Pada Senin siang pekan berikutnya, Evania sedang menutup berkas ketika ponselnya bergetar. Jenny mengirim pesan bahwa ia ingin bicara setelah jam kerja. Pesannya tidak panjang, tetapi ada nada serius yang membuat Evania berhenti mengetik.
Ia membalas bahwa mereka bisa bertemu di kedai kopi dekat kantor. Mila melirik wajahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Jenny mau bicara nanti. Katanya ada kabar tentang Gio dan Junita."
Mila meletakkan pena. "Kamu mau dengar?"
Evania menimbang sejenak. Ia pernah berkata kepada diri sendiri bahwa kabar mereka tidak lagi penting, tetapi rasa ingin tahu masih ada. Lebih baik ia mendengar dengan tenang daripada mendapatkannya dari unggahan yang belum tentu benar.
"Aku mau tahu kabar apa, tapi aku nggak akan menganggap semua versinya benar sebelum tanya sumbernya."
"Bagus. Kalau terasa terlalu berat, kamu bisa pulang. Kabari kalau perlu aku menemani."
Sore itu, Jenny sudah menunggu di kedai kopi. Ia tampak gelisah, memainkan sedotan tanpa meminum es tehnya. Evania duduk dan memesan minuman, lalu bertanya langsung.
"Ada apa?"
Jenny merapatkan kedua tangannya. "Aku dengar rencana pernikahan Gio dan Junita makin pasti. Mereka katanya sedang membicarakan tanggal dan tempat. Aku belum tahu tanggalnya."
"Kamu dengar dari siapa?"
"Dari teman yang masih berhubungan dengan keluarga Junita. Dia melihat mereka membahas daftar tamu. Tapi aku belum melihat undangannya."
Evania mengangguk. Ia merasakan dada sedikit menegang, tetapi kabar itu tidak membuatnya terkejut. "Jadi yang kamu tahu baru mereka sedang membicarakan rencana, belum ada tanggal resmi?"
"Iya. Aku nggak mau bikin kamu kaget kalau nanti benar-benar ada kabar."
"Terima kasih sudah bilang. Aku menghargai kamu memastikan dulu. Aku belum mau menyimpulkan mereka sudah menikah atau tanggalnya sudah ditetapkan."
Jenny menunduk. "Aku juga mau minta maaf karena dulu ikut memantau kamu untuk Junita. Aku tahu aku belum membicarakan itu dengan benar. Waktu itu aku pikir cuma membantu teman, tapi aku seharusnya sadar itu membuatmu seperti bahan laporan."
Evania diam sesaat. Ia belum siap membahas semuanya sekarang, tetapi ia menghargai pengakuan itu. "Aku masih ingat. Aku belum tahu harus bilang apa. Tapi aku dengar permintaan maafmu. Jangan lakukan lagi kepada siapa pun."
Jenny mengangguk cepat. "Aku nggak akan."
Mereka berbicara sebentar tentang kabar lain. Evania tidak meminta Jenny mencari tahu lebih jauh soal tanggal. Ia tak ingin menjadikan teman sebagai mata-mata, apalagi setelah mengetahui bagaimana rasanya menjadi bahan pantauan.
Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan bahwa pernikahan Gio dan Junita mungkin benar-benar akan terjadi. Dulu ia membayangkan membawa pasangan baru ke acara itu untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja. Kini ia belum tahu apakah ingin hadir, apalagi membawa siapa pun. Ia belum perlu memutuskan malam ini.
Sesampainya di rumah, ia menulis kepada Karin untuk menanyakan apakah ada informasi lain yang bisa diverifikasi. Karin menjawab bahwa ia akan mengecek unggahan grup, bukan mencari kabar pribadi. Evania menyetujui batas itu. Yang ia butuhkan adalah fakta, bukan laporan tentang setiap gerak Gio dan Junita.
***
Rabu malam, Evania menatap nomor orangtuanya di layar ponsel. Sejak putus dengan Gio, ia belum memberi tahu mereka. Setiap kali menelepon, ia selalu membicarakan pekerjaan, kabar rumah, atau hal kecil lain. Ia terus berkata pada dirinya sendiri bahwa akan lebih mudah menunggu sampai ia merasa siap.
Namun sekarang, kabar rencana pernikahan Gio dan Junita membuatnya sadar bahwa menunda hanya membuat cerita itu semakin berat disimpan sendiri. Ia menekan tombol panggil.
Ibunya menjawab setelah dering kedua. "Halo, Nak. Kamu sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Evania hampir kehilangan keberanian. Ia bertukar kabar beberapa menit, lalu meminta ayahnya ikut bergabung dalam panggilan.
