Sabtu pagi, Edward duduk di meja makan bersama Melly. Ia membawa catatan transfer dan daftar pengeluaran bulan ini. Melly memandang tumpukan kertas itu dengan rasa ingin tahu.
"Kamu mau menghitung uang? Tumben. Biasanya kamu menghitung berapa hari lagi sampai akhir bulan," godanya.
"Aku sedang mengecek pinjaman Andika. Dia minta uang lagi kemarin. Aku menolak."
Melly berhenti mengaduk kopi. "Akhirnya kamu menolak. Bagaimana rasanya?"
"Seperti teman yang jahat."
"Menolak memberi pinjaman tambahan kepada orang yang belum mengembalikan pinjaman lama bukan berarti jahat. Kamu juga punya kebutuhan sendiri."
Edward tahu ibunya benar. Ia pernah meminjam uang kepada Melly untuk menutup biaya hidup karena uangnya terlalu lama berada di tangan Andika. Melly pernah memarahinya keras karena kebiasaan itu. Edward masih ingat rasa malu ketika harus meminta bantuan untuk kebutuhan yang semestinya bisa ia tanggung sendiri.
"Aku harus melunasi pinjaman biaya hidup ke Mama juga," katanya. "Aku nggak mau terus bergantung kalau uangku sendiri habis dipinjamkan."
Melly meletakkan cangkir. "Kita hitung saja berapa yang kamu pinjam dari Mama dan bagaimana kamu bisa mencicilnya. Jangan bayar sekaligus kalau itu membuat kebutuhanmu sendiri berantakan. Tapi aku ingin kamu membuat rencana yang kamu jalankan."
Edward mengambil kertas kosong dan menulis jumlah utang kepada ibunya. Ia menghitung gaji bersih, biaya transportasi, makan, tagihan, dan kebutuhan rutin. Setelah mengurangi semuanya, ia menemukan jumlah yang bisa disisihkan setiap bulan tanpa mengandalkan bonus.
"Kalau aku transfer segini tiap tanggal gajian, bisa lunas dalam beberapa bulan," ujarnya.
Melly melihat angka itu. "Kamu yakin masih cukup untuk kebutuhanmu?"
"Cukup kalau aku mengurangi pesan makanan dan berhenti membayar makan Andika setiap kali kami bertemu."
"Akhirnya dia bisa membeli makan sendiri. Sebuah keajaiban ekonomi."
Edward tertawa. "Aku nggak akan menagih semua biaya makan lama. Tapi mulai sekarang, kami bayar masing-masing."
Melly mengangguk. Ia tidak menawarkan menanggung utang itu. Ia tahu putranya perlu menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri, bukan diselamatkan berulang kali.
Setelah sarapan, Edward mengirim pesan kepada Andika, meminta kejelasan tanggal pembayaran. Kali ini Andika membalas bahwa ia dapat mengirim sebagian pada akhir bulan dan sisanya akan dibicarakan setelah pembayaran klien cair. Belum ada tanggal untuk pelunasan penuh, tetapi setidaknya ada komitmen awal.
Edward menjawab bahwa ia mencatat pembayaran akhir bulan sebagai bagian pertama dan meminta mereka membicarakan tanggal sisa setelah transfer diterima. Ia tidak menambahkan ancaman atau sindiran.
Siangnya, ia mengirim cicilan pertama kepada Melly dari uang yang disisihkan setelah gajian. Jumlahnya tidak besar, tetapi cukup untuk menunjukkan ia mulai menjalankan rencana. Melly menerima transfer itu lalu mengirim stiker jempol.
"Mama bisa bilang terima kasih langsung, bukan pakai stiker," kata Edward.
"Stiker lebih hemat kata. Lagipula, aku bangga kamu mulai bertanggung jawab. Tapi jangan berharap utangmu lunas hanya dengan satu jempol."
Edward memasukkan catatan ke map. Ia masih perlu memperbaiki kebiasaannya, tetapi untuk pertama kali ia menuliskan batas dan jadwal dengan jelas. Ia merasa tidak nyaman, namun juga merasa sedikit lebih bebas.
***
Minggu sore, Evania dan Edward bertemu untuk makan di tempat yang sama seperti sebelumnya. Mereka sudah bertukar pesan beberapa kali dalam sepekan, kebanyakan tentang hal ringan. Pertemuan kali ini dipilih bersama, tanpa Melly menjadi pengatur.
