kemudian, Evania dan ibu Gio sudah di kafe yang tidak jauh dari kantor. Keduanya duduk di balik meja persegi, dekat jendela.
Sembari menunggu pesanan makanan disajikan, ibu Gio membuka percakapan.
"Jadi, Eva, bagaimana rencana kamu selanjutnya?"
Entah apa maksud dari pertanyaan ini, Evania bingung. Dan memilih diam saja. Takut salah jawab. Bisa berabe. Mengingat si penanya adalah Mama Gio, yang dikenalnya sangat cerewet dan blak-blakan.
Mama Gio segera sadar Evania tidak paham maksud pertanyaannya, dan menjelaskan.
"Maksud Tante, apa rencana kamu setelah putus dengan Gio? Apa mau sendiri dulu atau segera mencari pengganti dia?"
Evania butuh beberapa detik dan sekali desahan nafas untuk menjawab pertanyaan lumayan gamblang itu. Yah, begitulah karakter wanita di hadapannya ini. Sudah tidak heran.
"Ikut arus saja, Tante," Evania heran sendiri kenapa bisa menjawab seperti itu.
Bila dulunya dia harus mencari kata-kata indah yang tidak menyinggung beliau, sekarang justru dengan entengnya berkata, "Yeah, kalau misal ada cowok yang datang, cocok, ya saya terima."