Minggu pagi, Evania sedang menyeduh teh ketika ponselnya berbunyi. Nama Gio muncul di layar. Sudah lama ia tidak menerima pesan langsung darinya. Pesan itu singkat: “Aku dengar ada orang yang bilang cerita soal kamu berbeda dari yang pernah kudengar. Bisa kita bicara?”
Evania membaca kalimat itu beberapa kali. Ada rasa kesal yang muncul lebih dulu. Selama ini Gio tidak pernah bertanya, tetapi sekarang ia ingin bicara setelah mendengar versi lain dari orang lain.
Ia tidak langsung membalas. Ia membawa cangkir ke meja, duduk, lalu menelepon Mila.
“Gio menghubungiku,” katanya setelah Mila mengangkat.
“Untuk apa?”
“Katanya mau bicara karena dengar cerita soal aku berbeda dari yang dulu dia dengar.”
Mila terdiam sejenak. “Kamu mau bertemu?”
“Aku belum tahu. Aku ingin dengar penjelasannya, tapi aku juga nggak mau percakapan itu berubah jadi dia meminta aku menenangkan rasa bersalahnya.”
“Kamu bisa menentukan syaratnya. Tempat umum, waktu terbatas, dan kamu boleh pergi kapan saja.”
Evania mengangguk meski Mila tak melihat. Ia mengetik balasan bahwa ia bersedia bertemu di kafe pada Minggu sore, selama mereka membicarakan hal itu dengan jujur. Gio membalas cepat dan menyetujui.
Evania mengabari Karin tentang rencana pertemuan itu. Karin menegaskan ia tidak meneruskan percakapan pribadi mereka. Ia hanya tahu beberapa anggota grup mulai meragukan cerita Junita; ia tidak bisa memastikan siapa yang menghubungi Gio. Evania memutuskan menanyakan hal itu kepada Gio sendiri.
Mila datang ke rumahnya menjelang sore, bukan untuk ikut ke kafe, melainkan memastikan Evania merasa cukup tenang. Mereka duduk di ruang tamu sambil minum teh.
“Kamu nggak perlu pergi kalau berubah pikiran,” kata Mila.
“Aku tahu. Tapi aku ingin bertanya langsung kenapa dia percaya begitu saja. Aku tidak mau terus memutar pertanyaan itu sendirian.”
“Kalau jawabannya mengecewakan?”
“Setidaknya aku mendengar dari dia, bukan dari dugaan.”
Mila menatapnya dengan hati-hati. “Kamu berharap dia minta maaf?”
Evania berpikir. “Aku berharap dia jujur. Kalau dia minta maaf, aku akan dengar. Tapi aku tidak akan kembali hanya karena dia menyesal.”
Mila mengangguk. “Bagus. Aku tunggu kabarmu setelahnya.”
Sebelum berangkat, Evania membawa tas kecil dan memastikan baterai ponselnya cukup. Ia tidak merasa takut bertemu Gio, tetapi ia tahu percakapan itu bisa membuka luka lama. Ia berangkat dengan keputusan yang jelas: mendengar, bertanya, lalu pulang tanpa menyerahkan kendali atas hidupnya.
***
Gio sudah duduk di meja dekat jendela saat Evania tiba. Ia berdiri sebentar untuk menyapa, lalu kembali duduk setelah Evania memilih kursi di seberangnya. Tidak ada pelukan. Mereka bertukar salam singkat, canggung seperti dua orang yang pernah akrab tetapi kini tak tahu harus memakai sapaan apa.
“Aku pesan minum dulu,” kata Evania.
Gio mengangguk. Setelah pelayan pergi, ia memulai. “Terima kasih sudah mau datang. Aku dengar dari teman kalau kabar soal kamu selingkuh itu tidak benar.”
“Dari siapa kamu dengar?”
“Teman lama. Dia bilang cerita soal perselingkuhanmu belum pernah dibuktikan. Dia juga bilang aku tidak pernah tanya langsung ke kamu.”
Evania menatapnya. “Itu benar. Tapi kamu bukan baru sekarang punya kesempatan untuk tahu. Waktu Junita bilang aku berselingkuh, kamu memilih percaya padanya tanpa bertanya kepadaku.”
