Pagi lagi, di kantor.
Evania sedang mengerjakan tugas di mejanya ketika Chat di WhatsApp berbunyi. Diliriknya layar ponsel sekilas. Darahnya langsung mengalir deras.
Junita!
Setelah aliran darahnya kembali normal, Evania membaca dari layar depan notif tersebut. Tulisan : ‘Maaf, Eva’. Berikut emotion dua telapak tangan ditangkupkan.
Evania mendengus. "Maaf palsu," gumamnya kesal. "Paling juga mau mengejek. Sori, ya, kau terpaksa kecewa. I’m oke, nggak hancur.”
Mila yang mendengar gumaman Evania lantas menoleh dari mejanya. “Ev, sedang bicara dengan siapa?”
Evania mendekatkan kursinya ke Mila. Memperlihatkan layar ponsel berisi chat Junita itu, “Nih, Mil.”
Mila memicingkan mata untuk membacanya. “Itu si cewek jahat?”
Evania menganggguk. “Minta maaf dia. Palsu. Padahal cuma ingin mengejek sekalian mantau kondisiku hancur, nggak. Dasar busuk hati.”
“Emang tuh. Merasa menang dia,” Mila menimpali dengan dongkol. “Kamu nggak blokir dia?”
Kali ini Evania menggeleng. “Nggak perlu. Menurutku chat dia pasti untuk mengetesku sudah blokir dia atau belum. Kalau aku blokir, tambah girang dia. Karena itu artinya aku hancur, dan dia menang.”
Mila mengangguk-angguk setuju. “Benar, benar. Cuekin saja. Ee, tapi kalau dicuekin dia juga bakalan anggap kamu hancur, Ev.” Berdecak bingung. “Bagusnya diapain, ya?”
Evania duduk. Membuang nafas. “Sementara ini dicuekin saja. Aku juga nggak akan masuk ke WhatsApp dulu, supaya dikiranya aku sedang sibuk. Nggak sempat lihat pesan.”
Pembahasan tentang Junita berakhir ketika ponsel Mila berdering. Evania melanjutkan kerja. Namun benaknya masih dipenuhi isi chat dari si perampas.
Enak saja tinggal minta maaf, gumamnya dongkol. Andai semua wanita setelah berhasil merebut suami atau pacar orang lalu semudah itu dimaafkan dan dianggap tidak bersalah, maka akan semakin banyak bermunculan pelaku lain.
Tapi, Evania menghentikan tangannya mengetik komputer, kembali membatin bingung.
Waktu itu Gio bilang Junita lebih membutuhkannya ketimbang aku. Kenapa juga Gio perlu melindungi dia? Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara mereka, di belakangku? Eeee, masalah ini kenapa tidak terpikirkan olehku?
Sementara Evania mencoba mencari jawaban, berpikir keras kesalahan apa yang telah dia buat sehingga Gio bisa semudah itu berpaling, Mila mencolek punggungnya.
“Ev, kamu jangan lupa kabari Kak Farida kalau sore ini numpang mobilnya.” Mila mengingatkan dengan suara rendah. “Barusan aku lihat dia masuk ke ruangan bos. Moga-moga sore ini dia pulang on time. Kalau nggak, kamu harus naik bus.”
“Eh, iya, Mil, makasih sudah ingatin.” Serpihan puzzle berisikan teka-teki yang berseliweran di benaknya seketika lenyap. Namun akan dilanjutkan nanti di rumah. Pokoknya dia harus menemukan jawabannya.
Tidak mungkin Gio bisa berpaling begitu saja tanpa alasan, Toh, selama hampir tiga tahun ini mereka jarang bertengkar. Karakter mereka bisa dibilang cocok. Sama-sama bukan tipe yang suka mengatur. Komunikasi juga lancar-lancar saja. Intinya, hubungan mereka sehat.
Kalaupun bertengkar, biasanya selesai dalam waktu singkat. Paling lama juga hanya bertahan satu hari. Setelah itu biasanya akan berbaikan begitu saja ketika salah satunya menyapa atau mengajak bicara.
Dan yang terpenting, seingat Evania, Gio bukan tipe cowok yang mudah bercengkerama dengan cewek lain, terlebih orang yang baru dikenalnya. Termasuk Junita.
Eh, tapi pengecualian ya ketika dia pertama kali bertemu aku, hihi. Evania tertawa geli saat ingat momen itu lagi.
Tapi yah tidak tahu juga. Manusia bisa berubah. Atau, sebenarnya bukan berubah. Hanya saja sisi lainnya yang belum diperlihatkan.
