Di ruang tamu rumah Melly.
Tadi, setelah mempersilakan Evania masuk ke rumahnya yang bergaya minimalis mewah, Melly keluar lagi untuk belanja di supermarket di dekat cluster ini. Gara-gara keasikan ngobrol di perjalanan, Melly jadi lupa belanja.
Ditinggal sendiri di rumah besar ini, Evania duduk diam di sofa warna krem yang empuk.
Di seberangnya, di atas televisi ada pigura foto besar, yang di dalamnya Melly duduk anggun dengan dandanan lengkap dan gaun panjang bersama seorang cowok remaja mengenakan setelan jas hitam berdiri di sampingnya. Foto di studio.
“Itu anaknya Tante Melly,” gumam Evania. “Lumayan ganteng, mirip mamanya. Tapi, itu kan waktu remaja. Sekarang bisa saja sudah beda wajahnya.” Cekikikan sendiri.
Lalu jantungnya kembali berdegup kencang. Duh, gimana kalau orangnya muncul nanti?
“Nanti kamu akan bertemu putra Tante, si Edward melankolis.”
Begitu kata Melly tadi, waktu di perjalanan ke rumah ini. Melly duduk di belakang setir. Fokus menyetir di jalan tol. Di sebelahnya Evania duduk tegak. Mata menatap ke depan.
Evania hanya mengangguk ringkas dan merespon datar, “Iya, Tante.”
Tadi itu, Evania sebenarnya sangat gugup. Bagaimana tidak. Sebentar lagi dia bakal dipertemukan dengan cowok yang akan dikenalkan, eh, lebih tepatnya, dicomblangkan kepadanya.
Dan mak comblangnya malah ibu si cowok sendiri.
Oke, dalam hal restu orangtua, Evania sudah pasti lulus. Yang jadi masalah, bagaimana kalau si cowok ternyata menolaknya?
Sekali lagi, oke. Karena ibunda si cowok sudah merestui, harusnya persentase keberhasilan hubungan mereka sekitar delapanpuluh persen.
Karena, restu ibu jauh lebih kuat ketimbang perasaan si cowok.
Artinya, kalau si cowok adalah anak baik yang hormat kepada ibunya, tentu dia akan menerima gadis yang dikenalkan ibunya.
Oke, oke, soal ini sudah beres. Artinya, Evania kemungkinan bisa mendapatkan si cowok. Mungkin baru fisiknya, belum hatinya.
Yah, itupun kalau si cowok tidak sedang menyukai gadis lain, juga bukan tipe pembangkang yang berjuang mempertahankan gadis yang disukainya itu.
Ehem. Oke kita bahas kasus Edward, putra Tante Melly yang akan dikenalkan ke Evania. Menurut ibunya, Edward sampai sekarang belum move on dari mantannya.
Jadi, kalaupun ibunya sudah merestui Evania, hubungan itu belum tentu terjadi, kan?
Kembali ke ruangan ini. Evania duduk tegak dengan kedua lengan di samping tubuh langsingnya. Tatapannya jatuh ke kakinya yang tanpa alas kaki. Di atas karpet bulu krem.
Ya, dia tidak berani berharap Edward bakal langsung menerimanya. Atau bisa jadi tidak akan sama sekali.
Jika benar demikian, sebenarnya tidak masalah. Evania juga tidak begitu antusias ingin berkenalan, apalagi berharap percomblangan ini berhasil.
Hanya saja, Gara-gara ucapan Mila tentang balas dendam, Evania jadi ingin melakukannya. Dan, untuk saat ini Edward adalah kandidat pertamanya.
“Halo, siapa ya?”
Saking seriusnya memikirkan percomblangan ini, Evania tidak menyadari kalau di hadapannya sekarang berdiri sesosok pemuda dalam balutan celana bahan warna hitam dan kemeja warna abu.
Bagai disengat tawon, Evania tersentak kaget, lalu spontan melompat berdiri. “Eh, kamu Edward, kan?” Saking gugup, tahu-tahu saja dia bertanya seperti itu.
Bukannya menjawab, Edward malah mengulangi pertanyaannya dengan ketus. “Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu siapa, kenapa bisa di sini?” Penuh curiga dan kesannya menginterogasi.
