Setelah Jenny pergi, Evania sempat termangu sebentar di teras. Segitu inginnya Junita melihatku hancur, sampai perlu mengutus sepupunya untuk memantau kondisiku, pikirnya.
Super jahat perempuan yang satu itu. Menyesal Evania berteman lagi dengannya setahun belakangan ini. Kalau pada akhirnya tetap saja dia mengulangi perbuatan jahatnya di masa lampau. Yaitu, merampas milik Evania dengan cara busuk.
Jika dulunya yang dia rampas adalah teman-teman dekat Evania, sekarang pacarnya yang dirampas. Dan nanti, entah apalagi yang akan dirampasnya, haha.
Evania tertawa getir membayangkan kebodohannya jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Hanya gara-gara terlalu baik hati, pemaaf, dan tidak memiliki radar untuk mencurigai niat buruk orang.
Jenny.
Dia menyebut nama itu. Bisa saja Junita sekarang menggunakan sepupunya itu untuk mendekatiku, agar bisa merampas lagi kebahagiaanku, pikirnya.
Hm, jangan harap aku selugu itu lagi tertipu taktik busuknya. Dan meski Jenny menyatakan akan berpihak padanya, Evania tidak boleh percaya begitu saja. Karena, bisa saja itu bagian dari skenario si penghianat.
Oke, mulai sekarang, aku harus lebih tegas dan aware menghadapi orang-orang yang berhubungan dengan Gio dan Junita.
Hm, benarkah, Eva? Haha, entahlah. Lagi-lagi dia tertawa sendiri.
***
Evania baru selesai mandi. Dengan rambut basah dibalut handuk, dia duduk di sofa. Meraih ponsel dari meja kecil di depannya, lalu mengecek chat masuk. Memang, hanya ada satu. Tapi sudah cukup membuat tubuhnya lemas.
Mama Gio. Begitu tulisan di layar. Dari halaman notifikasi bisa dibaca sedikit isi chat itu : Eva, minggu depan Papa Gio ulangtahun..
Evania mengembalikan ponsel ke meja. Sama sekali enggan membuka chat itu lantaran sudah bisa menebak lanjutannya. Hanya saja yang membuatnya ragu adalah : apakah orangtua Gio sudah tahu perpisahan mereka?
Hm, anggap saja belum tahu. Tidak heran mereka masih mengundang dan berharap Evania hadir, seperti tahun sebelumnya.
Atau, kalaupun sudah tahu, bisa saja masih mengundang. Toh yang perang-dingin itu Evania dengan Gio, bukan dengan mereka. Terlebih mengingat hubungan baik mereka selama ini. Jadi, tidak ada salahnya masih mengundang Evania.
Hm, baiklah, anggap saja dua perkiraan itu benar. Lalu, yang jadi pertanyaannya, seandainya Evania hadir, posisinya sebagai siapa?
Sebatas tamu Papa Gio ataukah justru tamu Papa Gio merangkap mantan pacar putranya?
Ahaha.. Evania merasa konyol sendiri pikirannya bisa memunculkan pernyataan terakhir.
Apa-apaan, dia mengetuk kepalanya sendiri karena asal berpikir.
Lalu, sementara Evania masih berkutat dengan pikirannya perihal undangan itu, ponselnya berdering. Diliriknya layar sekilas.
Waduh, desahnya malas. Mama Gio sekarang menelepon. Pasti karena Evania mengabaikan chatnya.
Dari tempat duduknya, Evania bimbang. Antara menjawab panggilan itu atau didiamkan saja sampai senyap sendiri.
Jika pilihannya mendiamkan, berarti selama beberapa saat ke depan dia tidak boleh masuk ke beranda chat itu. Karena, well, Mama Gio bakalan terus bergerilya mengecek tulisan di samping foto profilnya, yaitu ‘terakhir dilihat pukul...’
Nah, begitu terbaca olehnya Evania masih aktif di sana, siap-siap saja ponselnya menjerit lagi, lagi dan lagi hingga akhirnya ia menyerah dan menjawab.
Yup, begitulah kelakuan wanita yang hampir menjadi mertuanya. Evania sudah sangat hapal.
Dulu, ketika masih pacaran dengan Gio, ibunda Gio itu ada kalanya mengirim chat yang isinya mengajak jalan-jalan berdua. Evania tentu saja wajib segera merespon ajakan itu.
