Pada Minggu sore berikutnya, Evania tiba lebih dulu di kedai kopi dekat kantor. Ia memilih meja luar yang cukup terbuka, lalu memesan minuman. Edward datang beberapa menit kemudian. Mereka bertukar salam dan membicarakan sebentar rencana kerja pekan depan sebelum Evania mengangkat topik yang ia pikirkan sejak lama.
"Aku mau tanya sesuatu tentang hari pertama kita bertemu," katanya.
Edward mengangguk. "Silakan."
"Sebelum aku datang ke rumah Tante Mel waktu itu, aku pernah melihat seorang pria berdiri dekat kantor. Dia seperti memperhatikan dari luar, lalu pergi ketika aku menoleh. Aku sempat bertanya-tanya apakah orang itu ada hubungannya dengan kamu atau Tante Mel."
Edward tampak terkejut. "Aku tidak tahu ada orang yang mengintip kantor. Aku tidak pernah mengirim siapa pun untuk mencarimu."
"Aku juga tidak menuduh. Aku hanya ingin memastikan. Setelah semua kejadian, aku tidak mau menyimpan dugaan sendiri."
Edward mengangguk. "Kamu benar. Kita bisa tanya Bu Risna, karena dia yang mengenal Mama dan lebih tahu siapa saja yang datang ke kantormu. Aku tidak mau mengarang jawaban."
Mereka menelepon Bu Risna melalui panggilan video. Ia sedang berada di rumah, tetapi menjawab dengan ramah. Evania menjelaskan kejadian yang ia ingat: seorang pria yang berdiri sebentar di luar kantor, tidak berbicara kepadanya, lalu menghilang. Ia mengingat hari itu: Jumat sore ketika Melly mengajaknya pulang ke rumah, tepat sebelum ia bertemu Edward untuk pertama kalinya.
Bu Risna tampak berpikir. "Tante ingat ada orang datang bertanya tentang lokasi ruangan Tante, mungkin salah satu kerabat yang hendak mengantar berkas. Tapi Tante tidak ingat siapa. Bisa saja orang itu menunggu di luar karena tidak tahu pintu masuk. Tidak ada yang melaporkan kejadian aneh atau masalah di kantor."
"Apakah mungkin itu keponakan Ibu yang dulu datang?" tanya Evania.
"Bisa jadi, tapi Tante tidak berani memastikan. Dia pernah mengantar sesuatu ke kantor, tetapi tidak pernah menyebut melihat kamu. Tante bisa tanya kepadanya kalau memang kamu ingin kepastian, tapi jangan sampai kita membuat cerita yang belum tentu ada."
Evania mengangguk. "Kalau Ibu berkenan, tanyakan saja apakah ia pernah datang sekitar waktu itu. Saya tidak perlu tahu hal lain. Saya hanya ingin memastikan kunjungan biasa."
Bu Risna berjanji akan menanyakan dan mengabari mereka jika mendapat jawaban. Panggilan selesai. Evania merasa lega karena tidak ada indikasi bahwa seseorang sengaja mengawasinya, tetapi ia tetap menunggu konfirmasi sebelum menyimpulkan.
Edward menatapnya. "Maaf, aku tidak punya jawaban yang pasti."
"Tidak apa-apa. Lebih baik bilang tidak tahu daripada mengarang."
"Aku juga ingin kamu tahu, aku tidak pernah mencari tahu tentangmu sebelum Mama mengenalkan kita. Aku bahkan tidak tahu namamu saat pertama kali melihatmu di rumah."
"Aku percaya. Aku cuma ingin membereskan hal yang masih mengganjal."
Mereka membicarakan topik lain setelah itu. Tidak ada yang menekan Evania untuk melupakan pertanyaan tersebut. Saat mereka berpisah, Edward berterima kasih karena ia menyampaikan kekhawatirannya langsung. Evania pulang dengan pikiran lebih tenang, menyadari bahwa mengklarifikasi sesuatu tidak harus berubah menjadi tuduhan atau drama.
***
Senin siang, Bu Risna memanggil Evania ke ruangannya. Mila ikut karena sedang menyampaikan berkas. Setelah urusan pekerjaan selesai, Bu Risna menutup map dan berkata bahwa ia sudah berbicara dengan keponakannya.
"Dia ingat pernah mampir ke kantor untuk mengantar dokumen Tante pada sore hari. Katanya dia sempat menunggu di dekat pintu karena tidak tahu ruangan Tante yang mana. Dia tidak tahu kamu ada di dalam, dan tidak memperhatikan siapa pun. Mungkin itu orang yang kamu lihat."
Evania mengangguk. Ia tidak mengenal keponakan itu, dan tidak bisa memastikan wajahnya dari ingatan singkat. Namun penjelasan itu masuk akal dan sesuai dengan kunjungan biasa.
"Jadi dia tidak datang mencariku?" tanyanya.
"Tidak. Dia bilang hanya mengantar dokumen dan langsung pergi setelah bertemu Tante. Waktunya memang sekitar periode yang kamu sebutkan. Tante rasa itu penjelasan paling mungkin, tapi karena kamu tidak melihat wajahnya jelas, kita tidak bisa memastikan seratus persen. Yang jelas tidak ada urusan khusus denganmu."
"Itu sudah cukup, Bu. Saya hanya tidak ingin membayangkan macam-macam. Terima kasih sudah menanyakan."
Mila duduk di kursi samping. "Syukurlah ternyata kunjungan biasa. Aku sempat takut ada cerita panjang yang harus kita pecahkan."
Bu Risna tersenyum. "Kadang orang cuma salah berdiri di dekat pintu, lalu kita memberi musik tegang di kepala sendiri."
