“Kita bertemu lagi di nikahan teman kalian,” Jenny mengingatkan. “Waktu itu Junita ngajak aku. Kamu datang bersama pacarmu. Ingat, nggak?”
Evania mengingat-ingat. “Ada, ya? Kenapa nggak ingat, ya?”
Jenny mengibas tangan kanannya. “Sudah, nggak perlu diingat lagi,” selanya, tertawa. “Intinya aku bertemu dia di sana.”
Evania mengulum senyum. “Iya ya, nggak penting juga.”
Tapi belakangan ia baru menyadari kalau masalah itu sangat penting. Karena itu adalah cikal-bakal hubungan diam-diam Gio-Junita dimulai, yang lalu berkembang tanpa sepengetahuan dia.
Betul,” ujar Jenny, lalu mulai bercerita,
“Nah, kemarin aku ke rumah Junita. Ada cowok di sana. Tumben, pikirku. Akhirnya dia punya pacar. Kebetulan Junita sedang mandi. Muka cowok itu nggak asing. Mama Junita bilang, itu pacar Junita, mantan pacarnya Evania.”
Lalu menurut Jenny, wanita enampuluhan itu dengan penuh semangat dan bangga berceloteh betapa putrinya hebat bisa merebut pacar temannya. Dari beliau juga, Jenny jadi tahu kalau mereka serius dan bakalan menikah.
Dan sepanjang celotehan tantenya itu, dalam hati Jenny mengelus dada. Tidak menyangka kerabatnya bisa ‘segila’ ini. Sebelum pulang, menurutnya, ia sempat mengatakan satu hal yang membuat tantenya itu marah.
“Aku bilang seperti ini, jaga baik-baik hasil rampasan. Cowok yang gampang berpaling, di kemudian hari juga bisa saja melakukannya lagi.”
“Ya, semoga saja beneran terjadi, biar Junita tahu rasanya dirampas.” Evania menimpali ketika Jenny telah menyelesaikan ceritanya.
“Ya, semoga saja,” Jenny mengamini. Lalu berkata lagi, “Meski dia sepupuku, aku benar-benar jijik dengan kelakuan dia. Kalau saja papanya tahu, dia pasti diomelin habis-habisan. Beliau paling benci orang yang menusuk teman dari belakang.”
Diam sejenak, menggosok hidung sambil mengatur kata-kata agar tidak menyinggung Evania.
“Hm, Eva, itu.. tujuanku ke sini sebenarnya bukan untuk minta maaf. Aku disuruh Junita untuk memantau kondisi kamu. Dia ingin sekali tahu kalau kamu hancur."
Jenny menghela nafas frustasi. "Lihat, jahat sekali dia. Aku terpaksa datang karena aku berhutang budi padanya. Tapi... sewaktu lihat kamu ternyata baik-baik saja, bahkan masih ramah padaku, aku jadinya harus minta maaf.”
Evania ikut menghela nafas, lalu tersenyum. Ingat chat Junita tadi siang.
“Dugaanku benar," ucap Evania. "Tadi itu dia pasti menunggu dengan kesal lantaran chatnya belum aku respon. Dan saking penasarannya, dia sampai perlu mengutusmu ke sini, Jen.”
Mendengar itu Jenny lagsung membeku. Diam saja, tidak tahu mesti berkata apa lagi. Sepupunya itu benar-benar memalukan. Tidak beradab. Dan sungguh jahat.
Kedua tangan Jenny mendorong rambutnya ke belakang. “Aku kehilangan kata-kata, Eva. Nggak tahu lagi mesti bilang apa. Bisa-bisanya dia begitu. Berarti tujuannya merebut pacarmu bukan karena cinta, tapi ingin kamu hancur.”
Evania mengangkat bahu dengan acuh. “Entahlah. Biarkan saja dia. Nanti juga kena batunya. Sekarang kamu pulang. Lapor ke dia kalau aku baik-baik saja. Nggak hancur sama sekali. Ambil saja cowok nggak setia itu. Bagiku nggak ada ruginya ditinggalkan dia. Semoga mereka nggak muncul di depan mataku lagi.”
“Tapi, kalau kamu diundang waktu mereka nikah, gimana?” tanya Jenny polos.
“Soal itu, nanti saja dipikirkan lagi,” jawab Evania malas, padahal jauh di dalam hatinya ia agak ragu, karena dipastikan enggan hadir.
