Senin siang, Edward sedang menyelesaikan laporan ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang masih ia hafal. Nama Susan muncul di layar. Hanya satu kalimat: “Hai, Ed. Aku melihat kamu mulai aktif lagi. Apa kabar?”
Edward membaca pesan itu tanpa segera membalas. Ia sudah lama menghapus foto-foto mereka, tetapi nomornya tidak pernah ia hapus. Ada bagian dirinya yang masih mengingat suara Susan, kebiasaannya tertawa, juga cara hubungan mereka berakhir. Kenangan itu datang bersamaan dengan rasa sesak yang belum sepenuhnya pergi.
Toby lewat dan melihat wajah Edward berubah. “Ada kabar buruk?”
“Tidak tahu. Susan mengirim pesan.”
Toby berhenti. “Kamu mau membalas?”
Edward meletakkan ponsel telungkup. “Aku belum tahu. Aku harus memberi tahu Evania dulu. Kami sudah sepakat terbuka soal hal penting.”
“Bagus. Tapi jangan meminta dia memutuskan untukmu.”
“Aku tidak akan.”
Edward menunggu hingga jam istirahat, lalu mengirim pesan kepada Evania bahwa Susan menghubunginya. Ia menambahkan bahwa ia belum membalas karena ingin jujur dan memikirkan batasnya sendiri. Evania membaca pesan itu saat sedang makan bersama Mila. Ia tidak langsung bertanya siapa Susan; ia tahu hubungan lama Edward memang pernah dibicarakan.
“Dia bilang apa?” tanya Mila.
“Cuma tanya kabar dan bilang melihat Edward mulai aktif lagi.”
“Kamu merasa apa?”
Evania memeriksa dirinya sendiri sebelum menjawab. Ada sedikit cemburu, tetapi lebih banyak khawatir Edward akan kembali terjebak dalam kenangan yang belum selesai. “Aku ingin tahu apa yang dia pilih untuk dilakukan. Tapi aku tidak mau menyuruhnya membalas atau mengabaikan.”
Ia membalas Edward bahwa ia menghargai keterbukaannya dan berharap Edward memutuskan berdasarkan batas yang ia inginkan, bukan karena takut membuat Evania marah. Edward mengucapkan terima kasih.
***
Sore hari, ia akhirnya membalas Susan: “Aku baik. Ada hal khusus yang ingin kamu bicarakan?” Pesan itu singkat dan tidak membuka nostalgia. Susan membalas bahwa ia hanya ingin bertemu untuk berbincang sebentar dan meminta maaf atas beberapa hal. Edward tidak langsung menyetujui. Ia bertanya apakah ada hal yang perlu disampaikan lewat pesan saja. Susan menjawab ia lebih nyaman bicara langsung.
Edward memberi tahu Evania bahwa Susan meminta bertemu. Ia mengusulkan pertemuan singkat di kafe pada Sabtu siang, di tempat umum, dan mengatakan ia akan mengakhiri pertemuan jika Susan mulai meminta sesuatu yang tidak pantas.
Evania menjawab bahwa ia berterima kasih diberi tahu. Ia tidak menghalangi, tetapi juga tidak berpura-pura bahwa hal itu mudah baginya. Edward menerima jawaban itu tanpa meminta Evania menghiburnya.
Malam itu, ia memeriksa kalender dan memastikan pertemuan tidak mengganggu rencana lain. Ia tidak ingin menjadikan Susan pusat pekannya. Ia tetap menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan makan, dan berbicara sebentar dengan Melly di rumah. Pesan dari masa lalu boleh muncul, tetapi tidak perlu mengambil seluruh ruang dalam hidupnya.
***
Sabtu siang, Edward tiba lebih dulu di kafe dan memilih meja yang terlihat dari pintu. Ia sudah memberi tahu Evania tempat dan waktu pertemuan. Mereka tidak bertukar kabar terus-menerus; ia hanya menulis bahwa ia sudah sampai. Evania membalas singkat bahwa ia mengerti dan berharap percakapan berjalan jelas.
Susan datang beberapa menit kemudian. Penampilannya rapi, tetapi Edward tidak lagi melihatnya dengan kekaguman membuta seperti dulu. Mereka saling menyapa dan duduk berhadapan.
“Terima kasih sudah mau ketemu,” kata Susan.
“Aku bisa mendengarkan sebentar. Ada yang ingin kamu sampaikan?”