“Saya teman Tante Melly,” Evania menjawab pelan, sambil curi-curi pandang wajah Edward. Masih ganteng ternyata, batinnya.
Edward mendengus sinis. “Teman? Kamu berteman dengan ibu-ibu? Jangan bohong, ngaku saja. Mau ngajak mamaku beli produk kalian, kan? Sori ya, mamaku sudah banyak belanja barang-barang nggak jelas. Jadi tolong, pergi saja.”
“Beneran kok saya teman Tante Melly,” Evania mencoba menjelaskan. “Tante sering berkunjung ke kantor kami, makanya kami saling kenal.”
“Oya?” Nada suara Edward masih sinis. “Terus, mana mamaku? Dan untuk apa ngundang kamu?” Ia melempar kunci mobil ke rak di samping tivi.
“Tante tadi bilang mau belanja di supermarket.”
Jawaban Evania justru membuat Edward kembali ketus. “Terus, kenapa kamu nggak ikut saja ke sana? Ngapain juga nunggu sendirian di sini?” Diraihnya remote dari meja sofa. “Sana, duduk di tempat lain, aku mau nonton di sini. Sen-di-rian.”
Diperlakukan bak tamu-tak-diundang, bahkan diusir, Evania akhirnya meledak juga.
“Dasar sombong," umpatnya. "Nggak perlu kamu usir juga, aku bakalan pergi.”
Evania meraih tasnya dari sofa, dan beranjak dengan kesal ke arah pintu.
Edward mendengus, menjatuhkan diri ke sofa. “Baguslah kalau sadar diri." Dan masih terdengar ocehan lanjutannya, "Kesal, ya, karena batal dapat fee. Oya mending jangan datang lagi. Percuma, aku nggak bakal kasih ijin ibuku belanja lagi barang-barang nggak jelas."
Evania berhenti, dan menoleh ke arah sofa, "Hei, emang siapa yang mau jualan barang?'
"Ya kamu lah, siapa lagi?" Edward masih membalas dengan sinis.
"Sok tahu dan tukang fitnah!" umpat Evania, kesal, lalu kembali bergerak ke arah pintu utama.
"Emang!"
Evania masih mendengar balasan Edward itu, namun dia memilih tidak membalasnya lagi
Asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu sewaktu Melly dan Evania tiba, tergopoh-gopoh mendekati Evania.
“Maaf, Neng sudah mau pulang?” tanya wanita tigapuluhan yang dipanggil Mbak Kus.
“Iya, Mbak,” jawab Evania tanpa berhenti. Meski kesal dengan sikap Edward, dia masih berusaha menjawab ramah.
“Nggak nunggu Bu Mel balik dulu?”
Evania berhenti. Berpikir sejenak. Kalaupun menunggu Tante Melly kembali, nantinya pasti akan berhadapan dengan Edward lagi. Nggak lah, mending aku pulang saja, pikirnya. Sudah hilang mood untuk berkenalan dengan manusia sombong.
“Nggak perlu, Mbak, aku pulang saja. Baru ingat masih ada urusan. Tolong bilangin ke Tante Melly ya, Mbak.”
“Baik, Neng. Biar saya bukain pintu.” Mbak Kus berjalan ke pintu dan membukanya. Lalu bergegas ke halaman untuk membuka pagar. Evania mengikuti dari belakang.
“Maaf, Neng tahu jalan ke gerbang?” Mbak Kus bertanya prihatin karena setahunya Evania baru pertama kali ini datang. “Perlu saya temani ke depan?”
Evania berpikir sesaat, memandang langit yang mulai gelap. Diliriknya jam tangan di lengan kanan. Jam tujuh. Apakah dia yakin mau pulang sekarang? Sendiri?
Tapi, lagi-lagi, mengingat sikap Edward tadi, ia akhirnya yakin pulang saja.
“Nggak apa-apa, Mbak, saya jalan sendiri saja. Saya masih ingat arah ke gerbang,” kata Evania yakin.
Untunglah tadi sewaktu mobil meluncur ke rumah ini dari arah gerbang, ia sempat mengamatinya. Seingatnya hanya perlu lurus dan satu kali belok.
Hm, benarkah? Dia sendiri ragu.