Aku tahu masalah ini tidak penting lagi, pikir Evania. Tapi setidaknya aku perlu tahu penyebabnya, bukan? Karena, biar bagaimanapun, Gio itu cowok yang pernah kucintai. Cowok yang pernah bersamaku. Juga cowok yang pernah kupikir bakal menjadi pasangan hidupku, kelak.
Menyadari dia sudah menjadi milik wanita lain, tentu saja dadaku terasa sakit. Ini sesuatu yang normal, bukan? Hanya saja aku tidak perlu menangisi mereka.
Bola mata Evania menangkap sesosok perempuan yang sedang melintasi mejanya menuju pintu. Tersentak, ia bangkir berdiri.
“Kak Farida, sore ini kalau kakak pulang ontime, aku numpang, ya.”
***
Evania turun dari mobil kantor yang dikemudikan Farida, yang memang melewati kompleks perumahannya.
Sebelum hubungannya dengan Gio berakhir, Evania terkadang menumpang mobil Farida ketika mantannya itu sedang tidak bisa menjemputnya. Dan sekarang, ia mungkin akan selalu ikut pulang bersama Farida apabila sang marketing pulang tepat waktu.
Hitung-hitung bisa hemat ongkos, plus tak perlu desak-desakan dengan orang-orang di Transjakarta. Seperti yang dialaminya saban pagi ketika berangkat kerja.
Karena itulah, demi praktis dan nyaman ketika berada di transportasi umum, Evania selalu memakai celana panjang, jeans ataupun bahan. Dipadu kemeja. Dan untunglah Bu Risna tidak mengharuskan para karyawan menggunakan pakaian tertentu ketika di kantor. Bebas saja, yang penting tidak vulgar.
Saat ini Evania mulai berjalan kaki menuju rumahnya, sekitar satu kilometer dari gerbang utama. Dia memberi salam kepada sekuriti.
Lalu, masih tersisa beberapa meter lagi menggapai rumahnya, bola matanya menangkap sesosok manusia yang mengenakan helm, duduk di atas motor matic, di depan pagar rumahnya.
Langkah Evania melambat, sambil memicingkan mata. Memastikan sosok perempuan yang lalu menoleh ke arah Evania yang mendekat.
“Evania!” panggilnya dengan suara tinggi. Kegirangan karena orang yang ditunggu akhirnya muncul.
Evania mengingat-ingat si pemilik suara. “Maaf, siapa, ya? Apa aku kenal?”
Perempuan itu melepaskan helm dan menghampiri Evania. Rambut ikalnya sedikit berantakan. Tubuh yang sedikit berisi itu memakai celana jeans model 7/8 yang bolong sana-sini dan jaket denim. Plus sepatu kets putih.
“Sudah lupa ya, aku Jenny, sepupu Junita.” Jenny nyengir. “Kita pernah jalan-jalan bertiga.”
Evania ingat. “Ah, iya, Jenny, aku ingat. Yang waktu itu kita hujan-hujanan masuk taksi, kan?”
Jenny tertawa lega karena Evania ternyata masih ingat. “Iya. Masih ingat saja adegan kacau itu, haha.”
Evania ikut tertawa. “Pasti diingat terus karena kocak banget.”
Selama beberapa detik keduanya tertawa geli mengingat kembali insiden kecil yang dialami mereka bertiga, setahun silam. Betapa mereka bergembira meski basah kuyup dan kaki Junita sempat terpeleset ketika membuka pintu taksi.
Namun detik berikutnya keduanya kompak bungkam. Saling memandang.
Seketika adegan hujan-hujanan itu seolah berubah hitam-putih di benak mereka. Kenangan yang tadinya indah dan menyenangkan seketika ikut berubah kelam. Suara tawa mereka bertiga juga seketika ikutan lenyap.
Jenny menjilat bibir, mencari kata-kata tepat, lalu menghela nafas. Helm di tangannya dipindahkan ke spion motor.
“Junita keterlaluan,” Begitu akhirnya kata yang terlontar dari bibirnya. Lalu menambahkan, “Aku benar-benar malu dengan kelakuan dia, Eva.”
Jenny memandang Evania dengan ekspresi sesal. “Aku ke sini mau minta maaf. Benar-benar nggak nyangka selama ini dia ternyata terus mendekati pacarmu.”
“Mantan pacar.” Evania mengoreksi dengan cepat.
“Eh, iya, maksudku itu,” ralat Jenny, kikuk.
Meski hal memalukan itu bukan dilakukan olehnya melainkan sepupunya, kelihatan sekali dia benar-benar malu. Sungguh seorang sepupu yang menjaga nama baik keluarga besar.
“Tapi, Jen, tahu darimana itu mantanku?” Evania baru ingat Jenny sepertinya belum pernah bertemu Gio. Seingatnya, setelah jalan-jalan bertiga, mereka tidak pernah bertemu lagi.