Susan memesan minuman, lalu memulai dengan menanyakan kabar. Edward menjawab seperlunya. Ia tidak bertanya tentang suami Susan, dan Susan tidak menawarkan banyak cerita tentang rumah tangganya. Setelah beberapa kalimat basa-basi, Susan menunduk.
“Aku mau minta maaf karena dulu meninggalkanmu dengan cara yang menyakitkan. Dulu aku sering membuatmu membayar keinginanku tanpa memikirkan keadaanmu. Itu tidak adil.”
Edward menerima pengakuan itu tanpa buru-buru memaafkan. “Aku menghargai kamu mengatakannya. Dulu aku memang berharap kamu memilihku lagi. Tapi sekarang aku tidak mau mengulang hubungan lama.”
“Aku tidak bermaksud meminta kita kembali,” kata Susan cepat. “Aku cuma… kadang merasa kamu mengerti aku lebih baik daripada suamiku.”
Edward menahan napas. Inilah bagian yang ia khawatirkan. “Aku tidak bisa menjadi pengganti perhatian suamimu. Kamu sudah menikah dan aku juga sedang membangun hidupku sendiri.”
Susan mengaduk minumannya. “Aku tahu. Mungkin aku cuma kangen berbicara denganmu.”
“Aku paham, tapi komunikasi seperti itu membuat batasnya kabur. Aku tidak ingin menjadi tempat kamu kembali setiap kali merasa sepi. Kalau kamu menyesal atas cara kita berpisah, aku mendengar permintaan maafmu. Tapi hubungan kita sudah selesai.”
Susan terdiam. Ia tidak membantah, tetapi tampak sedih. Edward merasakan kenangan lama bergerak di dadanya. Ia ingat masa-masa baik mereka, namun kenangan itu tidak menghapus alasan hubungan tersebut berakhir.
“Aku harap kamu bahagia,” kata Susan.
“Aku juga berharap kamu baik-baik saja. Tapi setelah ini, aku ingin kita tidak melanjutkan pesan pribadi seperti dulu. Kalau ada hal penting, sampaikan seperlunya. Aku tidak akan menjadi tempat curhat soal pernikahanmu.”
Susan mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Mereka mengakhiri pertemuan setelah minuman habis. Edward tidak menawarkan mengantar atau memeluknya. Ia mengucapkan salam, lalu keluar dari kafe. Di trotoar, ia menunggu sebentar sebelum mengirim pesan kepada Evania bahwa pertemuan selesai dan ia sudah menetapkan batas.
Evania membalas bahwa ia menghargai Edward menyampaikan langsung. Ia tidak bertanya detail saat itu juga. Edward pulang dengan rasa kehilangan yang muncul sebentar, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai tanda bahwa ia harus kembali. Ia telah menutup percakapan dengan jelas dan tetap menjaga tanggung jawabnya.
***
Senin sore, Evania dan Edward bertemu di kedai kopi setelah bekerja. Edward datang tepat waktu dan tidak tampak mengharapkan Evania memulai percakapan. Setelah memesan, ia menjelaskan bahwa Susan meminta maaf atas cara mereka berpisah dan mengakui sering memanfaatkan kemurahan hatinya ketika mereka masih bersama.
Evania mendengarkan tanpa menyela. Edward menceritakan batas yang ia sampaikan: hubungan lama sudah selesai, ia tidak akan menjadi tempat curhat tentang pernikahan Susan, dan ia ingin komunikasi pribadi mereka berhenti.
“Kamu masih merasa sedih?” tanya Evania.
“Iya. Aku sempat berharap dia akan mengakui bahwa aku berarti baginya. Tapi aku sadar itu tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Aku tidak ingin menunggu pengakuannya lagi.”
Evania mengangguk. “Aku menghargai kamu cerita. Aku juga tidak mau berpura-pura tidak cemburu sama sekali. Tapi aku tidak ingin menghukummu karena masa lalu yang kamu hadapi dengan jujur.”
“Aku akan tetap menjaga batas. Kalau Susan menghubungi lagi, aku akan memberitahumu sebelum membalas, bukan setelah ada masalah.”
Evania mengaduk teh. “Aku percaya kamu berniat begitu. Tapi aku juga perlu waktu melihat tindakanmu konsisten. Aku belum mau menganggap kepercayaan kita terbentuk penuh hanya karena satu percakapan.”
Edward mengangguk. “Itu adil. Kamu tidak perlu mempercepat rasa percaya untuk membuatku nyaman.”
“Aku tidak ingin menjadi pengawasmu. Aku ingin hubungan kita punya ruang untuk jujur dan tetap punya batas.”
“Aku juga.”