Gio menunduk. “Aku tahu. Aku salah.”
“Kenapa kamu tidak bertanya?”
Ia mengusap telapak tangannya. “Junita bilang punya bukti. Dia menyebut beberapa hal yang terdengar masuk akal. Aku sedang dekat dengannya waktu itu dan… aku memilih percaya cerita yang lebih mudah kuterima.”
“Lebih mudah karena kamu sudah ingin memilih dia?”
Gio tidak menjawab cepat. Ia melihat ke cangkirnya, lalu mengangguk kecil. “Mungkin. Aku sudah punya perasaan padanya, tapi belum berani mengakuinya. Tuduhan itu membuatku merasa punya alasan untuk mengakhiri hubungan kita.”
Evania merasakan rahangnya mengeras. Ia tetap menjaga suaranya. “Jadi kamu memakai tuduhan itu untuk membenarkan pilihan yang sudah kamu buat.”
“Aku tidak bangga mengakuinya.”
“Lalu kapan kamu mulai mendekati Junita?”
Gio menjelaskan bahwa mereka mulai sering berkomunikasi sebelum perpisahan resmi, tetapi ia menganggapnya hanya sebagai teman. Evania bertanya beberapa kali untuk memastikan urutan waktunya. Semakin jelas ceritanya, semakin tampak bahwa Gio telah membiarkan kedekatan itu tumbuh sambil menghindari percakapan jujur dengannya.
“Kamu bisa saja bilang hubungan kita sudah tidak berjalan,” kata Evania. “Kamu bisa mengakhirinya sebelum mendekati orang lain. Tapi kamu memilih percaya fitnah dan membuatku seolah penyebab semuanya.”
“Aku tahu. Aku pengecut.”
Pelayan mengantar minuman. Mereka berhenti sejenak. Evania mengambil cangkirnya, memberi dirinya waktu untuk menenangkan dada.
“Aku minta maaf,” ujar Gio setelah jeda. “Aku seharusnya bertanya dan memberimu kesempatan menjelaskan. Aku juga seharusnya jujur tentang perasaanku kepada Junita.”
Evania menerima permintaan maaf itu dengan anggukan kecil. “Aku dengar. Tapi aku tidak datang untuk kembali. Aku ingin memahami apa yang terjadi supaya aku bisa berhenti menyalahkan diri sendiri.”
“Aku tidak berharap kita kembali hari ini.”
“Bagus. Aku juga tidak akan menjadi tempatmu mencari kepastian sebelum menikah dengan Junita.”
Wajah Gio berubah, tetapi ia tidak membantah. Evania melihat jam. Mereka belum selesai membicarakan semuanya, tetapi ia sudah mendapat jawaban yang ia cari. Ia bertanya apakah Gio ingin menambahkan sesuatu yang benar-benar penting. Gio menggeleng.
Evania berdiri. “Kalau begitu, aku pulang. Terima kasih sudah menjawab.”
Gio ikut berdiri, namun tidak mencoba menahannya. “Aku harap kamu bisa memaafkanku suatu hari.”
“Aku akan memikirkan itu untuk diriku sendiri. Jangan jadikan itu syarat agar kamu merasa lebih baik.”
Mereka berpisah di depan kafe. Evania berjalan ke titik penjemputan taksi daringnya dengan sedih dan marah sekaligus, tetapi tidak lagi membawa pertanyaan tanpa jawaban. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa satu pintu yang lama menggantung akhirnya bisa ia tutup sendiri.
***
Sesampainya di rumah, Evania meletakkan tas dan duduk cukup lama tanpa menyalakan lampu ruang tamu. Percakapan dengan Gio masih bergema. Bagian yang paling menyakitkan bukan sekadar ia memilih Junita, melainkan pengakuannya bahwa tuduhan itu memberinya alasan untuk mengakhiri hubungan yang sebenarnya sudah ia ragukan.
Ponselnya menyala dengan pesan dari Mila: “Sudah selesai? Kamu baik-baik saja?”
