Kamis sore, Edward menelepon Evania setelah lebih dulu mengirim pesan menanyakan apakah ia punya waktu. Ia ingin membicarakan makan malam kemarin, tetapi tidak ingin menganggap kesediaan bertemu sebagai jawaban otomatis.
"Aku senang makan malam kemarin," kata Edward. "Aku ingin bertanya apakah kamu mau berkencan denganku, sebagai cara untuk saling mengenal. Bukan langsung berjanji soal masa depan. Kalau kamu belum siap, aku tetap menghormati itu."
Evania duduk di tepi sofa. Ia menghargai bahwa Edward bertanya dengan jelas. Ia juga menyadari dirinya memang ingin mencoba, bukan karena Melly, bukan karena pernikahan Gio dan Junita, dan bukan karena membutuhkan seseorang untuk menghapus rasa sakit.
"Aku mau mencoba berkencan," jawabnya. "Tapi aku ingin kita sepakat beberapa hal. Kita tetap menjaga pekerjaan dan waktu masing-masing. Kita tidak mengumumkan apa pun ke orang lain dulu. Dan kalau salah satu merasa belum nyaman, kita bicara, bukan menghilang atau menebak-nebak."
Edward menjawab tanpa jeda panjang. "Aku setuju. Aku juga ingin kita tidak menjadikan mantan sebagai alasan untuk terburu-buru. Kita bertemu karena tertarik satu sama lain."
"Betul. Dan aku belum menjanjikan bahwa semuanya akan berhasil."
"Aku tidak meminta janji itu. Aku hanya ingin kesempatan untuk mengenalmu dengan lebih baik."
Evania tersenyum, meski Edward tak dapat melihat. "Kalau begitu, kita mulai dengan kencan sederhana. Mungkin makan siang akhir pekan depan. Kita pilih tempat bersama."
"Aku suka."
Mereka membicarakan batas kecil lain: tidak mengirim pesan berulang kali ketika belum dibalas, memberi tahu jika rencana berubah, dan tidak menganggap kedekatan fisik sebagai kewajiban. Percakapan itu terasa sedikit formal, tetapi keduanya tertawa saat Edward berkata mereka seperti sedang membuat perjanjian kerja.
"Setidaknya perjanjian ini bisa direvisi," kata Evania.
"Dan tidak ada denda keterlambatan?"
"Ada. Traktir kopi kalau kamu terlambat tanpa kabar."
"Berarti harus ada klausul untuk kemacetan."
"Kita bahas di rapat berikutnya."
Setelah telepon berakhir, Evania mengirim pesan kepada Mila bahwa ia dan Edward sepakat berkencan. Ia menegaskan bahwa mereka belum mengumumkannya dan ia ingin semua berjalan pelan. Mila membalas dengan ucapan selamat yang sederhana, lalu mengingatkan agar Evania tetap menjadi dirinya sendiri.
Edward mengabari Melly bahwa ia dan Evania akan mulai berkencan, tetapi meminta ibunya tidak mengumumkannya sebagai perjodohan. Melly menjawab bahwa ia akan menjaga kabar itu dan tidak mengatur jadwal mereka. Ia hanya mengatakan bahwa ia senang mereka membuat keputusan sendiri.
Malamnya, Evania menutup hari dengan perasaan tenang. Ia tidak merasa baru saja menyelesaikan masa lalu atau menemukan jawaban untuk semua hal. Ia hanya memilih satu langkah berikutnya, dengan mata terbuka dan batas yang diucapkan. Untuk dirinya sendiri, itulah awal yang cukup.
***
Jumat sore, Melly mengirim pesan kepada Evania dan Edward dalam satu percakapan grup. Ia mengundang mereka makan malam di rumah pada Minggu. Pesannya ditutup dengan kalimat, “Kali ini Tante janji tidak akan meninggalkan kalian berdua lalu pergi belanja.”
Evania membaca pesan itu dan tersenyum. Ia menunjukkan layar kepada Edward saat mereka bertemu seusai jam kerja.
“Setidaknya Tante Mel sadar itu pernah terjadi,” katanya.
Edward menghela napas geli. “Mama sadar setelah aku menjelaskan bahwa mengatur pertemuan diam-diam itu membuat kalian berdua canggung. Dia ingin memperbaiki caranya.”
Evania mengetik balasan bahwa ia bersedia datang, tetapi hanya sampai waktu tertentu karena Senin pagi ia harus bekerja. Melly langsung menjawab bahwa tentu saja, ia tidak akan menahan mereka. Edward menambahkan bahwa ia akan datang lebih awal untuk membantu menyiapkan meja.
“Bantu memasak atau bantu menghabiskan?” tanya Evania.
“Dua-duanya sesuai kapasitas.”
“Jujur sekali.”
Mereka tertawa kecil. Evania merasa nyaman menerima undangan tersebut karena kali ini tidak ada kejutan atau tuntutan. Meski demikian, ia tetap ingin memastikan Melly memahami bahwa mereka baru mulai berkencan dan masih perlu waktu untuk mengenal satu sama lain.
Malamnya, Evania berbicara dengan Mila melalui telepon. Mila mengingatkan bahwa makan malam keluarga bisa membuat Melly semakin bersemangat.
