Kata-kata ringan tanpa beban Evania ternyata mengubah wajah ibu Gio menjadi masam.
"Jadi, secepat itu kamu melupakan Gio?" semburnya, tersinggung. "Kalian pacaran hampir tiga tahun lho, Eva, tidak sepantasnya secepat itu melupakan Gio."
Evania mengernyitkan dahi. Hebat sekali ibu ini, batinnya. Sudah cerewet dan egois, sekarang tambah lagi tukang ngatur. Bisa-bisanya melarang orang melupakan anaknya secepat itu.
Eva, Eva, tidak ada lagi alasanmu untuk tidak segera move on. Segeralah, bersihkan pikiran dan dirimu dari keluarga ini.
Baiklah, kamu sudah move on dari kemarin.
Dan mungkin inilah kesempatan Evania untuk benar-benar putus hubungan dengan keluarga Gio. Sungguh-sungguh lepas dari mereka. Dengan begitu, dia bisa terbebas dari undangan Papa Gio.
Karena, mereka sudah terlanjur membencinya, mana mungkin mengundangnya lagi.
“Lalu, menurut Tante, harus berapa lama baru boleh melupakan dia?" Evania melontarkan pertanyaan ini dengan nada santai, meski sebetulnya mulai kesal.
Tapi, menghadapi manusia seperti beliau ini, harus pakai trik khusus. Bukan karena takut, tapi lebih ke waspada saja.
Karena, mereka sedang di kafe, tempat umum, yang ramai. Bisa gawat kalau beliau mengamuk dan berteriak-teriak histeris, muntahin sumpah-serapah. Dan para tamu tinggal mengarahkan kamera ponsel masing-masing.
Lalu dalam hitungan detik, Evania pun terkenal. Wajah cantiknya akan terpampang jelas di layar ponsel orang-orang dengan beragam caption : kasihan, dimarahi mertua. Kasihan, dilabrak mertua, dan sebagainya sebagainya.
Mama Gio melipat kedua lengan di meja. "Yah, tidak ada waktu tertentu, cuma jangan secepat itu juga. Anak Tante itu, meskipun salah, harusnya masih ada di hatimu, kan, Eva? Janganlah secepat itu lupakan dia.”
Beliau menambahkan, “Tante tidak mau saja dia menjadi orang yang tidak penting lagi buat kamu. Karena, Gio adalah anak Tante satu-satunya.Tante ingin semua orang menganggapnya penting. Seperti Tante dan Om yang menganggapnya penting, sangat penting."
Hah? Dalam hatinya Evania menganga. Ampun, deh, ampun. Ada ya manusia seperti ini. Ada, dong, Ev. Nih, di hadapanmu salah satunya.
Baiklah, ketika masih pacaran dengan anaknya, ibu ini terang-terangan menunjukkan sifat semena-mena, masih bisalah ditolerir. Tapi ini, memaksa orang untuk menganggap anaknya penting? Sungguh berlebihan.
Untung saja aku sudah putus dengan anaknya. Gimana kalau beneran jadi menantunya? Bisa ditindas habis-habisan.
Pokoknya, keluarga ini benar-benar harus kukeluarkan dari hidupku, tekad Evania.
***
Empatpuluh lima menit kemudian, Evania melangkah dengan ringan menuju kantor. Spaghetti Aglio Olio kesukaannya telah bersemayam di dalam perutnya.
Dan tadi, Evania bersikeras membayari bill makan mereka. Agar ia tak berhutang apa-apa pada ibu Gio. Karena jika iya, sewaktu-waktu bisa dijadikan senjata untuk bertemu lagi.
Tuntas sudah, gumam Evania lega. Mulai saat ini aku sudah harus steril dari mereka. Masa lalu bersama mereka juga harus dihapus dari pikiranku. Dari hidupku.
Ah, iya. Berhubung target sudah muncul dan aku telah sukses menghadapinya, cutiku sepertinya sudah tidak diperlukan. So, sebaiknya dibatalkan saja. Dengan begitu, stok cutiku masih utuh untuk healing nanti, hihihi.
Tiba di kantor, Evania segera melesat ke mejanya. Sambil menaruh dompet dan ponsel di laci paling atas, ia mengarahkan mata kepada Mila yang sedang menelepon di ponsel.
Mila memberi isyarat kepada Evania agar menunggu sebentar.
Mata Evania beralih ke ruangan bos. Kosong. Beliau belum kembali dari acara makan siangnya. Good. Masih bisa ngobrol dengan Mila, bahas hasil pertemuannya dengan Mama Gio tadi.
Kemudian, begitu obrolan di ponselnya usai, Mila bertanya dengan antusias.
"Sudah selesai, Mil," jawab Evania dengan nada lega, senang, dan posisi kedua lengan di dada. "Terhitung sejak hari ini, seluruh keluarga Gio dipastikan terhapus dari pikiran dan diriku."
