“Eva, mau nginap?”
Pertanyaan Mila menyentak Evania yang sedang berjongkok membereskan kertas laporan di laci meja bawah.
“Hah?” Ia lalu bangkit berdiri, melirik jam dinding, lalu menoleh ke arah Mila, nyengir. “Keasikan, Mil. Sampai nggak sadar sudah jam lima.”
“Kirain mau nginap,” Mila tertawa. Memasukkan ponsel ke tas. “Aku duluan ya, Ev, suami sepertinya sudah di bawah.”
“Tumben, darling datang cepat.” Evania mulai memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas.
“Weekend, Eva,” Mila mengingatkan. “Waktunya dating bareng hubby. Memangnya kamu nggak ja...,” Ingat sesuatu. “Oh, sori, Ev, lupa.”
Evania tertawa tanpa suara. “Sori apaan. Aku malah sudah menganggap dia nggak pernah ada di hidupku.”
Mila terdiam. Sedikit terkejut dengan kalimat penutup Evania.
“Serius?” tanya Mila memastikan. Lalu cepat-cepat mengingatkan, “Jangan denial ya, Non. Jangan maksa move on kalau ternyata belum.”
Takut Evania tersinggung, Mila segera meralat, “Eh, maksudku, boleh saja kamu ikhlas dengan pengkhianatan mereka. Tapi jangan anggap mereka nggak pernah ada. Mereka ada, Eva. Pernah ada dalam hidupmu. Dan, sudah melukai perasaanmu. Ingat itu.”
Evania membanting bokongnya ke kursi. “Aku ngerti maksudmu, Mil. Kamu ingin aku ingat kelakuan mereka supaya bisa aku balas di kemudian hari, kan?”
Mila memegang kedua pundak Evania. “Ya, itu poinnya, Eva. Kamu boleh saja mengeluarkan sosok mereka, terutama mantanmu dari pikiranmu, supaya tenang melewati hari tanpa harus memikirkan masalah kalian terus.”
Mila bersandar di meja, melanjutkan, “Yang nggak boleh kamu lakukan hanya melupakan perbuatan mereka. Jadi, saat waktunya tiba, kamu bisa balas mereka. Bisa dengan pamer pacar baru yang jauh lebih good dari mantan. Betapa kamu bahagia bersama dia. Terlebih lagi kalau hubungan mereka ternyata berkonflik, haha.. Nah, itulah balas dendam paling cantik. Setuju kan, Sayang?” Mengelus rambut Evania yang dikuncir ekor kuda.
Evania mengangguk penuh semangat. “Setuju banget. Makasih ya, Mil.” Memegang tangan kiri Mila yang masih bertengger di pundaknya.
Beberapa menit berlalu. Sekarang tinggal Evania sendiri. Masih duduk di posisi yang sama.
Mila telah pergi, dijemput suaminya. Suara dan ucapan Mila tadi masih memenuhi pikirannya. Membuatnya jadi sedikit malas beranjak.
Ini weekend kedua tanpa Gio. Dan mungkin saat ini mereka sedang jalan-jalan, makan, nonton, atau apalah. Yang dulunya dilakukan Gio bersama dirinya.
Haiss, ditepuknya jidat dua kali. Ngapain mikirin mereka. Katanya sudah move on, tapi mana? Tetap saja kamu masih memikirkan mereka. Ah, lupakan, lupakan.
Tetapi, tak dipungkiri juga Evania masih sedikit sedih jika membayangkan itu semua. Masa-masa indah bersama Gio, pria yang dicintainya, harus terhenti begitu saja. Bohong kalau aku secepat itu melupakan semuanya, batinnya.
Dan bohong juga kalau aku nggak sedih. Tentu saja sedih. Kebahagiaanku terenggut begitu saja. Aku yang tadinya penuh semangat menjalani kisah asmaraku, sekarang jadinya seperti ini, sendiri.
Evania memejamkan mata. Dadanya terasa sakit mengingat perkataan Gio di malam itu. Bibirnya bergetar, menahan airmata. Aku nggak boleh menangis di sini. Dia bangkit berdiri.
Ucapan Mila terngiang kembali, “Balas dendam ke mereka. Pamer pacar barumu.”
“Siap, Mil,” gumamnya. “Tapi, kemanakah aku harus mencari orang itu?” Menahan tawa. “Ah, sebaiknya pulang saja.”
Saat Evania sedang memasukkan ponsel ke dalam tas, tanpa sengaja ia mendongak, mengarahkan tatapan ke arah pintu kaca, dan spontan menjerit tertahan lantaran kaget.
Sesosok pemuda berpakaian rapi tampak berdiri di balik itu, tengah mengintip ke dalam.
Evania secepatnya merunduk, agar dirinya tidak terlihat dari luar.
Karena tidak kenal, Evania membiarkan saja dia begitu. Toh, dia juga tidak mencoba tanya ke Evania tujuannya. Tetapi... Evania mendadak ketakutan. Jangan-jangan..
Dengan perasaan tegang, Evania memutar leher ke arah ruangan bos. Ah, syukurlah, masih ada orang di dalam sana. Dia merasa lega. Namun saat matanya kembali ke arah pintu, sosok itu ternyata sudah hilang. Entah siapa dan apa tujuannya, pikirnya.
Tapi, akankah bertemu dia nanti di bawah? Dia kembali tegang.
Namun untunglah suara ini seakan menyelamatkannya dari sosok misterius tadi andai masih ada di lobi sewaktu Evania turun nanti.
“Eva, tunggu!”
Evania menoleh. Melly sedang bergerak ke arahnya dari ruangan Bu Risna. Wajahnya yang selalu full make up dipenuhi senyuman penuh arti.
“Untunglah kamu masih di sini. Main ke rumah Tante, yuk?”
Evania yang semula lega lantaran ada yang menemaninya turun, berubah cengang demi ajakan barusan, “Ya, Tante?”
Tanpa memberikan kesempatan Evania untuk bertanya lagi, Melly segera menggandeng dan menyeretnya ke pintu. “Sudah, ikut Tante saja. Kamu lagi nggak ada acara kan ya?”
Evania menjawab gugup, “Eh, iya, Tante.” Masih keheranan karena Melly tidak pernah mengajak staf di sini ke rumahnya, meski sudah lumayan akrab.
Melihat Evania setegang itu, Melly tertawa geli. “Tenang, Tante bukan mau nyulik kamu, cuma ngundang ke rumah.”
Merasa konyol, Evania ikut tertawa malu. Sambil dalam hati bertanya. Ada apa gerangan Tante Melly mengundangnya ke rumah? Jantungnya berdebar kencang.
Jangan-jangan..