Senin sepulang kerja, Edward menerima pesan dari ayahnya, Pak Tio. Pesan itu meminta mereka bertemu akhir pekan ini. Biasanya, Edward akan menunggu Melly menyampaikan jawaban atau mencari alasan untuk menunda. Kali ini ia menatap layar cukup lama sebelum mengetik sendiri bahwa ia bersedia bertemu Sabtu sore dan akan datang tepat waktu.
Melly melihatnya dari meja makan. “Kamu membalas sendiri?”
“Iya. Aku bilang Sabtu sore.”
“Tidak menyuruh Mama bilang kamu sakit?”
“Tidak. Aku sudah cukup sering pakai alasan yang sama.”
Melly mengangkat alis. “Tante Hilda akan curiga kamu kena penyakit langganan.”
Edward tersenyum tipis. “Aku juga tidak mau terus menghindar. Kalau aku ingin hubungan dengan Papa membaik, aku harus datang sebagai diriku sendiri.”
“Bagus. Kamu bisa menetapkan batas kalau ada hal yang tidak nyaman. Kamu tidak perlu bertengkar atau membandingkan uang siapa lebih banyak.”
Edward mengangguk. Ia memahami bahwa pertemuan dengan ayahnya mungkin akan melibatkan Hilda dan Naomi. Ia ingin berbicara langsung dengan Pak Tio, bukan mengirim pesan lewat ibunya. Ia juga tidak ingin melampiaskan ketidaknyamanan pada Naomi yang masih remaja.
Pesan Pak Tio masuk lagi menanyakan apakah Melly akan ikut. Edward menjawab bahwa ia datang sendiri dan berharap bisa bicara berdua terlebih dahulu. Ia menambahkan bahwa setelah itu mereka bisa duduk bersama keluarga jika waktunya memungkinkan. Pak Tio membalas singkat bahwa ia mengerti.
Malam harinya, Edward menceritakan rencana tersebut kepada Evania. Ia tidak meminta saran khusus, hanya ingin jujur bahwa ia akan bertemu ayahnya dan agak gugup.
“Kenapa gugup?” tanya Evania.
“Sudah lama aku menghindari percakapan langsung. Biasanya Mama yang mengurus semua. Aku khawatir Papa menganggap aku datang karena butuh sesuatu.”
“Kamu bisa bilang tujuanmu datang. Kamu tidak harus menjelaskan semua perasaan sekaligus.”
“Aku ingin bilang aku lelah menghindar. Tapi aku tidak mau menyalahkan Mama atau Hilda.”
“Kalau begitu, fokus pada pilihanmu. Kamu datang karena ingin bicara dengan ayahmu. Itu sudah cukup.”
Edward mengucapkan terima kasih. Ia menyadari Evania tidak mengambil alih keputusan atau menawarkan diri menjadi penengah. Ia hanya mendengarkan dan mengembalikan pilihan itu kepadanya.
Sabtu terasa mendekat. Edward menyiapkan beberapa hal yang ingin ia sampaikan, tetapi kali ini ia tidak menulis pidato. Ia hanya mengingat tiga poin: ingin bicara langsung, tidak ingin terus memakai alasan sakit, dan tidak ingin membahas konflik lama dengan cara saling menyindir. Ia berharap dapat memegang batas itu saat berada di depan ayahnya.
***
Sabtu sore, Edward tiba di rumah Pak Tio tepat waktu. Ayahnya menyambut di teras dan mengajaknya masuk. Hilda berada di ruang keluarga bersama Naomi. Remaja itu menyapa kakaknya dengan ramah dan bertanya apakah ia mau melihat foto kegiatan sekolahnya. Edward menjawab bahwa ia ingin bicara dengan ayah lebih dulu, tetapi setelah itu ia bersedia melihat.
Hilda memperhatikan mereka tanpa komentar. Edward merasakan ketegangan lama muncul, tetapi ia mengingat dirinya datang untuk berbicara, bukan beradu pandang.
Pak Tio mengajaknya duduk di ruang makan. “Mama bilang kamu sering menolak ajakan Papa. Papa kira kamu memang tidak mau bertemu.”
“Aku memang sering menghindar,” jawab Edward. “Aku pakai alasan sakit atau sibuk, padahal sebenarnya aku tidak nyaman dan tidak tahu bagaimana bicara.”
Pak Tio mengangguk. “Papa seharusnya bertanya langsung, bukan hanya menitip pesan melalui Mama.”
“Aku juga seharusnya menjawab sendiri. Aku tidak ingin terus membuat Mama jadi perantara.”
Mereka bicara tentang pekerjaan dan kabar sehari-hari. Setelah beberapa menit, Pak Tio bertanya apakah ada hal yang ingin Edward sampaikan. Edward mengatur napas.
“Aku ingin hubungan kita lebih jujur. Kalau aku tidak bisa datang, aku akan bilang sendiri. Aku juga ingin Papa menanyakan langsung, bukan menganggap Mama sengaja menyembunyikan jadwalku.”
“Papa bisa melakukan itu. Bagaimana dengan Hilda? Kamu tampak tidak nyaman setiap kali dia ada.”
Edward memilih kata-katanya. “Aku merasa sering disangka datang karena ingin uang. Aku tidak datang untuk meminta apa pun. Tapi aku juga tidak ingin membandingkan keadaan Mama dan Papa atau membahas siapa yang lebih mampu. Aku ingin bertemu Papa sebagai ayahku.”