Edward datang lebih dulu dan memilih meja dekat jendela. Saat Evania tiba, ia mengangkat tangan menyapa.
"Hari ini kamu kelihatan serius," kata Evania setelah duduk.
"Ada urusan uang yang harus kubereskan. Andika meminta pinjaman lagi. Aku menolak dan meminta tanggal pengembalian pinjaman lama."
Evania meletakkan tasnya di kursi sebelah. "Kamu mau cerita atau cuma memberi tahu?"
"Aku mau cerita. Tapi aku nggak meminta kamu ikut menyelesaikannya."
"Bagus. Aku juga nggak punya dana darurat untuk menyelamatkan temanmu." Nada Evania ringan, tetapi ia ingin memastikan batasnya jelas.
Edward tersenyum. "Aku tidak berharap begitu. Aku sadar selama ini aku memberi terlalu banyak tanpa memikirkan kebutuhan sendiri. Sampai sempat meminjam biaya hidup dari Mama."
"Apa yang membuatmu terus bilang iya?"
Edward berpikir sejenak. "Aku takut dibilang pelit. Andika temanku sejak lama, dan setiap kali dia minta bantuan, alasannya terdengar masuk akal. Aku pikir kalau aku bisa membantu, aku harus membantu."
"Membantu itu pilihan. Kalau sampai kamu harus meminjam uang untuk hidup sehari-hari karena uangmu dipinjamkan, mungkin batasnya sudah kelewat."
"Iya. Aku baru benar-benar melihatnya setelah menghitung pengeluaran. Aku sudah mulai mencicil pinjaman ke Mama dari gaji. Andika juga berjanji membayar sebagian akhir bulan."
Evania mengangguk. "Kamu sendiri yang mengatur rencananya?"
"Iya. Mama cuma membantu melihat angkanya masuk akal. Aku tidak mau meminta dia menanggung lagi."
"Kedengarannya langkah yang baik. Tapi jangan menganggap satu kali menolak berarti semua kebiasaanmu sudah berubah. Kamu harus mempertahankan batas itu kalau dia meminta lagi."
Edward menerima kalimat itu tanpa tersinggung. "Aku tahu. Aku mungkin masih akan merasa bersalah."
"Merasa bersalah bukan bukti kamu melakukan hal yang salah." Evania berhenti sebentar. "Tapi kamu perlu pastikan kamu tetap memenuhi kebutuhanmu sendiri. Jangan sampai nanti kamu marah pada Andika karena keputusan yang sebenarnya kamu buat sendiri."
Edward menatapnya. "Itu yang sering terjadi. Aku bilang iya, lalu kecewa sendiri ketika uangku kurang."
Pelayan datang mengambil pesanan. Mereka berbicara tentang pekerjaan sementara menunggu makanan. Edward tidak meminta Evania memuji keputusannya, dan Evania tidak mengambil alih urusan tersebut. Percakapan terasa lebih setara daripada yang ia bayangkan.
Setelah makan, Edward menunjukkan catatan sederhana tentang jumlah utang yang masih ada, bukan sebagai bahan pamer, melainkan untuk menjelaskan kenapa ia mulai berhati-hati. Evania melihat sekilas lalu mengembalikan ponselnya.
"Kamu tidak perlu menunjukkan angka kepadaku. Yang penting kamu jujur pada dirimu dan orang yang terlibat."
"Aku mengerti. Aku cuma ingin kamu tahu karena aku tak mau menyembunyikan hal yang mungkin memengaruhi cara hidupku."
"Terima kasih sudah cerita. Aku tetap ingin mengenalmu sebagai Edward, bukan sebagai rekening tabungan berjalan."
"Dan aku ingin dikenal sebagai Edward yang belajar bilang tidak sebelum saldo rekeningnya ikut protes."
Evania tertawa. Mereka berpisah dengan rencana bertemu lagi minggu depan, kali ini untuk makan siang sederhana. Tidak ada janji besar, hanya keinginan melanjutkan percakapan.