Bukan karena enggan melihat pria yang pernah bersamanya bersanding dengan teman baiknya. Bukan itu, karena toh dia sudah move on. Ehem, benarkah?
Entahlah, dia sendiri sebenarnya ragu akan hal itu. Namun, bukankah dia sudah tenang, perasaannya tidak kalut. Seolah semuanya baik-baik saja. Bedanya hanya, Gio takkan pernah datang lagi menjemputnya di kantor.
Oke, balik ke soal undangan. Sebenarnya dilema juga. Andai absen, pasti disangka hancur. Si cewek jahat bakalan kegirangan karena sudah menang. Nah, kalau datang, bakalan dipermalukan di depan para tamu.
Tapi, yah, sudahlah. Masalah itu nanti saja dipikirkan lagi. Saat tiba waktunya, pasti ada solusinya. Belum perlu dipusingkan sekarang.
Hm, bisa saja waktu itu aku sudah punya gandengan baru, haha. Evania menahan tawa membayangkan yang di benaknya sungguh terjadi.
"Yeah, bisa saja sebelum itu aku sudah punya pacar baru, dan tinggal mengajaknya ke sana. Mau lihat bagaimana reaksi mereka, hehe." ucap Evania, mengeluarkan isi pikirannya.
"Ya, semoga saja, Eva," senyum Jenny. "Aku juga kepingin lihat wajah si Junita waktu kamu datang menggandeng pacar baru. Kalau bisa yang ganteng sekalian, haha."
Keduanya terbahak.
"Tapi aku percaya sih, Ev, kamu bakalan cepat dapat pengganti," tambah Jenny. "asalkan kamu bersedia membuka hati lagi. Kamu cantik dan menarik. Aku kalau jadi cowok juga pasti ngejar kamu. Serius. Mantanmu saja yang b**o, udah dapat yang bagus, malah diganti yang kayak Junita." Tertawa dengan membekap mulut.
"Huss," Evania menepuk pundak Jenny. "Mungkin mantanku baru sadar, lebih cocok dengan yang posesif kayak Junita. Biar bisa diatur-atur dan dicariin tiap saat. Isi ponsel dipantau terus. Nggak kayak aku yang santai saja. Telat jemput juga cuek saja. Nggak diajak ngedate juga nggak protes, hehe."
"Iya, Ev, biasalah harus ada perbandingan dulu baru sadar kalau sudah membuang emas permata, haha." timpal Jenny.
Evania tertawa malu, "Aku nggak sekemilau itu lah, Jen."
Keduanya tergelak.
"Kemarin aku baru ingat, Jen," kata Evania. "Dulu itu, waktu masih sekolah, si Junita juga pernah merampas teman-teman dekatku dengan cara memfitnahku. Mungkin cara itu juga yang dilakukannya untuk mengambil mantanku."
Jenny mendengarkan dengan memiringkan kepala. "Tapi, Ev, sudah tahu begitu, kenapa kamu masih mau berteman dengannya?"
Evania menghela nafas, "Itu karena dia langsung minta maaf setelah ketahuan. Dan beralasan dia melakukannya karena pengen punya banyak teman juga. Lalu berjanji nggak akan begitu lagi. Nah, setahun belakangan, saat bertemu di reuni, dia minta nomor kontakku, dan mulai dekatin aku lagi. Aku pikir dia sudah tobat. Ternyata......haiss, sudahlah. Anggap saja aku yang kelewat naif dan bodoh, gampang percaya, hehe."
"Dia dari dulu emang udah jahat, Ev," timpal Jenny. "Pintar aja manipulasi lawan bicara dengan masang tampang lugu, padahal culas, licik. Kami para sepupu juga sudah sangat hapal karakternya." Diam, melirik jam tangan di lengan kirinya. "Gini aja, Ev, kalau dapat info lagi tentang dua musuhmu itu, aku akan kasih tahu kamu lagi." Memakai helm. "Meski si Junit adalah sepupuku, aku akan di pihakmu, Eva. Karena aku nggak suka sikapnya." Duduk di atas motor. "Oke, ya, Eva, aku jalan dulu."
"Baik, Jen, hati-hati," ucap Evania. "Makasih infonya."
Jenny mengangguk lalu mulai meluncur pergi bersama motornya. Evania hanya bisa memandangi punggung gadis itu dengan menghela nafas.
Untuk saat ini, Evania agak sulit percaya lagi dengan yang namanya teman.