Minggu siang, orangtua Evania mengundang Melly dan Pak Tio untuk makan bersama. Evania dan Edward menyetujui pertemuan itu setelah memastikan tidak ada acara lamaran atau keputusan yang telah disiapkan. Mereka ingin keluarga saling mengenal sebelum membahas rencana lebih jauh.
Melly datang membawa makanan penutup. Pak Tio datang sendiri, sementara Hilda dan Naomi memiliki kegiatan lain. Orangtua Evania menyambut mereka dengan ramah. Percakapan awal berputar pada perjalanan dari Bali, pekerjaan, dan makanan.
Setelah makan, ayah Evania bertanya bagaimana Edward dan Evania membicarakan pernikahan. Edward menjelaskan bahwa mereka mulai menyusun anggaran dan mencari gambaran tempat tinggal, tetapi belum menentukan tanggal.
“Kami ingin memastikan keputusan itu sesuai penghasilan dan tabungan kami,” katanya. “Evania juga tetap ingin bekerja, dan saya mendukung itu.”
Ibu Evania bertanya kepada Melly apakah ia memiliki harapan tertentu terhadap calon menantu. Melly tertawa kecil. “Dulu saya punya banyak bayangan, seperti belanja dan memasak bersama. Sekarang saya tahu Evania punya hidup dan jadwal sendiri. Saya ingin hubungan kami dekat kalau dia juga nyaman, bukan karena dia wajib menemani saya.”
Evania tersenyum. Ia merasa Melly benar-benar mengingat percakapan mereka. Pak Tio menambahkan bahwa ia mendukung Edward dan Evania mengatur rumah tangga mereka sendiri. Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi alasan untuk mengulang konflik lama dengan Melly.
Melly dan Pak Tio berbicara tentang pembagian waktu keluarga tanpa menyindir satu sama lain. Mereka tidak sepakat dalam semua hal, tetapi suasananya tetap tenang. Edward memperhatikan bahwa orangtuanya bisa duduk bersama tanpa menjadikannya kurir atau alasan bertengkar.
Ayah Evania lalu bertanya apakah mereka ingin menikah dalam waktu dekat. Evania menjawab bahwa mereka serius, tetapi belum menetapkan kapan. Ia ingin memastikan keputusan itu lahir dari keyakinan, bukan tekanan keluarga atau ketakutan kehilangan.
Edward menyambung, “Saya ingin menikah dengan Evania kalau kami berdua sudah siap. Saya tidak meminta keluarga menentukan waktunya.”
Tidak ada yang mendesak. Orangtua Evania mengatakan mereka akan mendukung keputusan anaknya. Melly berkata ia akan membantu jika diminta, tetapi tidak mengambil alih persiapan. Pak Tio setuju hadir dalam pembicaraan keluarga tanpa menuntut peran tertentu.
Setelah tamu pulang, Evania dan Edward berjalan sebentar di halaman. Evania bertanya apakah Edward merasa keluarga mereka menerima hubungan itu.
“Sepertinya mereka mendukung sambil memberi ruang. Itu yang kita butuhkan.”
“Aku senang mereka bisa bicara tanpa membuat kita memilih pihak.”
Edward menggenggam tangannya setelah meminta izin. “Aku juga. Kita tetap perlu menentukan semuanya sendiri.”
Mereka masuk kembali untuk membantu membereskan meja. Hari itu tidak menghasilkan tanggal atau tempat pernikahan, tetapi memperlihatkan bahwa keluarga dapat terlibat tanpa mengambil alih.
***
Dua pekan setelah pertemuan keluarga, Evania dan Edward duduk kembali di kafe yang sama tempat mereka dulu membicarakan anggaran. Mereka membawa catatan terbaru: jumlah tabungan, biaya bulanan, dan beberapa pilihan tempat tinggal. Mereka telah berbicara dengan keluarga, tetapi keputusan tetap berada di tangan mereka.
Edward menunjukkan bahwa ia telah menerima cicilan lain dari Andika. Masih ada sisa utang, tetapi ia menuliskan tanggal pembayaran berikutnya dan tidak memasukkannya sebagai dana untuk pernikahan.
“Aku tidak mau rencana kita bergantung pada uang yang belum diterima,” katanya.
Evania mengangguk. “Itu perubahan yang penting. Bukan berarti Andika pasti menepati semua tanggal, tapi kamu sudah membuat batas dan tidak mengorbankan kebutuhanmu.”
Mereka meninjau tabungan. Angkanya cukup untuk memulai persiapan sederhana, tetapi mereka masih perlu memperhitungkan tempat tinggal dan dana darurat. Evania mengusulkan agar mereka menunggu beberapa bulan sebelum menetapkan tanggal, supaya tidak menggunakan seluruh tabungan untuk satu acara.
Edward setuju. “Aku ingin pernikahan yang kita sanggupi, bukan yang terlihat mengesankan bagi orang lain.”
