Beberapa hari kemudian, Melly mengirim tiga pilihan katering. Ia tidak memilihkan, hanya memberi rincian harga dan menu. Evania dan Edward membandingkan semuanya dengan anggaran. Mereka memilih paket yang sederhana, lalu menghubungi penyedia bersama-sama.
Melly sempat mengusulkan tambahan dekorasi dan hiburan. Evania mengucapkan terima kasih, lalu menjelaskan bahwa mereka ingin menjaga acara tetap intim dan tidak menambah biaya yang tidak diperlukan. Melly terdiam sesaat, kemudian mengangguk.
“Baik. Tante tadi terbawa semangat. Kalian yang menentukan.”
Edward menyentuh bahu ibunya. “Terima kasih sudah bertanya dan menerima jawaban.”
“Jangan puji Mama terlalu cepat. Masih banyak keputusan yang bisa membuatku tergoda ikut mengatur.”
Mereka tertawa. Evania melihat Melly belajar menahan keinginannya, bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia menghormati pilihan pasangan itu.
Di kantor, Mila membantu Evania memeriksa jadwal cuti. Jenny menawarkan diri membantu mengatur kedatangan teman. Karin menyusul menawarkan bantuan lewat pesan dari Sydney. Evania menerima bantuan yang mereka tawarkan, tetapi membagi tugas dengan jelas agar tidak semua orang bekerja tanpa tahu apa yang diharapkan.
“Jadi kami tidak perlu mengurus semua hal?” tanya Mila.
“Tidak. Aku mau kalian datang sebagai teman, bukan jadi staf acara gratis.”
“Sayang. Aku sudah menyiapkan sepatu untuk lari-lari membawa kotak.”
“Kamu bisa membawa dirimu sendiri.”
Mereka tertawa. Evania merasa lebih ringan menghadapi persiapan karena ia dapat meminta bantuan tanpa kehilangan kendali. Ia dan Edward juga meninjau rencana tinggal setelah menikah. Mereka belum menemukan rumah yang tepat, sehingga sepakat menyewa sementara di lokasi yang masih masuk akal bagi pekerjaan keduanya. Mereka menolak terburu-buru membeli rumah hanya demi tampak mapan.
Karin memberi kabar dari Sydney bahwa cutinya telah disetujui. Ia akan pulang ke Jakarta menjelang acara dan baru membantu di lokasi setelah tiba. Jenny bersedia menangani daftar teman yang datang bersama Mila; tidak ada lagi laporan tentang Evania kepada Junita.
Malam itu, mereka memilih cincin sederhana sesuai kemampuan. Mereka tidak menghabiskan tabungan darurat. Setelah selesai, Evania berkata bahwa ia senang persiapan ini terasa seperti kerja bersama, bukan ujian untuk melihat siapa yang paling banyak berkorban.
Edward menjawab, “Kita sedang menyiapkan hidup bersama, bukan membuat salah satu orang membuktikan cinta dengan menghabiskan semua uang.”
Mereka pulang dengan daftar tugas yang masih panjang, tetapi juga kesepakatan yang jelas. Persiapan berjalan pelan, dan setiap keputusan tetap bisa dibicarakan.
***
Tiga bulan persiapan berlalu. Sehari sebelum pernikahan, Evania memeriksa kembali daftar terakhir bersama Mila dan ibunya. Gaun sudah disiapkan, dokumen telah lengkap, dan tempat acara telah dikonfirmasi. Ia merasa gugup, tetapi bukan karena meragukan pilihannya. Ia hanya menyadari bahwa besok ia akan membuat janji besar di hadapan orang-orang yang ia sayangi.
Mila duduk di tepi sofa sambil memegang daftar kecil. “Kamu masih bisa berubah pikiran kalau ada hal yang mengganggu.”
Evania tersenyum. “Aku tahu. Tapi aku tidak ingin berubah. Aku memilih ini.”
Ibunya menggenggam tangannya. “Kamu tidak perlu menjanjikan hidup tanpa masalah. Cukup jujur ketika masalah datang dan tetap menghormati dirimu.”
Evania mengangguk. Ia merasa orangtuanya tidak meminta kesempurnaan. Mereka hanya ingin ia masuk ke pernikahan dengan sadar.
Di rumah Melly, Edward sedang menyetrika kemejanya sendiri. Melly melihatnya dengan geli.
“Besok kamu menikah, bukan membuka butik. Jangan sampai lengan kemejamu kusut.”
“Aku sedang mengurusnya.”
“Kalau gosong, Mama punya kemeja cadangan.”
“Aku tidak akan membakar kemeja.”
Melly duduk di kursi. “Kamu gugup?”
“Sedikit. Aku memikirkan semua hal yang belum sempurna.”
“Tidak ada yang sempurna. Kamu tidak menikahi seseorang karena hidupmu tidak punya masa lalu. Kamu menikah karena kalian memilih menjalani masa depan dan memperbaiki kesalahan bersama.”
Edward mengangguk. Ia teringat Susan dan menyadari bahwa kenangan itu tidak lagi terasa seperti pusat dirinya. Ia tidak perlu membenci masa lalu untuk berkomitmen kepada Evania. Ia hanya perlu jujur bahwa hubungan sebelumnya pernah berarti, tetapi telah selesai.