Pak Tio tampak berpikir. “Hilda mungkin terlalu khawatir soal keuangan. Itu bukan alasan untuk membuatmu merasa dituduh. Papa akan bicara dengannya.”
Hilda muncul di ambang ruang makan. “Kalian sedang membicarakan saya?”
Pak Tio menjawab tenang bahwa mereka membahas cara berkomunikasi. Edward tidak menyerang atau mengejeknya. Ia berkata langsung bahwa ia memahami Hilda mungkin khawatir, tetapi ia ingin setiap kekhawatiran ditanyakan kepadanya, bukan diasumsikan.
Hilda terlihat kaku. “Saya tidak ingin ada masalah soal uang.”
“Aku juga tidak. Aku datang untuk bertemu Papa, bukan meminta uang,” jawab Edward.
Pak Tio meminta mereka duduk bersama. Tidak semua perasaan langsung selesai, tetapi Hilda mengangguk dan berkata ia akan mencoba bertanya dulu. Naomi kemudian membawa album foto sekolahnya. Edward melihat beberapa gambar dan memuji proyeknya. Ia tidak menjadikan adiknya bagian dari perselisihan orang dewasa.
Saat pulang, Pak Tio mengantar Edward ke teras. “Terima kasih sudah datang dan bicara langsung.”
“Aku juga terima kasih Papa mendengarkan.”
Edward pulang tanpa perasaan bahwa ia harus memenangkan perdebatan. Ia hanya membuat satu batas jelas dan melihat ayahnya berusaha menerima. Dalam perjalanan, ia mengirim pesan kepada Melly bahwa pertemuan berjalan cukup baik.
***
Minggu pagi, Edward turun ke ruang makan untuk sarapan bersama Melly. Ibunya bertanya tentang pertemuan dengan Pak Tio, tetapi tidak menginterogasi. Edward menceritakan bahwa ia bicara langsung dengan ayahnya dan menyampaikan batas soal uang serta cara berkomunikasi.
“Bagaimana Hilda?” tanya Melly.
“Dia mendengar. Belum tentu langsung berubah, tapi kami sudah bicara tanpa saling menyindir.”
Melly mengangguk. “Itu kemajuan. Jangan berharap satu percakapan membuat semua kebiasaan hilang.”
“Aku tahu. Aku juga tidak mau membandingkan kondisi keuangan Mama dan Papa lagi. Selama ini aku ikut terpancing setiap kali Hilda merasa curiga.”
“Bagus. Kamu tidak perlu membuktikan Mama lebih kaya atau Papa lebih baik untuk menjelaskan bahwa kamu tidak meminta uang.”
Edward tersenyum. “Aku sedang belajar memotong percakapan sebelum berubah jadi kompetisi keluarga.”
Melly mengisi cangkirnya. Ia tampak lega, tetapi tidak merayakan berlebihan. Ia bertanya apakah Edward ingin menghubungi Pak Tio lagi minggu depan. Edward menjawab bahwa ia akan menunggu, lalu menghubungi ayahnya sendiri ketika ada hal yang ingin dibicarakan. Ia tidak akan meminta Melly mengatur pertemuan berikutnya.
Siang harinya, Evania dan Edward bertemu untuk makan. Edward menceritakan pertemuan keluarga tersebut. Ia menyebut Naomi dengan hangat, mengatakan bahwa adiknya menunjukkan foto proyek sekolah. Evania bertanya bagaimana rasanya bertemu Pak Tio setelah sekian lama menghindar.
“Lebih baik daripada yang kubayangkan. Aku masih merasa canggung, tapi setidaknya aku tidak pulang dengan menyesal karena lagi-lagi berbohong.”
“Kamu berhasil bicara langsung dan menetapkan batas. Itu sesuatu yang nyata.”
“Aku juga sadar, aku tidak perlu menjadikan keadaan ekonomi Mama sebagai senjata. Itu tidak membantu hubungan dengan Papa.”
Evania mengangguk. “Kamu bisa tetap menyayangi Mama dan tetap membangun hubungan dengan Papa. Tidak harus memilih salah satu.”
Edward memikirkan itu. Selama ini ia sering merasa kesetiaan kepada ibunya berarti menolak semua ajakan ayahnya. Padahal ia dapat menjaga batas tanpa memutus hubungan.
Mereka membayar makan masing-masing, lalu berjalan sebentar. Edward bertanya apakah Evania nyaman mereka bertemu keluarga satu sama lain di masa depan. Evania menjawab bahwa ia terbuka, tetapi tidak ingin dipaksa masuk ke acara keluarga sebelum hubungan mereka terasa siap.
“Aku mengerti. Aku tidak akan mengatur perkenalan sebelum kita sepakat.”
“Bagus. Kita masih belajar berkencan, bukan sedang merencanakan pesta keluarga.”
Edward tertawa. “Aku akan mengingat itu saat Mama mulai melihat katalog dekorasi.”
Evania tersenyum. Mereka berpisah sore itu dengan rencana bertemu lagi setelah jadwal kerja memungkinkan. Edward pulang dengan perasaan lebih dewasa dalam hubungannya dengan kedua orang tuanya. Ia belum menyelesaikan semua masalah, tetapi ia tidak lagi membiarkan Melly menjadi perantara untuk setiap percakapan yang ia hindari.