Apabila saat itu Evania ternya sedang sibuk bekerja dan belum sempat cek ponsel, maka saat akhirnya membukanya, tulisan ‘panggilan tidak terjawab’ berikut chat masuk akan sangat banyak. Saat itulah ia harus menelepon beliau.
Dan ucapan pertama yang akan ditangkap pendengarannya begitu panggilan tersambung adalah : kamu kemana saja, Evania?
Dan sekarang, setelah hubungannya dengan Gio berakhir, Evania sepantasnya lega.
Karena gambaran menantu ditindas mertua otoriter telah terhapus dari benaknya. Yeah, setelah menjadi mantan, sepatutnya jangan mau diperlakukan semena-mena lagi.
Evania menunggu ponselnya berdering. Jika itu terjadi, berarti orangtua Gio belum tahu.
Ternyata, ponsel itu sungguh berdering. Itu artinya Gio belum memberitahu orangtuanya.
Agak lama, ia baru menjawabnya dengan menyalakan speaker.
Dan, tentu saja ucapan pertama dari seberang itu masih : “Kamu kemana saja, Evania?” Seketika suara cempreng khas ibu-ibu bawel memenuhi ruangan.
Evania meletakkan ponsel ke meja.
“Aku habis mandi, Tante.” Jawabnya lugas, tanpa embel-embel minta maaf seperti sebelumnya. Dan sudah pasti bakal membuat manusia di seberang sana terpana.
Benar saja. Mama Gio terdiam sesaat. Mungkin syok mendengar jawaban Evania yang beda dari biasanya.
“Oh. Kalau gitu, kenapa belum baca chat dari Tante?” cetusnya.
Seakan ada yang menggerakkan bibirnya, dengan ringannya Evania menjawab lagi, “Lha, ini juga baru keluar dari kamar mandi.”
Evania lalu merasa aneh sendiri. Hebat, pikirnya, ada kemajuan.
Setelah tak lagi berpacaran dengan Gio, dia jadi seberani itu menjawab ibunya dengan nada ngeyel. Seakan tiada lagi beban. Beliau mau marah, ya marah saja. Evania tidak akan pernah ke rumah mereka lagi.
Tiba-tiba saja Evania tertawa girang tanpa suara. Baguslah, posisinya sekarang akan digantikan Junita. Biar saja nanti dia yang merasakan bagaimana diperlakukan semena-mena oleh Mama Gio, calon mertuanya.
Fakta ini sedikit mengurangi kedongkolan di hati Evania pasca ditikung teman jahatnya itu.
Eh, suara di ujung ponsel itu ternyata terdiam lagi. Mungkin untuk kedua kalinya syok mendengar jawaban Evania yang makin berani.
Dan baru saja terdengar Mama Gio hendak berkata, terdengar suara Papa Gio di dekatnya : sudah, Ma, jangan galak-galak pada Eva, nanti dia kabur. Diakhiri dengan kekehan khas beliau.
“Sudah kabur pun, Om,” Evania bergumam jahil, yang ternyata didengar mereka.
“Apa, Eva?” itu suara Papa Gio. Kekehan berubah resah. “Kamu bilang apa tadi?”
Hm, mungkin sudah saatnya memberitahu mereka, pikir Evania. Supaya aku tidak perlu ke acara mereka. Tapi, perlukah ia sejujur itu mengaku kalau hubungannya dengan Gio dibubarkan orang ketiga?
Lantas, bagaimana reaksi mereka nanti? Kasihan pada Evania, ataukah justru mendukung keputusan putranya menggantikannya dengan perempuan lain yang menurut mereka lebih berkualitas?
“Maaf, Om, Tante, aku dan Gio sudah putus.” Bibir dan pikiran Evania ternyata tidak sinkron.
Sementara pikirannya masih ragu, bibirnya justru meluncurkan kata-kata itu dengan sangat lancar. Beres sudah. Sekarang tinggal menunggu respon kedua orang di seberang sana.
Sesuai prediksi Evania, orangtua Gio cukup, eh, lebih tepatnya, sangat kaget mendengar info itu. Keduanya bahkan berteriak heboh, meneriakkan kalimat : jangan bercanda, Eva, kami tidak suka mendengarnya!
Namun Evania yang terlanjur memuntahkan informasi itu tak lagi peduli mereka percaya atau tidak.
"Maaf, Tante, Om, aku nggak akan hadir di pesta Om." Begitu dia memberanikan diri mengutarakannya.
Lalu, akankah dia dilepas begitu saja?