Mila sempat ikut senang, namun sesaat kemudian berubah ragu. "Tapi serius, ibunya nggak bakal datang cari kamu lagi?"
"Iya, semoga." Evania mengangguk pasti.
"Itu artinya, undangan ayahnya juga batal?"
"Iya," Evania mengangguk lagi, disertai senyum lega, "Aku hebat, kan?"
Mila mengacungkan jempol kanan. "Yup, mantap. Tapi kamu harus cerita ya, gimana caranya bikin ibunya takluk? Seingatku, kamu pernah bilang beliau itu cerewet dan otoriter."
"Yoi, beliau memang otoriter dan cerewet," Evania duduk di kursi kerjanya yang beroda, lalu bergerak mendekati Mila. "Tapi itu kan dulu waktu aku masih sama anaknya. Aku milih patuh biar nggak konflik. Kalau sekarang nggak perlu sungkan lagi. Satu per satu ucapannya aku kembalikan, aku balas.”
Evania menambahkan dengan penuh semangat, “Tadi itu dia hampir meledak, Mil. Mukanya sudah merah dan siap-siap menyemburku." Tertawa tanpa suara dan menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Merasa kocak membayangkan kembali wajah murka ibu Gio di kafe tadi.
Mila makin penasaran. "Terus, terus?"
Baru saja Evania buka mulut, matanya menangkap sosok bos mereka yang baru keluar dari lift.
"Ssst, bos datang," bisiknya lalu kembali ke mejanya.
"Oke, lanjut nanti," bisik Mila.
Evania mengacungkan jari tanda oke kepada Mila.
***
Dan malamnya, ketika sudah berbaring di ranjang dan siap tidur, Evania iseng mengecek beranda chat. Foto profil Mama Gio terlihat kosong, alias menghilang.
Aku diblokir, Evania tersenyum geli. Lalu scroll lagi. Dan menemukan foto profil Papa Gio. Beliau belum memblokir Evania.
Mungkin istrinya belum memberitahu pertemuan hari ini, pikir Evania. Tapi, tidak mungkin juga. Tipe seperti ibu Gio mustahil menyimpan sendiri hal yang membuatnya marah. Bahkan, bila perlu, saat itu juga ia menelepon suami dan anaknya untuk melapor.
Pokoknya, semua orang harus tahu, termasuk seluruh tetangganya, kalau dirinya sedang marah besar kepada mantan pacar anaknya.
Lalu, Papa Gio kenapa tidak memblokir nomor Evania? Entahlah, Evania tidak berani menebak alasannya.
Merasa capek dan ngantuk, ia membisukan ponsel, meletakkannya di ujung meja rias agar tidak terlalu dekat dengannya karena ponselnya dalam kondisi hidup.
Ini adalah kebiasaannya ketika orangtuanya sedang tidak di rumah, membiarkan ponsel dalam kondisi hidup. Tujuannya kalau terjadi sesuatu, orang-orang bisa mengabarinya.
Dengan posisi telentang, ia mencoba memejamkan mata. Namun dibukanya kembali. Menatap plafon. Suasana kamar ini dan juga di luar sana sangat sunyi. Benar-benar tiada suara apapun. Hanya sesekali terdengar suara tanda kehidupan di balik tembok, rumah tetangganya. Selebihnya sunyi senyap.
"Bagi saya, Tan, Gio sudah jadi masa lalu, jadi sepantasnya dilupakan." Begitu Evania menegaskan ketika di kafe, siang tadi.
Dan sudah pasti sukses mendatangkan murka di wajah bulat Mama Gio. Siap menyemburkan lagi kata-kata khasnya yang berbau egois.
Mama Gio membuka mulut, hendak meluncurkan kata-kata, namun urung karena waiter muncul, mengantar makanan mereka.
Pikiran Evania kembali ke masa kini. Setelah menghela nafas, ia merasa plong. Lega, benar-benar lega karena sudah terlepas dari keluarga Gio.
Kisah yang ditulisnya ketika bersama mantannya akhirnya tuntas. Dan sekarang waktunya ditutup. Disimpan di peti kemas, lalu menggemboknya.
Seperti inilah istilah yang dia gunakan untuk menggambarkan berakhirnya hubungannya dengan Gio beserta keluarganya.
Besok adalah hari baru. Akan kumulai lagi dari awal kisah asmaraku selanjutnya, tekadnya.
Eh, maksudnya, kalau ada cowok dengan tipe yang sesuai dan berhasil menarik perhatianku, hehe, koreksinya.
Tapi saat ini kandidat masih si Edward, Ev, gimana, dong?
Kalau gitu, yah tunggu lagi aja sampai muncul sosok yang benar-benar bisa bikin aku jatuh cinta, tekadnya.
***