***
Senin malam, Edward menerima pesan dari Andika. Ia mengabarkan bahwa sebagian pembayaran kliennya mundur dan meminta kelonggaran untuk cicilan akhir bulan. Edward membaca pesan itu sambil duduk di kamar. Dorongan pertama adalah menjawab, “Tidak apa-apa, nanti saja.” Ia berhenti sebelum mengetik.
Ia membuka catatan utang yang dibuatnya pada Sabtu. Ada tanggal yang telah disepakati, dan ia perlu tahu apakah Andika meminta perubahan tanggal atau sekadar memberi kabar. Edward menulis bahwa ia memahami pembayaran klien mundur, tetapi meminta Andika memberi tanggal baru yang pasti untuk cicilan pertama. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak dapat meminjamkan uang lagi.
Andika membalas beberapa menit kemudian. Ia meminta sampai tanggal lima bulan berikutnya dan berjanji mengirim sejumlah yang telah mereka bicarakan. Edward mencatatnya. Ia tidak menyukai penundaan itu, tetapi setidaknya kali ini ada tanggal yang jelas.
Edward kemudian turun ke ruang tengah. Melly mendapati putranya masih menatap ponsel. "Andika?"
Edward mengangguk dan menunjukkan percakapan. "Cicilan pertama mundur ke tanggal lima. Aku minta tanggal pasti."
"Kamu merasa ingin memberi dia tambahan?"
"Sempat. Tapi aku ingat aku masih punya biaya hidup sendiri dan utang ke Mama."
"Bagus. Kamu bisa berempati tanpa membuka dompet setiap kali dia punya masalah."
Edward menaruh ponsel. "Aku baru sadar aku sering menganggap uang yang kupinjamkan sebagai bukti persahabatan. Padahal kalau aku tidak pernah menyebut kapan harus dikembalikan, dia juga bisa menganggap itu tidak mendesak."
"Kamu boleh mengakui bagianmu. Tapi tanggung jawab mengembalikan tetap ada pada dia. Jangan mengambil semua kesalahan sekaligus."
Edward mengangguk. Ia memikirkan percakapan dengan Evania pada Minggu. Perempuan itu tidak menawarkan uang atau mengambil alih, hanya mengingatkannya bahwa keputusan membantu harus tetap menyisakan ruang bagi kebutuhan sendiri. Ia menghargai itu.
Besoknya, ia mengajak Andika bertemu di kedai dekat kantor saat jam makan. Edward mengeluarkan catatan di ponselnya dan menyampaikan jumlah yang belum dikembalikan serta tanggal cicilan pertama. Ia tidak mengangkat suara atau mempermalukan temannya. Andika tampak tidak nyaman, tetapi setuju dengan angka dan tanggal tersebut.
"Aku nggak mau persahabatan kita cuma jadi urusan utang," ujar Edward. "Tapi aku juga nggak bisa terus menambah pinjaman. Kita perlu pisahkan dua hal itu."
Andika mengangguk. "Aku paham. Maaf sudah membuatmu harus menagih."
"Aku juga seharusnya dari awal lebih jelas. Kita sama-sama perlu menepati yang disepakati."
Percakapan tidak langsung memperbaiki semua rasa canggung. Mereka makan dengan topik lain setelah itu, tetapi Edward tahu ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi pura-pura tak ada masalah demi menjaga suasana. Sesampainya di meja, ia memasukkan tanggal pembayaran ke kalender dan kembali bekerja.
Malamnya, ia mengirim pesan kepada Evania bahwa mereka sudah membicarakan cicilan dengan jelas. Evania membalas, "Semoga kesepakatan itu dijalankan. Jangan lupa sisihkan uang untuk kebutuhanmu sendiri." Edward tersenyum membaca pesan tersebut. Ia membalas singkat bahwa ia akan mengingatnya, lalu menutup ponsel.
***
Pada tanggal lima bulan berikutnya, Edward membuka catatan utang Andika sebelum mulai bekerja. Hari itu adalah tanggal yang mereka sepakati untuk cicilan pertama. Ia tidak ingin mengirim pesan bernada menagih dengan marah, tetapi ia juga tidak mau berpura-pura lupa.
Ia menulis singkat: “Pagi, Andika. Hari ini tanggal cicilan yang kita sepakati. Tolong kabari kalau transfer sudah dilakukan.” Pesan itu terkirim. Edward menaruh ponsel dan kembali memeriksa laporan.