Evania membalas bahwa ia sudah pulang. Mila menelepon beberapa saat kemudian. Evania menceritakan percakapan itu dengan ringkas. Ia tidak menyembunyikan bahwa Gio mengaku telah menyimpan perasaan kepada Junita sebelum hubungan mereka berakhir.
“Jadi dia percaya fitnah karena itu memudahkan dia pergi,” kata Mila.
“Iya. Dia mengaku pengecut. Aku tidak tahu apakah itu membuatku lebih lega atau lebih marah.”
“Keduanya boleh ada.”
Evania menutup mata. “Aku tidak mau balikan. Aku bilang jelas. Tapi bagian diriku masih sedih karena ternyata semua yang kutakutkan dulu benar. Dia sudah memilih sebelum hubungan kami selesai.”
Mila membiarkannya diam sejenak. “Sedih bukan berarti kamu ingin kembali. Kamu kehilangan sesuatu yang pernah kamu harapkan. Itu tetap kehilangan.”
Evania mengusap pipi. Ia tidak menangis keras, hanya membiarkan air mata jatuh sedikit. “Aku capek merasa harus membuktikan aku tidak bersalah.”
“Sekarang kamu sudah menjelaskan kepada orang yang perlu mendengar. Kamu tidak harus mengulangnya setiap hari.”
Mereka berbicara sampai Evania merasa lebih tenang. Setelah menutup telepon, ia membuka percakapan dengan Gio dan mengarsipkannya. Ia belum memblokirnya; ia hanya ingin menjauh sebentar tanpa membuat keputusan saat emosinya masih penuh.
***
Senin sore, Evania mengirim pesan kepada Edward dan bertanya apakah ia bisa bicara sebentar. Edward membalas bahwa ia bisa menelepon jika Evania nyaman. Ia memilih telepon, bukan bertemu, karena hanya ingin memberi tahu sebelum ia mendengar kabar dari orang lain.
“Gio menghubungiku kemarin,” kata Evania setelah mereka saling menyapa.
Edward terdiam sesaat. “Kalian bertemu?”
“Iya. Dia ingin membicarakan fitnah yang disebarkan Junita. Aku bertanya kenapa dia percaya tanpa bertanya kepadaku dan kapan dia mulai dekat dengan Junita.”
“Bagaimana percakapannya?”
“Dia mengakui memilih percaya karena saat itu dia sudah punya perasaan kepada Junita. Tuduhan itu memberinya alasan untuk pergi. Dia meminta maaf, tapi aku bilang aku tidak ingin kembali.”
Edward menghela napas pelan. “Aku turut menyesal kamu harus mendengar itu langsung.”
“Rasanya sakit, tapi setidaknya aku berhenti menebak. Aku ingin memberitahumu sendiri supaya kamu tidak mendengarnya lewat teman kantor atau Melly.”
“Aku menghargai kamu memberitahu. Aku tidak akan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Ada sedikit cemburu membayangkan kalian duduk berdua, tapi itu perasaanku untuk kuurus. Kamu tidak melakukan kesalahan dengan bertemu dia.”
Evania bersandar di kursi. Kejujuran Edward terdengar rapuh, tetapi tidak berubah menjadi larangan. “Terima kasih sudah bilang tanpa menyalahkanku karena pertemuan itu. Aku memang perlu menyelesaikan percakapan itu sendiri.”
“Aku mengerti. Aku juga tahu kita belum berjanji apa-apa.”
“Kita berteman dan saling mengenal. Aku tidak ingin kamu berpikir aku menyembunyikan sesuatu.”
“Aku tidak berpikir begitu.” Edward berhenti sebentar. “Kamu mau cerita lebih banyak tentang apa yang kamu rasakan?”
Evania mempertimbangkan tawaran itu. “Belum malam ini. Aku sudah bicara dengan Mila dan aku ingin memberi diriku waktu. Tapi aku menghargai kamu bertanya.”
“Baik. Kalau nanti kamu ingin bicara, aku dengarkan. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.”
Percakapan mereka berlangsung beberapa menit lagi tentang pekerjaan. Edward tidak menggali detail dan Evania tidak merasa perlu menenangkannya. Ketika mereka menutup telepon, ia merasa telah melakukan hal yang benar dengan memberi tahu secara langsung.