Minggu pagi, Evania dan Edward duduk di sebuah kafe dengan dua buku catatan terbuka di meja. Mereka sepakat membicarakan masa depan setelah beberapa bulan berkencan, bukan karena ada yang mendesak, melainkan karena keduanya mulai ingin tahu apakah tujuan hidup mereka sejalan.
Edward membuka percakapan dengan bertanya apa yang paling penting bagi Evania jika suatu hari mereka menikah.
“Pekerjaanku tetap berjalan, aku punya ruang untuk mengambil keputusan sendiri, dan kita tidak menjadikan keluarga sebagai penentu setiap hal,” jawab Evania. “Aku juga ingin kita terbuka soal uang. Aku tidak ingin suatu hari baru tahu ada utang besar atau keputusan finansial yang disembunyikan.”
Edward mengangguk. “Aku ingin mengatur keuangan bersama tanpa mengontrol penghasilanmu. Aku juga ingin tinggal mandiri setelah menikah. Bukan berarti menjauh dari Mama, tapi kita perlu rumah tangga sendiri.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kamu ingin tetap di perusahaan sekarang?”
“Untuk sementara iya. Aku akan melihat perkembangan karier dan penghasilan. Aku tidak ingin membuat keputusan pindah kerja hanya karena ingin terlihat siap menikah.”
Evania tersenyum. “Bagus. Kita tidak perlu membuat perubahan besar hanya untuk mempercepat sesuatu.”
Mereka membahas kemungkinan tempat tinggal. Edward mengusulkan mencari rumah sewa dekat tempat kerja mereka, dengan biaya yang bisa ditanggung dari penghasilan tanpa memakai bantuan orangtua. Evania setuju, tetapi mengingatkan bahwa ia tidak ingin berhenti bekerja untuk pindah ke lokasi yang hanya menguntungkan Edward.
“Kita cari yang masuk akal untuk perjalanan kita berdua,” katanya. “Kalau tidak ada pilihan yang cocok, kita tunda sampai ada.”
Edward menulis poin itu. “Sepakat. Aku juga ingin kita punya tabungan darurat sebelum menetapkan tanggal.”
Mereka menghitung perkiraan biaya secara kasar. Angkanya membuat mereka sadar perlu menabung lebih konsisten dan tidak mengambil pinjaman baru. Edward menceritakan bahwa ia masih menagih sisa kewajiban Andika dan tetap menjalankan anggaran. Evania tidak mengomentari angka itu lebih dari yang perlu, tetapi bertanya apakah rencana tabungan tersebut realistis.
“Kalau aku konsisten, bisa. Aku tidak akan memakai uang yang belum dibayar Andika sebagai dana.”
“Bagus. Itu uang yang belum ada di tanganmu.”
Mereka tidak memutuskan tanggal pernikahan hari itu. Evania justru merasa lebih tenang karena pembicaraan mereka bisa berakhir dengan daftar hal yang perlu dipikirkan, bukan kesimpulan bahwa semuanya harus segera dilakukan.
Sebelum pulang, Edward bertanya apakah Evania merasa tertekan. Evania menjawab tidak, selama mereka tetap bisa berhenti atau mengubah rencana. Mereka menutup buku catatan dan sepakat membicarakan lagi setelah beberapa minggu, sambil tetap menjalani pekerjaan dan kehidupan masing-masing.
***
Selasa malam, Edward mengundang Evania ke rumahnya untuk melihat tabel anggaran yang ia susun. Melly sedang berada di butik, sehingga mereka bisa membicarakannya berdua tanpa suasana keluarga. Edward menjelaskan pemasukan, biaya tetap, tabungan, dan jumlah yang masih ia harapkan kembali dari Andika.
“Aku memasukkan uang Andika sebagai piutang, bukan pemasukan,” katanya. “Rencana kita tidak bergantung pada kapan dia membayar.”
Evania membaca tabel itu. “Ini sudah lebih jelas daripada perkiraan di kafe. Tapi kamu juga perlu menyisakan ruang untuk kebutuhan yang berubah.”
“Aku menambah pos darurat. Aku tidak mau semua uang habis untuk persiapan.”
Mereka membicarakan bagaimana membagi biaya setelah menikah. Evania ingin masing-masing tetap memiliki rekening pribadi dan memiliki satu rekening bersama untuk biaya rumah tangga. Edward setuju. Ia tidak ingin menganggap penghasilan salah satu pasangan sebagai milik yang lain tanpa pembicaraan.
“Kalau penghasilanku berubah atau aku memilih pindah pekerjaan, kita hitung ulang,” kata Evania.
“Dan kalau salah satu dari kita perlu membantu keluarga, kita bicarakan dulu. Tidak ada pinjaman besar atau transfer diam-diam.”
Evania menatapnya. “Termasuk kalau Andika meminta lagi?”