“Dan aku ingin terus bekerja. Kalau ada lokasi tinggal yang membuatku harus mengundurkan diri atau menempuh perjalanan yang tidak masuk akal, kita cari opsi lain.”
“Sepakat. Kita tidak akan membuat keputusan yang mengharuskan kamu kehilangan pekerjaan.”
Mereka berbicara tentang bentuk acara. Evania ingin keluarga dan teman dekat, bukan pesta besar yang membuat mereka berutang. Edward juga setuju. Mereka belum memesan apa pun dan tidak menetapkan tanggal. Mereka hanya menulis prinsip yang akan dipakai saat waktunya tiba.
“Menurutmu kita siap menikah?” tanya Edward.
Evania tidak menjawab cepat. Ia memikirkan hubungan mereka, cara Edward menangani Susan, batas pinjaman Andika, dan kejujurannya dengan keluarga. Ia juga memikirkan dirinya sendiri: ia tidak lagi ingin menikah untuk membuktikan bahwa Gio salah atau untuk memenuhi harapan Melly.
“Aku merasa kita sedang membangun kesiapan. Aku belum ingin memutuskan tanggal hari ini. Tapi aku bisa melihat diriku memilih menikah denganmu kalau kita terus menjaga hal-hal ini.”
Edward tersenyum tanpa kecewa. “Aku juga. Aku tidak butuh jawaban final sekarang. Aku ingin kita tetap mengecek apakah pilihan ini masih terasa benar bagi kita berdua.”
Evania menggenggam tangannya di atas meja. “Kita tidak perlu buru-buru supaya hubungan ini terasa nyata.”
“Tidak. Hubungan ini nyata karena kita menjalankannya setiap hari.”
Mereka menutup catatan dan berjalan keluar. Di luar, hari masih terang dan mereka masih punya banyak hal untuk dibicarakan sebelum menentukan pernikahan. Evania merasa tenang karena masa lalu tidak disangkal, tetapi juga tidak lagi memegang kendali. Ia dan Edward sedang memilih masa depan melalui keputusan kecil yang terbukti, bukan janji besar yang tergesa-gesa.
***
Beberapa bulan setelah pembicaraan terakhir itu, Evania dan Edward kembali membicarakan pernikahan. Mereka tidak membuka katalog besar atau meminta keluarga memilihkan tanggal. Mereka membawa kalender kerja, catatan tabungan, dan daftar hal yang masih perlu dipastikan. Setelah beberapa bulan menabung dan membahas tempat tinggal, keduanya merasa siap menentukan waktu yang masuk akal.
“Kalau kita memilih tanggal tiga bulan lagi, kita punya cukup waktu menyiapkan acara sederhana dan menambah dana darurat,” kata Edward.
Evania memeriksa jadwal pekerjaannya. “Aku bisa mengajukan cuti beberapa hari. Tapi aku tidak akan mengambil cuti panjang atau berhenti kerja.”
“Aku tidak mengharapkan kamu begitu.”
Mereka memilih tanggal yang tidak bertabrakan dengan tenggat pekerjaan Evania dan jadwal keluarga inti. Mereka belum memesan tempat sebelum memeriksa biaya. Setelah mendapat perkiraan yang sesuai anggaran, mereka memutuskan membuat acara kecil di tempat yang nyaman, mengundang keluarga dan teman dekat.
Melly sangat senang saat mereka memberi tahu. Ia sempat langsung menyebut beberapa ide dekorasi, lalu berhenti dan bertanya, “Kalian mau Tante membantu bagian mana?”
Evania tersenyum. “Kalau Tante mau bantu menghubungi katering yang biasa Tante pakai, itu akan membantu. Tapi kami yang menentukan menu dan biayanya.”
“Baik. Tante akan kirim pilihan, kalian pilih sendiri.”
Pak Tio juga menawarkan bantuan, tetapi Edward menyatakan ia dan Evania ingin membiayai acara sesuai kemampuan mereka. Orangtua Evania mendukung keputusan itu dan menawarkan membantu perjalanan keluarga, bukan membayar seluruh pernikahan. Mereka menyepakati pembagian biaya secara terbuka dan tanpa tekanan.
Malamnya, Evania dan Edward duduk berdua menyusun daftar tamu. Mereka mengundang Mila, Karin, Jenny, Toby, Lusi, dan beberapa teman dekat lain. Nama Gio dan Junita tidak masuk. Evania tidak merasa perlu mengundang mereka demi membuktikan bahwa ia sudah memaafkan.
“Apakah kamu merasa masih ingin mereka tahu?” tanya Edward.
“Tidak. Pernikahan ini bukan pesan untuk mereka. Aku ingin merayakan bersama orang-orang yang hadir untuk kami.”
Edward mengangguk. Mereka menyimpan daftar tamu dan berjanji meninjau biaya setiap pekan. Tanggal itu kini nyata, tetapi tidak terasa seperti jebakan. Evania memilihnya dengan sadar, dan Edward tidak menganggap keputusan itu sebagai hadiah karena ia telah berubah.