Evania sengaja meminta driver taksi berhenti di depan gerbang perumahannya agar bisa berjalan kaki menuju rumahnya, sembari merenungkan apa yang terjadi di rumah Melly tadi.
Sudah hampir jam sembilan.
Tadi itu, setelah dari kafe, ia berpindah ke resto ramen. Jaraknya beberapa ruko dari kafe.
Sambil menikmati ramen, dia membuka salah akun medsosnya dan menemukan foto terbaru dari Mila yang tengah mengecup suaminya.
Evania tersenyum tipis, bergumam, “Beruntung sekali Mila. Sudah menemukan cinta sejati, dan dicintai dengan tulus. Sedangkan aku, pacar saja kabur dengan sahabat. Dan tadi, masih diusir cowok yang akan dicomblangkan ke aku. Komplit sudah.”
Sekarang, Evania hampir menggapai rumahnya. Dia berhenti. Memandang ke arah pagar rumahnya.
Seolah bisa melihat saat dia turun dari mobil Gio yang berhenti di depan rumahnya. Sementara ia membuka gembok pagar, Gio menenteng tas belanjaan. Keduanya tampak bahagia, sambil sesekali melempar canda dan tawa.
Mata Evania terpejam. Gambaran itu lenyap. Padahal ia telah berkali-kali menegaskan kalau sudah move on. Tapi nyatanya gambaran masa lalu bersama Gio masih muncul di benaknya.
Evania seakan kembali ke masa dimana ia bisa menggandeng lengan Gio, menyandarkan kepala di pundaknya. Memeluk pinggangnya. Memeluk tubuh yang tidak terlalu tinggi itu. Bercengkerama, bercanda, tertawa bersama.
Dan sekarang, pria itu telah menjadi milik perempuan lain.
Paras Gio bisa dibilang biasa saja. Karakternya juga tidak terlalu kuat. Bahkan cenderung plin plan. Dan sedikit ceroboh.
Namun dia lumayan penyabar. Nada bicaranya juga cenderung datar namun tidak kasar. Outfit favoritnya celana jeans dipadu kaos yang dimasukkan ke celana. Selalu memakai sepatu kets putih.
Tiga tahun silam, Evania berkenalan dengan Gio di sebuah food court.
Evania sendirian lantaran temannya sudah pulang duluan. Lalu dengan baki berisi sepiring mie goreng, ia menemukan satu meja untuk dua orang yang telah ditempati seorang pemuda. Meja lainnya telah terisi.
Tanpa malu, Evania menumpang di meja itu setelah diijinkan pemiliknya. Lalu menitipkan makanannya ke si pemuda untuk membeli minuman.
Setelah kembali dengan segelas es teh, Evania mengucapkan terima kasih kepada si pemuda bernama Gio itu. Detik berikutnya, keduanya mulai membuka obrolan ringan sebelum akhirnya saling mengenalkan diri.
Kehadiran Evania seakan mengobati rasa kecewa Gio setelah kopdarnya dengan seorang gadis gagal. Paras cantik dan karakter ceria Evania dengan segera menarik perhatian Gio. Lalu mengajaknya pindah ke kafe agar bisa mengobrol lebih lama...
Evania membuang nafas dengan berat. Gambaran tadi telah lenyap di benaknya. Ia telah berada di kamarnya.
Ia baru selesai mandi dan memakai piyama. Potongan demi potongan gambaran masa lalunya saat bersama Gio kembali berlanjut di benaknya.
Dan seperti tadi, ia membiarkan saja. Hitung-hitung mengenang kembali masa-masa itu sebelum nanti benar-benar dia hapus dari ingatannya.
Setelah itu, dia akan melihat sosok Gio sebagai stranger, orang asing, yang tidak dikenalnya. Dengan begitu, ia tidak akan lagi terjebak di dalam lingkaran masa lalu yang hanya akan membuatnya tidak bahagia.
Dan, masa lalu yang akan dihapusnya itu tentu saja tidak termasuk adegan pengkhianatan Gio dan Junita, ha-ha. Evania tertawa sendiri.
Yang mau kuhapus itu cuma adegan bersama Gio. Karena pemuda itu bukan siapa-siapaku lagi. Tidak baik menyimpan kenangan bersama pasangan orang lain.
Evania duduk di meja rias, menyisir rambut basahnya. Memandangi wajahnya di cermin.
“Padahal aku cantik, hahaha.” Lagi-lagi ia tertawa sendiri dengan perkataannya. “Jaman sekarang, cantik nggak cukup, Eva. Kamu harus agresif dan genit menggoda. Cowok akan takluk dan nggak berdaya kalau bertemu species seperti itu.”
Ia mulai mengeringkan rambut dengan hair dryer. Lalu mematikannya lagi. “Ah, iya, satu lagi. Harus bisa playing victim, drama queen, dan si tukang kompor.”
Yeah, cara itulah yang mungkin digunakan Junita untuk merampas Gio dariku, pikir Evania.
Dan entah ‘racun’ apa yang disebarkan Junita tentang dirinya kepada Gio. Yang pasti segala hal yang berhubungan dengan Evania dipelintir agar terlihat buruk.
Tak heran Gio bisa berpaling begitu saja. Padahal pemuda itu mencintai Evania. Dan sangat melindungi serta peduli padanya. Bahkan mulai mengumpulkan dana untuk menikahi Evania, kelak. Sudah juga membayangkan bagaimana kehidupan mereka di masa depan.
Tapi semua itu pupus setelah Junita melancarkan misinya.
Yeah, yang akan dinikahi Gio nanti adalah Junita. Mereka mungkin telah merencanakan pernikahan, atas desakan Junita. Agar supaya Gio tidak berubah pikiran dan kembali kepada Evania.
Begitulah cara kerja para perampas pasangan orang.
Hm, mendadak saja Evania ingat sesuatu. Iya, kenapa aku sampai melupakannya, pikir Evania mulai mengisi benaknya dengan kisah lama. Semasa dirinya masih seorang pelajar. Waktu itu, Evania mendadak dijauhi beberapa teman akrabnya. Belakangan dia akhirnya tahu ternyata dia difitnah oleh Junita. Hm, pasti cara itu lagi yang dilancarkan perempuan jahat itu sekarang.
Tapi biarlah, nanti saja dibahas lagi. Sekarang aku hanya perlu menemukan 'pacar baru' sebelum mereka mengundangku.
Jika sampai hari itu tiba dan sosok itu belum ada, palingan saya rental pacar, hehe, tertawa dengan membekap mulut.
Lalu, sosok Edward melintasi benaknya dan langsung ditepisnya.
“Yang ini dicoret. Manusia angkuh nggak punya sopan santun.” Ia menguap. "Kalau yang satu lagi, lebih lagi nggak mungkin. Muncul dan hilang begitu saja."
Yah, sudahlah, cukup untuk hari ini. Besok baru lanjut.
Dan dalam tidurnya, adegan diusir Edward terulang kembali.