Mereka tertawa. Evania merasa sedikit malu karena kejadian sederhana itu sempat menjadi tanda tanya lama. Tetapi ia tidak menyesal telah bertanya. Kini ia memiliki penjelasan yang masuk akal tanpa perlu menciptakan ancaman atau tokoh misterius.
Sore hari, ia menyampaikan hasilnya kepada Edward lewat pesan. Edward membalas bahwa ia lega dan berterima kasih karena Evania sudah memastikan langsung. Ia tidak mengubah kunjungan tersebut menjadi lelucon tentang penguntit atau menyalahkan Evania karena sempat curiga.
Mila memperhatikan Evania mengetik. "Kamu kelihatan lebih santai kalau ngobrol dengannya sekarang."
"Mungkin karena aku mulai percaya dia bisa menerima pertanyaan tanpa merasa diserang. Tapi aku tetap memperhatikan apakah sikapnya konsisten."
"Bagus. Jangan jadikan satu jawaban baik sebagai tiket bebas pemeriksaan."
"Kamu cocok jadi auditor hubungan."
"Bayaranku mahal. Minimal makan siang gratis."
Malam itu, Evania menerima undangan makan dari Edward untuk Rabu malam. Ia menjawab bahwa ia bersedia, lalu menyarankan mereka memilih tempat bersama. Edward setuju. Mereka tidak menggunakan kata kencan, tetapi Evania menyadari ia menantikan pertemuan itu. Rasa tertariknya masih sederhana dan hati-hati, namun kini ada rasa ingin tahu yang tumbuh karena pilihan sendiri.
***
Rabu malam, Evania dan Edward bertemu di restoran kecil yang dipilih bersama. Sebelum berangkat, Evania sudah berkata kepada Mila bahwa ia ingin melihat bagaimana rasanya menghabiskan waktu dengan Edward tanpa menjadikan pertemuan itu sebagai strategi untuk membuat siapa pun cemburu.
Mila menyetujui dengan anggukan dramatis. "Pergilah sebagai dirimu sendiri. Jangan bawa Gio di tas, jangan bawa Junita di dompet."
"Aku tidak pernah membawa orang di dompet."
"Aku bicara kiasan."
"Kiasanmu selalu membuatku khawatir."
Di restoran, Edward sudah memesan meja. Ia berdiri ketika Evania datang, menyapa, lalu bertanya apakah tempat duduknya nyaman. Evania mengangguk. Mereka memesan makanan masing-masing dan sepakat membagi tagihan. Edward tidak menawarkan membayar semuanya, dan Evania tidak merasa harus menerima kemurahan hati untuk menunjukkan kedekatan.
Obrolan mereka mengalir dari pekerjaan ke makanan, lalu ke kebiasaan keluarga. Edward bercerita bahwa Melly pernah mencoba mengajarinya memasak, tetapi ia lebih sering menjadi pencicip daripada membantu. Evania menimpali bahwa setidaknya ia memiliki peran penting dalam pengujian rasa.
"Mama bilang itu alasan supaya aku tidak memotong bawang dengan ukuran berbeda-beda," kata Edward.
"Bawang dengan ukuran berbeda tetap matang, kan?"
"Menurut Mama, tidak seragam berarti tidak serius."
"Aku mulai paham kenapa kamu butuh belajar mandiri."
Mereka tertawa. Evania merasa nyaman, tetapi ia juga memperhatikan bahwa Edward tidak mencoba menyentuhnya atau menanyakan hal-hal yang belum siap ia ceritakan. Ia memberi ruang ketika Evania berhenti bicara sejenak.
Setelah makanan datang, Edward bertanya, "Kamu masih pernah membayangkan membawa pasangan ke pernikahan Gio dan Junita?"
Evania menatapnya. "Dulu aku membayangkan begitu karena ingin membuat mereka merasa aku sudah baik-baik saja. Sekarang aku belum tahu mau hadir atau tidak. Kalau nanti aku membawa seseorang, aku tidak mau alasannya untuk membuat mereka bereaksi."
"Aku setuju. Aku juga tidak ingin menjadi alat dalam cerita lama yang belum selesai."
"Kalau suatu saat kita benar-benar berkencan, itu harus karena kita ingin bersama. Bukan untuk membalas siapa pun."
Edward mengangguk. "Aku ingin itu juga. Tapi aku tidak akan meminta kita menyebut ini kencan kalau kamu belum siap."
Evania memikirkan perasaannya. Ia menyukai percakapan mereka, menghargai keterbukaan Edward, dan ingin tahu lebih banyak. Namun ia belum ingin membuat keputusan malam ini.
"Aku belum siap menjawab sekarang," katanya. "Tapi aku mulai tertarik mengenalmu lebih jauh. Aku ingin kita terus jujur dan pelan-pelan."
Senyum Edward muncul, tetapi ia tidak mendekat atau menganggap jawaban itu sebagai persetujuan menjadi pasangan. "Terima kasih sudah mengatakannya. Aku juga ingin mengenalmu, tanpa buru-buru."
Mereka menghabiskan makan malam dengan topik ringan. Saat pulang, Edward bertanya apakah Evania nyaman berjalan ke parkiran bersama. Ia mengiyakan. Di dekat titik penjemputan, mereka berpamitan. Tidak ada adegan dramatis, tetapi Evania pulang dengan perasaan hangat yang nyata.
Ia mengirim pesan kepada Mila bahwa makan malam berjalan menyenangkan. Mila membalas dengan rentetan tanda tanya dan satu pesan: “Aku tidak akan bertanya detail sampai kamu siap.” Evania tersenyum. Untuk pertama kalinya, keinginan mengenal seseorang terasa terpisah dari kebutuhan membuktikan sesuatu kepada mantan.