"Ada yang ingin aku ceritakan," katanya setelah ayahnya menyapa.
Ibunya langsung terdengar khawatir. "Kamu sakit? Ada masalah di kantor?"
"Bukan. Aku baik-baik saja. Aku cuma mau cerita bahwa aku dan Gio sudah putus."
Hening menyusul. Evania menggenggam ponsel lebih erat.
"Sejak kapan?" tanya ayahnya.
Evania menyebutkan waktunya dan menceritakan bahwa Gio memilih mempercayai tuduhan Junita bahwa dirinya berselingkuh. Ia tidak menceritakan dengan nada marah, tetapi juga tidak mengecilkan luka yang ia rasakan. Ia menjelaskan bahwa tuduhan perselingkuhan itu tidak benar. Edward bukan rekan sekantornya dan baru ia temui setelah hubungannya dengan Gio berakhir.
"Kenapa baru sekarang kamu bilang?" tanya ibunya.
"Aku takut Mama dan Papa khawatir. Aku ingin mengatakannya langsung saat kalian pulang, supaya tidak merusak waktu kalian bersama cucu. Tapi Gio tidak bertanya kepadaku sebelum percaya. Aku bingung harus menjelaskan dari mana, lalu makin lama makin sulit memulai."
Ayahnya menghela napas. "Kami sedih kamu melewati ini sendirian. Tapi kami tidak marah karena kamu baru cerita. Kami hanya ingin kamu tahu, kamu bisa menghubungi kami meski ceritanya belum rapi."
Mata Evania terasa panas. Ia menunduk, berusaha menahan tangis. Ibunya berkata bahwa ia tak perlu buru-buru mencari pasangan baru atau membuktikan dirinya baik-baik saja. Yang penting ia merasa aman dan dihargai.
"Aku tahu," jawab Evania lirih. "Aku belum ingin buru-buru. Ada teman baru yang sedang kukenal, tapi kami baru berteman. Aku tidak ingin kalian mengira aku langsung mengganti Gio."
"Kami tidak akan mengira begitu," kata ayahnya. "Kamu berhak berteman dan menentukan sendiri kapan siap."
Mereka berbicara cukup lama. Orangtuanya tidak memaksa tahu semua detail, dan Evania tidak perlu membela diri atas pilihannya. Setelah menutup telepon, ia duduk diam di sofa. Dadanya terasa ringan sekaligus lelah.
Ia mengirim pesan kepada Mila bahwa ia akhirnya sudah bercerita kepada orangtuanya. Mila membalas dengan hati dan mengatakan ia bangga Evania melakukannya saat siap. Evania lalu mengirim pesan singkat kepada Edward: ia baru saja menceritakan perpisahannya kepada orangtua. Edward membalas bahwa ia senang Evania tidak harus menanggungnya sendirian, tetapi tidak bertanya apakah ia ingin ditemani.
Evania menghargai ruang itu. Malam tersebut bukan tentang membuka hubungan baru. Itu tentang berhenti menyembunyikan bagian hidupnya dari keluarga yang menyayanginya.
***
Kamis pagi, Evania bangun dengan mata agak sembap. Ia tidur larut setelah berbicara lama dengan orangtuanya, tetapi ada ketenangan yang tidak ia rasakan sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan dan membaca pesan ibunya yang masuk menjelang pagi: mereka menyayanginya dan akan menunggu kapan pun ia ingin bercerita lagi.
Di kantor, Mila langsung menyadari wajahnya. "Kamu habis menangis?"
"Sedikit. Aku cerita ke Mama dan Papa semalam."
Mila menarik kursi ke dekat mejanya. "Gimana respons mereka?"
"Mereka sedih aku menyimpan sendiri, tapi nggak marah. Mereka bilang aku bisa cerita meski belum tahu semua jawabannya."
Mila mengangguk. "Kedengarannya baik. Kamu kelihatan lega."
"Iya. Aku juga merasa agak bodoh karena terlalu lama takut mereka kecewa. Padahal mereka justru ingin tahu supaya bisa mendukungku."
"Kamu bukan bodoh. Kamu sedang berusaha melindungi semua orang sekaligus. Itu melelahkan, tapi bukan berarti kamu harus terus begitu."
Evania menyimpan ponselnya dan membuka berkas. Ia mengerjakan tugas dengan lebih tenang. Menjelang siang, Bu Risna bertanya apakah ia baik-baik saja. Evania menjawab bahwa ia sedang memproses kabar keluarga, lalu kembali bekerja. Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh di kantor.