“Termasuk itu. Aku akan memutuskan sendiri dengan batas yang sudah kita bicarakan, dan tidak memakai uang rumah tangga tanpa persetujuanmu.”
Mereka membuat beberapa skenario sederhana. Tidak semuanya dapat dijawab malam itu. Mereka belum tahu berapa biaya tempat tinggal atau kapan tepatnya menikah. Namun daftar tersebut memperjelas bagian yang harus mereka cari tahu, bukan menimbulkan rasa panik.
Melly pulang ketika mereka sedang menutup laptop. Ia melihat buku catatan dan bertanya apakah mereka sedang merencanakan pernikahan. Edward menjawab bahwa mereka sedang membahas anggaran dan masih belum menentukan apa pun.
“Bagus,” kata Melly. “Tante tidak akan ikut mengatur kecuali diminta. Tapi kalau kalian perlu bertanya soal biaya, Tante bisa membantu membandingkan.”
Evania berterima kasih. Ia menyukai tawaran itu karena tidak disertai keputusan yang sudah dibuat atas nama mereka. Melly kemudian menanyakan apakah Evania ingin ikut melihat butik akhir pekan nanti. Evania menjawab ia belum bisa karena ada urusan pekerjaan.
Melly menerima jawabannya tanpa merajuk. “Baik. Nanti saja kalau kamu punya waktu.”
Setelah pulang, Evania menyadari bahwa berbicara soal uang tidak membuatnya merasa romantis, tetapi membuatnya merasa aman. Edward tidak menyembunyikan keadaan, dan ia tidak menganggap Evania sebagai penanggung jawab untuk memperbaiki kebiasaan finansialnya.
***
Kamis sore, Evania dan Edward melihat beberapa pilihan rumah sewa yang dekat dengan jalur kerja mereka. Mereka tidak langsung mendatangi tempat atau membuat komitmen. Mereka hanya membandingkan harga, jarak, dan kebutuhan dasar dari daftar yang mereka susun.
Evania mencatat waktu tempuh ke kantornya. Edward mengecek jarak ke kantornya. Ada satu lokasi yang lebih dekat ke tempat Edward, tetapi perjalanan Evania akan jauh lebih lama.
“Tempat itu tidak seimbang,” kata Evania. “Aku tidak mau perjalanan harianku bertambah satu jam hanya karena lebih dekat ke kantormu.”
Edward mengangguk. “Aku juga tidak ingin kamu menanggung beban itu. Kita cari titik tengah atau tunggu sampai ada pilihan lain.”
Mereka menemukan opsi kedua yang lebih seimbang, tetapi biaya sewanya sedikit di atas batas yang mereka inginkan. Edward menyarankan mengurangi beberapa fasilitas, sementara Evania mengusulkan menunggu sampai tabungan mereka cukup. Mereka tidak berdebat; masing-masing menjelaskan alasan dan menyesuaikan angka.
“Bisa jadi kita belum siap memutuskan rumah sekarang,” kata Evania. “Kita baru mulai mengumpulkan informasi.”
“Setuju. Aku tidak ingin buru-buru tanda tangan hanya karena kita sedang membicarakan pernikahan.”
Mereka mencatat beberapa kawasan untuk ditelusuri lagi. Evania mengatakan ia tetap ingin bekerja setelah menikah dan tidak ingin pindah ke rumah Melly atau orangtuanya. Edward mendukung. Ia ingin mereka mandiri, sambil tetap menjaga hubungan dengan keluarga.
Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara tentang tugas rumah tangga. Evania tidak ingin semua pekerjaan rumah otomatis menjadi tanggung jawabnya. Edward mengakui ia belum terbiasa mengerjakan beberapa hal sendiri, tetapi bersedia belajar. Ia mengaku baru belajar memasak dari petunjuk di kemasan, dan Evania tertawa.
“Belajar itu lebih baik daripada mengaku bisa lalu menyuruh orang lain mengerjakan.”
Edward sepakat. Ia tidak meminta Evania mengajari semuanya, tetapi mereka bisa membagi tugas dan belajar bersama bila perlu.
Malam itu, Edward menelepon Melly dan memberi tahu bahwa mereka sedang mencari pilihan tempat tinggal, belum memutuskan. Melly sempat menawarkan rumah kosong miliknya, tetapi ia segera menambahkan bahwa keputusan ada pada mereka.
Evania menghargai tawaran itu, tetapi berkata mereka ingin menghitung pilihan mandiri dahulu. Melly menerima tanpa tersinggung. Ia berkata rumahnya akan tetap ada jika mereka perlu bantuan sementara, tetapi ia tidak akan menjadikan itu syarat atau rencana utama.
Evania pulang dengan rasa bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan mengorbankan pekerjaannya atau ruang pribadinya. Mereka bisa menunda, menghitung ulang, dan tetap saling menyayangi.