Beberapa saat kemudian, Evania sedang berjalan dengan langkah panjang menuju gerbang. Dan sempat kehilangan arah, antara belok ke kiri atau kanan. Beruntung ada security yang melintas dengan motor.
Setelah security memberitahu arah yang benar, Evania mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan jalan dan akhirnya menemukan gerbang utama.
Dalam hati dia berharap mobil Tante Melly belum melintas saat dia nanti berdiri di depan cluster ini, di depan gerbang. Untuk memesan taxi online.
Lalu menyadari sekeliling ternyata ruko-ruko, dan berpindah ke sebuah kafe. Untuk meneguk es teh manis, karena haus. Sekaligus menurunkan hawa panas di dirinya setelah diusir manusia angkuh.
Panggilan di WhatsApp berdering. Dari Tante Melly.
“Iya, Tante Mel,” jawabnya dengan suara pelan. “Oh, saya sudah di taxi, Tan.”
Ia terpaksa berbohong.
"Oh, kalau masih dekat, biar Tante jemput kamu lagi," ujar Melly. "Kamu kenapa pergi begitu saja, Eva?"
“Maaf, Tan, aku baru ingat ada urusan,” bohongnya lagi. “Tadi buru-buru, jadi lupa ngabari Tante.”
"Sayang banget, ya, timingnya kurang tepat," keluh Melly, masih di ujung telepon. "Padahal Tante sudah belanja banyak bahan masakan untuk menjamu kamu, Eva. Rencana Tante tadi, nanti Edward yang akan antar kamu pulang."
Mendengar nama Edward, rasa kesal itu muncul kembali. Tapi Evania diam saja mendengarkan keluhan Melly.
"Tapi nggak apa-apa, lain kali Tante undang kamu lagi, dan kali itu harus berhasil," Barulah Melly terkekeh. Lalu kembali mengeluh, “Sayang sekali kamu belum bertemu Edward. Tapi Tante pasti akan atur lagi pertemuan kalian. Tunggu saja ya, Eva."
Setelah panggilan terputus, Evania bergumam, “Siapa bilang kami belum bertemu, Tan. Anak Tante ternyata angkuh sekali. Kayaknya aku batal kenalan dengannya.”
Evania menghela nafas. Pertanyaanku tentang kemana harus mencari 'pacar baru' itu ternyata langsung dijawab, pikirnya. Dan bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Mantap, kan? Yang pertama, sesosok pria misterius, lalu yang kedua, si manusia angkuh. Dan, dua-duanya memberi kejutan padaku dengan muncul tiba-tiba. Namun sosok pertama malah menghilang begitu saja. Sementara sosok yang kedua....Evania menyedot minumannya, lalu meneruskan, "yang kedua malah mengusirku." Tertawa getir.
Lantas pertanyaannya, sebenarnya dua pria tadi memang dikirim untuk dijadikan 'pacar baru' atau hanya sekedar membuatnya jantungan?
Dan lagi, tadi Tante Melly bilang akan mengatur pertemuan dengan Edward lagi. Hm, si bocah angkuh apakah bersedia bertemu lagi denganku? Oke, katakanlah dia bersedia, terus aku, apakah aku harus bersedia juga? pikirnya, mulai bingung.
Arggh, nanti sajalah dipikirkan lagi kalau ajakan Tante Melly itu beneran sudah menghampirinya.
***
Di ruang makan. Melly duduk di ujung meja. Ia dan Mbak Kus baru selesai membereskan barang belanjaan.
Kepergian Evania membuatnya batal memasak. Padahal ia sengaja belanja banyak bahan masakan agar bisa menjamu gadis itu. Sekaligus mempertemukannya dengan Edward.
Ternyata gagal. Melly menarik nafas panjang, lalu membuangnya. “Yah, lain kali saja diatur lagi.”
Melly lalu bangkit berdiri. “Tumben si Edward belum pulang.”
Mbak Kus menyahut, “Edward sudah pulang dari tadi, Bu.”
“Hah, kapan? Kenapa saya nggak tahu?”
“Tadi, Bu, sebelum nona itu pergi.”
Melly terdiam sesaat. “Berarti Edward sempat bertemu Evania?”
“Sepertinya, Bu,” Mbak Kus tidak begitu yakin. “Karena tadi itu saya lagi di lantai dua. Waktu saya turun, nona itu sudah jalan ke arah pintu.”
“Terus, waktu itu Edward lagi dimana?”
Mbak Kus mengingat-ingat. “Kalau nggak salah, Bu, ada di sofa. Waktu saya balik setelah ngantar nona itu keluar, saya lihat Edward mematikan tivi, terus, naik ke lantai dua.”
Melly mulai paham, lalu seperti bicara sendiri. “Tadi itu saya suruh Evania duduk di sofa... Hm, saya tahu sekarang.”
Melly berjalan cepat ke arah tangga. “Edward! Kamu cari perkara dengan Mama!” Naik tangga dengan melangkahi dua anak tangga sekaligus, lalu menuju kamar Edward.
Melly membuka pintu kamar Edward dengan keras. “Ed, kamu apain tamu Mama, heh?”
Edward yang sedang tiduran sambil mendengarkan lagu melalui speaker, membuka mata. “Mama kenapa nggak ngetuk pintu dulu, gimana kalau aku sedang ganti celana?”
“Halah, nggak urus,” sahut Melly cuek. “Dari kecil juga Mama yang gantiin celana kamu.”
Edward memejamkan mata kembali. “Dasar emak-emak, nggak pernah mau ngalah.”
Melly menarik telinga Edward. “Biarin. Sekarang jawab, kamu apain tamu Mama tadi?”
“Cewek tadi?” Edward mencoba melepaskan tangan ibunya dari telinganya. “Lepasin dulu, sakit.”
Melly menarik tangannya dari telinga Edward. “Oke, sekarang cerita. Awas, kalau sampai tamu Mama trauma ke sini lagi, kamu nggak boleh makan di sini lagi."
“Tega.”
“Harus.”
"Jadi beneran itu tamu Mama?" tanya Edward cuek.
"Lha, terus, kamu pikir apa?"
"Aku pikir sales barang nggak jelas. Kayak yang biasa datang itu."
Melly menarik nafas dengan cepat, dongkol. "Sok tahu kamu, ya. Bukannya telepon Mama dulu."
Edward mengangkat pundak dengan cuek. "Salah sendiri nggak kasih tahu aku."
Melly makin dongkol. "Terus, tadi itu kamu ngapain dia, Edward?"
Sambil berguling menjauhi ibunya, Edward menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah, “Aku usir dia.”