Malam itu, Edward mengirim pesan kepada Evania: “Besok aku akan datang dengan semua kekuranganku, tapi juga dengan niat menjaga pilihan kita.” Evania membalas bahwa ia juga datang sebagai dirinya sendiri, tidak sempurna, tetapi yakin.
Mereka tidak bertemu malam itu karena keluarga sudah mengatur istirahat dan persiapan masing-masing. Evania menaruh ponsel, memeriksa alarm, lalu tidur. Edward melakukan hal yang sama.
Sebelum terlelap, Evania memikirkan ungkapan yang pernah terdengar seperti janji bahwa masa lalu bisa dihapus. Kini ia tahu maknanya berbeda. Mereka tidak menjadi orang tanpa kenangan. Mereka memilih kesempatan pertama untuk membangun hubungan yang sehat, dengan semua yang telah mereka pelajari.
***
Pagi pernikahan datang dengan langit cerah. Evania tiba di tempat acara bersama orangtuanya. Mila, Karin, dan Jenny sudah berada di sana, membantu memastikan hal-hal kecil berjalan sesuai rencana. Tidak ada pesta besar atau dekorasi berlebihan; ruangan itu diisi keluarga dan teman yang dipilih pasangan tersebut.
Edward datang bersama Melly dan Pak Tio. Ia menyapa keluarga Evania, lalu berdiri menunggu upacara dimulai. Saat melihat Evania, ia tersenyum. Evania membalas senyum itu. Keduanya tampak gugup sekaligus tenang.
Sebelum acara, Melly memeluk Evania setelah meminta izin. “Terima kasih sudah memberi Tante kesempatan mengenalmu. Tante akan tetap belajar tidak mengatur semua hal.”
Evania tertawa kecil. “Saya juga akan belajar bicara kalau ada yang membuat saya tidak nyaman.”
Melly mengangguk. Ia tidak menyebut Evania sebagai menantu impian atau menjanjikan kegiatan bersama setiap minggu. Ia hanya menggenggam tangan Evania sebentar lalu memberi ruang.
Upacara berlangsung sederhana. Evania dan Edward mengucapkan janji yang telah mereka bicarakan. Mereka berjanji untuk jujur, bertanya sebelum menyimpulkan, menjaga batas, dan kembali berbicara ketika menghadapi perbedaan. Tidak ada janji bahwa mereka tak akan pernah terluka atau kecewa. Yang ada adalah kesediaan untuk bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.
Setelah mereka dinyatakan sebagai pasangan suami istri, keluarga memberi selamat. Mila memeluk Evania dan berbisik bahwa ia bangga sahabatnya tidak lagi hidup untuk membalas Junita. Karin dan Jenny menyampaikan selamat. Karin datang setelah menuntaskan rencana kepulangannya dari Sydney, sementara Jenny menunjukkan bahwa ia dapat hadir sebagai teman tanpa membawa kabar kepada Junita. Evania menerima mereka dengan hangat, tanpa menuntut dirinya melupakan semuanya dalam satu hari.
Toby menepuk bahu Edward dan berkata bahwa pertumbuhan karakternya akhirnya menghasilkan acara yang baik. Lusi tertawa dan mengatakan ia akan berhenti menyebarkan kabar sebelum mendapat konfirmasi. Edward menjawab bahwa itu hadiah pernikahan terbaik untuk satu kantor.
Melly dan Pak Tio berbincang dengan orangtua Evania tanpa pertengkaran. Mereka tidak mengambil alih acara atau membuat janji tentang tempat tinggal pasangan itu. Setelah sesi foto keluarga, Evania dan Edward duduk sebentar di sudut ruangan.
“Bagaimana rasanya?” tanya Edward.
“Seperti awal yang besar, tapi tetap langkah pertama. Aku tidak merasa masa lalu hilang. Aku hanya tidak merasa harus membawanya sebagai penentu.”
Edward mengangguk. “Aku juga. Aku tidak menunggu Susan mengakui apa pun untuk merasa cukup. Aku memilih hidup ini karena aku ingin bersamamu.”
“Aku memilihmu karena kamu adalah Edward yang terus belajar bertanggung jawab, bukan karena kamu bisa membuat Gio cemburu.”
Mereka saling tersenyum. Setelah acara selesai, mereka pulang ke rumah sewa sederhana yang telah mereka pilih bersama. Esok hari, mereka tetap harus membereskan barang dan minggu berikutnya kembali bekerja. Mereka sudah membagi tugas untuk membongkar barang, membeli kebutuhan dapur, dan memastikan perjalanan ke kantor dari tempat baru itu.
Malam itu, mereka duduk berdampingan di ruang tengah, masih mengenakan pakaian yang nyaman setelah mengganti busana acara. Edward bertanya apakah Evania ingin minum. Ia mengangguk. Mereka berbagi teh hangat dan membicarakan bagian acara yang paling lucu.
“Jadi,” kata Edward, “kita mulai dari awal?”
Evania menatapnya. “Bukan dari awal yang menghapus semua yang pernah terjadi. Dari awal yang kita pilih sendiri.”
Edward menggenggam tangannya. Evania membalas genggaman itu. Mereka tidak merayakan luka lama, tidak pula menyangkalnya. Mereka memilih mencintai seolah ini kesempatan pertama mereka membangun hubungan yang jujur dan sehat—dengan masa lalu tetap di belakang, dan keputusan hari ini berada di tangan mereka.
TAMAT