“Kalau beliau mulai membahas cucu, aku akan pura-pura tersedak,” kata Evania.
“Jangan. Nanti Edward panik dan Tante Mel memanggil ambulans.”
“Aku akan bilang saja belum mau membahas masa depan.”
“Itu lebih sehat. Kamu boleh menikmati makan malam sambil tetap menyampaikan batas.”
Mila menanyakan apakah Evania senang berkencan dengan Edward. Evania menjawab bahwa ia menikmati waktu bersama Edward, tetapi belum ingin membangun gambaran besar. Ia ingin melihat bagaimana hubungan mereka berjalan di hari biasa, bukan hanya saat keduanya sedang berusaha tampil baik.
“Itu masuk akal,” kata Mila. “Lihat bagaimana dia memperlakukanmu saat rencana berubah, saat kalian berbeda pendapat, dan saat ibunya ingin mengatur semuanya.”
“Semoga tidak ada ujian mendadak.”
“Hidup jarang mengirim undangan ujian.”
Evania tertawa. Hari Minggu terasa masih cukup jauh. Ia menyelesaikan pekerjaannya di rumah, lalu menyisihkan pakaian yang nyaman untuk makan malam. Ia tidak ingin berpakaian seperti sedang menghadiri acara pertunangan.
Sebelum tidur, Edward mengirim pesan bahwa Melly sudah tahu Evania perlu pulang pada waktu tertentu. Evania membalas terima kasih karena ia menyampaikan batas itu lebih dulu. Edward menjawab bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan dari ibunya. Evania tidur dengan pikiran ringan. Makan malam itu merupakan perkenalan keluarga setelah mereka memutuskan berkencan, belum merupakan rencana pernikahan.
***
Minggu pukul enam sore, Evania tiba di rumah Melly. Edward membukakan pintu dan menyambutnya. Ia mengenakan kemeja sederhana, jauh lebih rapi daripada saat Evania pertama kali berkunjung, tetapi tidak berlebihan.
“Selamat datang. Mama masih di dapur. Kali ini beliau tidak meninggalkan tamu,” katanya.
“Bagus. Aku belum pernah melihat panitia acara mengawasi sendiri konsumsi.”
Edward tertawa dan mengajaknya ke ruang makan. Melly keluar dari dapur dengan celemek. Ia menyapa Evania hangat, lalu meminta maaf sekali lagi karena dulu membuat pertemuan pertama mereka jadi canggung.
“Terima kasih sudah menerima permintaan maaf Edward dan bersedia datang lagi,” kata Melly. “Tante akan berusaha tidak menyusun masa depan kalian sebelum kalian sendiri bicara.”
Evania tersenyum. “Saya senang datang, Tante. Tapi saya juga ingin jujur, saya tetap ingin bekerja dan punya waktu sendiri. Saya belum ingin semua akhir pekan diisi acara keluarga.”
Melly mengangguk. “Tentu. Tante tidak akan mengharapkan kamu berhenti bekerja atau selalu menemani Tante. Kamu punya hidup sendiri.”
Edward membantu membawa piring ke meja. “Mama sedang latihan menahan diri.”
“Jangan mengejek ibumu di depan tamu,” kata Melly.
“Dia pacarku, Ma. Tamu sekaligus.”
Melly terdiam sesaat, tampak senang mendengar kata itu, tetapi ia tidak membuat pengumuman atau berseru. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan menata makanan. Evania memperhatikan sikap itu dan merasa dihargai.
Mereka makan sambil membicarakan pekerjaan, salon Melly, dan makanan yang disukai. Melly sempat bertanya apakah Evania suka belanja bersama. Evania menjawab bahwa ia sesekali suka, tetapi tidak ingin itu menjadi kegiatan wajib setiap minggu. Melly tertawa dan berkata ia akan menerima ajakan kalau waktunya cocok, bukan membuat jadwal tetap.
“Dulu Tante membayangkan punya anak perempuan yang bisa diajak belanja kapan saja,” katanya. “Tapi Tante lupa anak perempuan itu juga punya pekerjaan, teman, dan keinginan sendiri.”
“Kalau kita pergi belanja sesekali, saya senang, Tante. Asal tidak dianggap kewajiban.”
“Sepakat. Kita bisa bertanya dulu, bukan langsung mengirim kalender.”
Edward menimpali, “Kalau kalender sudah terlanjur dibuat, aku akan pura-pura tidak tahu.”
Melly mengangkat sendok mengancam. “Kamu yang akan mencuci piring kalau begitu.”
“Baik, aku mendukung batas yang jelas.”
Setelah makan, mereka duduk sebentar di ruang tengah. Evania memeriksa jam dan mengatakan ia harus pulang sesuai rencana. Melly mengangguk, tidak membujuknya tinggal lebih lama. Edward menawarkan menemaninya ke titik penjemputan, tetapi tidak memaksa mengantar sampai rumah.
Di depan pintu, Evania mengucapkan terima kasih kepada Melly. “Saya senang Tante menanyakan batas saya dan benar-benar mendengarkan.”
Melly membalas bahwa ia juga belajar. Evania pulang dengan kesan bahwa hubungan keluarga bisa hangat tanpa harus meleburkan semua waktu dan pilihan.