Kamis sore menjelang pulang, Edward mengirim pesan singkat langsung kepada Evania. Ia bertanya apakah Evania keberatan jika mereka sesekali bertukar kabar lewat pesan. Ia menambahkan bahwa ia tidak mengharapkan jawaban tertentu dan akan menghormati jika Evania tidak ingin.
Evania membaca pesan itu beberapa kali. Ia belum memutuskan ingin sering berbicara, tetapi ia tidak merasa terdesak. Ia membalas bahwa sesekali bertukar kabar tidak masalah, selama keduanya tidak menganggapnya sebagai hubungan romantis. Edward menjawab bahwa ia mengerti.
Mila melihat senyum kecil di wajah Evania. "Itu Edward?"
"Iya. Dia tanya kalau boleh sesekali bertukar kabar. Aku bilang boleh, tapi bukan berarti pacaran."
"Dan dia setuju?"
"Iya."
"Baik. Aku mendukung komunikasi yang jelas. Aku juga mendukung pulang tepat waktu." Mila mengangkat tasnya. "Ayo, sebelum kita berdua berubah jadi penghuni kantor."
Di perjalanan pulang, Evania memikirkan bagaimana rasanya menjawab pertanyaan tentang masa lalu tanpa harus meminta maaf atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia belum sepenuhnya bebas dari rasa sakit karena Gio pernah percaya pada fitnah itu, tetapi kini ia bisa mengucapkan kebenarannya dengan tenang.
Ketika Evania menyebut belum sempat makan, Edward mengatakan ia kebetulan berada di dekat kantornya. Mereka memilih kafe bersama lewat pesan dan sepakat bertemu malam itu. Evania akan berangkat dan pulang dengan kendaraan daringnya sendiri.
***
Kamis malam, Edward menunggu Evania di luar kafe kecil yang mereka sepakati. Mereka tidak menyebutnya kencan. Evania ingin makan setelah jam kerja, Edward sedang berada di sekitar kantor, lalu ia menawarkan tempat yang mudah dijangkau. Evania setuju karena ingin berbicara sebentar, bukan karena merasa berutang waktu.
Ia datang dengan tas kerja di bahu. Edward berdiri saat melihatnya, lalu menunjuk kursi yang masih kosong.
"Terima kasih sudah mau bertemu," katanya.
"Aku juga memang perlu makan. Jadi kita sama-sama berkepentingan." Evania duduk dan membuka menu. "Apa yang enak di sini?"
"Sup ayamnya aman. Kopinya lumayan. Kue cokelatnya terlalu manis, tapi Toby bilang itu bukan masalah kalau gratis."
"Toby terdengar seperti ahli kuliner yang berintegritas rendah."
Mereka memesan makanan. Obrolan awal berkisar pada pekerjaan dan cuaca, tetapi Evania akhirnya menceritakan bahwa seorang teman lama bertanya tentang fitnah perselingkuhan. Ia tidak menyebut nama orang yang menyebarkannya, hanya menjelaskan bahwa ia memilih menjawab dengan tanggal dan fakta.
Edward menyimak. "Kamu merasa perlu membuktikan diri?"
"Aku merasa perlu menjelaskan kepada orang yang bertanya dengan niat baik. Tapi aku nggak mau menghabiskan hari untuk meyakinkan semua orang. Kalau ada yang sudah memutuskan percaya kabar itu, penjelasan panjang mungkin tidak mengubah apa-apa."
Edward mengangguk. "Aku paham. Toby mengingatkanku supaya tidak menjadikan hubungan sebagai pertunjukan. Aku dulu suka memamerkan Susan karena semua orang bilang dia menarik. Seolah-olah kalau mereka iri, berarti hubunganku berhasil."
Evania menatapnya. "Kamu masih sering membandingkan orang lain dengan Susan?"
Pertanyaan itu terus terang, tetapi nadanya tidak menuduh. Edward menaruh sendok. "Kadang. Aku masih punya kenangan. Aku belum sepenuhnya lepas dari rasa kehilangan, tapi aku tahu Susan sudah menikah dan hidupnya berjalan. Aku tidak berhak menjadikan kenangan itu alasan menahan hidupku sendiri."
"Kamu tidak harus berpura-pura sudah sembuh supaya terlihat siap bertemu orang baru."
"Aku juga tidak mau membuat orang baru jadi obat."
Ada jeda singkat. Evania mengaduk minumannya. "Aku pun belum sepenuhnya pulih dari cara Gio percaya pada Junita. Aku sering bertanya kenapa dia tidak pernah bertanya langsung kepadaku. Tapi aku tidak ingin setiap obrolan kita selalu tentang mantan."
"Setuju. Kita boleh jujur tanpa tinggal di sana."
Makanan tiba. Mereka beralih membahas hal ringan, termasuk Mila yang mengancam akan mengirim pesan huruf kapital dan Toby yang berharap mendapat kopi gratis. Evania tertawa lebih lepas daripada yang ia perkirakan. Ia tetap sadar bahwa tawa bukan janji, dan Edward tidak mencoba menafsirkan begitu.