Menjelang siang, Andika menelepon. Ia meminta maaf karena belum bisa membayar penuh sesuai jumlah yang direncanakan. Pembayaran klien baru masuk sebagian, dan ia bisa mengirim setengah cicilan hari itu.
Edward menahan kekecewaan. “Kita sepakat jumlah tertentu. Kalau kamu hanya bisa mengirim setengah, aku perlu tahu kapan sisanya dibayar.”
“Bisa akhir pekan depan. Aku benar-benar lagi seret.”
“Baik. Kirim setengah hari ini dan sisanya akhir pekan depan. Tapi aku tidak bisa memberi pinjaman baru. Kita perlu menyelesaikan yang lama dulu.”
Andika menghela napas. “Aku tahu. Aku tidak akan minta tambahan lagi.”
Edward menulis tanggal dan jumlah baru. Ia tidak ingin kesepakatan hanya tersimpan dalam percakapan lisan. Setelah panggilan berakhir, ia merasa ada ketegangan di bahunya, tetapi juga merasa lebih teratur.
Toby lewat membawa kopi. “Berhasil menagih?”
“Sebagian hari ini, sisanya akhir pekan depan.”
“Dan kamu tidak menambah pinjaman?”
“Tidak.”
“Bagus. Poin karakter bertambah.” Toby menyerahkan kopi. “Ini bukan traktiranmu. Aku beli sendiri.”
Edward tertawa. Ia memberi tahu Melly lewat pesan tentang pembayaran yang tertunda. Melly membalas bahwa ia harus mencatatnya dan tidak perlu mengambil keputusan karena rasa kasihan. Edward berterima kasih.
Setelah Edward memastikan transfer setengah cicilan itu benar-benar masuk, ia mencatat jumlahnya. Sore harinya, Evania mengirim pesan menanyakan bagaimana urusan pinjaman. Edward menjelaskan bahwa Andika membayar setengah cicilan dan berjanji menyelesaikan sisanya pekan berikutnya. Ia menambahkan bahwa dirinya tetap tidak meminjamkan uang lagi.
Evania menjawab, “Bagus. Semoga dia menepati bagian sisanya. Jangan ubah anggaranmu hanya karena merasa tidak enak.”
Edward membalas bahwa ia akan tetap mengikuti rencana. Ia menyadari Evania tidak menilai Andika atau mengatur keuangannya. Ia hanya mengingatkan batas yang sudah ia pilih.
Malam itu, Edward memeriksa pengeluaran bulanannya. Ia menyisihkan dana untuk kebutuhan rutin, cicilan kepada Melly, dan tabungan kecil. Angkanya tidak membuatnya kaya, tetapi masuk akal. Ia menutup aplikasi dan merasa lebih tenang daripada saat selalu menebak apakah uangnya cukup.
***
Menjelang akhir pekan berikutnya, Edward menerima pesan dari Andika. Transfer sisa cicilan belum dilakukan. Andika meminta waktu sampai hari Senin karena ada keterlambatan administrasi. Edward membaca pesan itu dan menahan dorongan untuk menganggap janji sebelumnya tidak berarti apa-apa.
Ia membalas bahwa ia mencatat perubahan tanggal sampai Senin, tetapi tidak bisa memberi pinjaman baru dan meminta Andika mengabari setelah transfer selesai. Ia tidak mengubah anggaran untuk menutup kekurangan itu. Ia tahu uang tersebut belum masuk, jadi ia tidak mengandalkannya.
Sepulang kerja, Melly melihat Edward mengecek catatan. “Dia menunda lagi?”
“Iya, sampai Senin. Aku tidak akan mengubah rencanaku sebelum uangnya masuk.”
“Bagus. Kamu tidak perlu marah, tapi tetap boleh tegas.”
***
Senin malam, Andika akhirnya mengirim sisa cicilan yang dijanjikan. Edward memeriksa jumlahnya, mencatat tanggal transfer, dan membalas bahwa uang sudah diterima. Ia tidak menambahkan pinjaman baru. Sisa utang masih ada, tetapi cicilan kali ini dibayar sesuai kesepakatan terakhir.
Ia memberi tahu Melly bahwa transfer masuk. Melly menjawab agar ia tetap menyimpan catatan sampai semua lunas. Edward mengangguk dan memperbarui tabel sederhana di ponselnya.