Setelah makan, mereka berjalan keluar bersama. Di trotoar, Edward berhenti pada jarak yang wajar. "Terima kasih sudah cerita. Kalau kamu mau, kita bisa sesekali makan atau ngobrol lagi. Tapi kalau kamu ingin menjaga jarak, bilang saja."
Evania menimbang jawabannya. "Aku bersedia sesekali bertemu sebagai teman. Kita pelan-pelan saja. Jangan membuat asumsi dan jangan mengabarkan apa pun ke orang lain seolah-olah kita sudah punya hubungan."
"Sepakat. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Bagus. Karena aku nggak mau jadi bahan gosip baru."
"Aku akan menjaga bagian yang menjadi tanggung jawabku."
Mereka berpamitan tanpa pelukan atau janji besar. Dalam perjalanan pulang, Evania menyadari dirinya merasa lebih ringan, bukan karena semua luka hilang, melainkan karena ia tak perlu menyembunyikan bahwa luka itu masih ada. Edward pun pulang dengan pikiran bahwa kedekatan tidak harus diburu. Untuk sekarang, mereka telah sepakat menjadi dua orang yang saling mengenal sebagai teman, dengan batas yang mereka ucapkan sendiri.
***
Jumat pagi, Edward baru saja memeriksa laporan bulanan ketika ponselnya bergetar. Nama Andika muncul di layar. Ia membiarkan dering itu berbunyi beberapa saat, lalu menjawab.
"Ed, kamu lagi sibuk?" tanya Andika.
"Sedang kerja. Ada apa?"
"Aku butuh bantuan sebentar. Pembayaran dari klien belum masuk, sementara ada beberapa tagihan yang harus kubayar. Bisa pinjam dulu? Nanti kalau uangnya cair, langsung kubalikin."
Edward menahan napas. Permintaan seperti itu sudah sering ia dengar. Pinjaman tiga puluh juta yang lama belum dikembalikan penuh, sementara setiap kali Andika menelepon selalu ada kebutuhan baru yang disebut mendesak.
"Aku nggak bisa meminjamkan uang lagi," katanya.
Hening sejenak di ujung telepon. "Aku cuma perlu waktu singkat, Ed. Kamu tahu aku selalu bayar."
"Pinjaman tiga puluh juta yang lalu belum lunas. Kita belum punya tanggal yang jelas untuk sisanya. Aku perlu tahu kapan kamu akan mengembalikan itu sebelum bicara soal bantuan lain."
Andika menghela napas. "Aku sudah bilang, begitu pembayaran masuk, aku bereskan."
"Kapan masuknya?"
"Minggu depan mungkin."
Edward membuka catatan transfer yang ia simpan. Di sana tercantum tanggal dan jumlah yang pernah ia kirim. "Aku nggak bisa pakai kata mungkin lagi. Tolong beri tanggal yang bisa kamu pegang."
"Kamu berubah, ya. Dulu nggak banyak tanya."
Kalimat itu membuat Edward terdiam. Dulu ia menganggap memberi pinjaman sebagai bukti bahwa ia teman yang bisa diandalkan. Ia juga malu mengakui bahwa dirinya sendiri beberapa kali harus meminta bantuan Melly untuk biaya hidup setelah uangnya dipinjamkan. Ia tak pernah ingin terlihat perhitungan, bahkan ketika kebutuhannya sendiri terganggu.
"Aku memang harus berubah soal ini," jawabnya. "Aku masih mau membicarakan pengembalian pinjamanmu. Tapi aku nggak akan menambah pinjaman."
Andika mendecakkan lidah. "Ya sudah. Nanti aku kabari."
"Tolong kabari dengan tanggal, bukan hanya nanti."
Panggilan berakhir tanpa kesepakatan. Edward menyandarkan punggung ke kursi. Ada rasa bersalah karena menolak teman, tetapi ada juga kelegaan karena akhirnya mengatakannya dengan jelas.
Toby lewat di belakangnya. "Ada masalah?"
"Andika minta pinjam lagi. Aku menolak dan minta tanggal pengembalian untuk yang lama."
Toby mengangguk. "Bagus. Kamu bukan bank yang harus buka setiap kali dia menelepon."
"Aku tahu. Tapi rasanya nggak enak."
"Memang. Batas itu kadang terasa nggak enak, terutama kalau kamu terbiasa bilang iya. Tapi dia masih bisa mengembalikan uang tanpa kamu menambah jumlahnya."
Edward membuka catatan dan menulis tanggal panggilan serta jawaban Andika. Ia tidak ingin lagi mengandalkan ingatan atau rasa sungkan. Setelah itu ia kembali ke laporan, meski pikirannya sesekali melayang pada jumlah uang yang belum kembali.
Sore harinya, ia mengirim pesan kepada Andika: meminta kepastian tanggal untuk cicilan berikutnya dan menegaskan tidak ada pinjaman tambahan. Pesan itu dibaca, tetapi belum dijawab. Edward menaruh ponsel dan menahan dorongan untuk mengirim pesan kedua. Kali ini ia akan menunggu jawaban yang jelas.