Senin pagi pada pekan berikutnya, Evania baru saja menyimpan tas di bawah meja ketika ponselnya berbunyi. Nama Karin muncul di layar dengan dua pesan berturut-turut. Pesan pertama hanya bertanya apakah Evania sedang senggang. Pesan kedua menyusul sebelum ia sempat membalas: ada kabar baru tentang dirinya di grup teman lama.
Evania mengerutkan dahi. Ia belum sempat bertanya kabar apa ketika Karin mengirim tangkapan layar. Sebuah akun mengunggah kalimat bahwa Evania sejak dulu dekat dengan rekan kerja laki-lakinya, bahkan sebelum hubungannya dengan Gio berakhir. Nama Evania tidak disebut, tetapi ada petunjuk tentang kantor dan kejadian lama yang cukup jelas bagi orang-orang dalam lingkaran mereka.
Ia membaca unggahan itu dua kali. Ujung jarinya terasa dingin. Fitnah lama Junita tentang perselingkuhan rupanya belum selesai beredar; kali ini dibungkus sebagai cerita baru.
Mila datang membawa sarapan. Evania menunjukkan layar ponselnya tanpa berkata-kata.
Mila membaca tangkapan layar itu, lalu duduk. "Ini dari siapa?"
"Karin belum tahu. Katanya dikirim ke grup teman lama. Dia menangkap layar sebelum pesannya hilang."
"Kamu mau membalas sekarang?"
Evania mengambil napas. Bagian dirinya ingin segera menulis sesuatu yang tajam, apalagi ia tahu siapa yang pernah menyebarkan tuduhan serupa. Namun unggahan itu belum menyebut nama dan belum jelas siapa yang membuatnya. Membalas dengan amarah mungkin membuatnya tampak sedang mengakui sesuatu yang tidak pernah terjadi.
"Aku mau simpan dulu. Tanya Karin detailnya, tapi aku nggak akan langsung bikin unggahan. Kalau ada yang bertanya langsung, baru aku jelaskan faktanya."
Mila mengangguk. "Kamu nggak harus membuktikan hidupmu ke seluruh grup. Tapi simpan bukti dan jangan biarkan orang memelintir ceritamu saat kamu diam."
Evania mengirim pesan kepada Karin, meminta tanggal unggahan dan konteks percakapan sebelumnya. Ia lalu menyimpan tangkapan layar di folder pribadi. Jantungnya masih cepat, tetapi ia merasa lebih berdaya karena tidak membiarkan kepanikan memilihkan kata-kata.
Di sela pekerjaan, ia memeriksa tanggal yang terlihat pada gambar. Unggahan itu muncul malam sebelumnya, setelah seseorang membahas rencana pernikahan Gio dan Junita. Ia tak punya bukti siapa yang menulisnya. Yang ia miliki hanyalah fakta bahwa ia tidak pernah berselingkuh selama bersama Gio. Ia memutuskan tidak menyebut nama Junita tanpa bukti baru.
Mila menyentuh lengannya. "Kalau kamu perlu, aku temani saat menjawab orang."
"Makasih. Tapi aku ingin bisa menjelaskan sendiri. Aku tidak mau merasa semua orang harus membelaku karena aku tidak sanggup bicara."
"Kamu sanggup. Aku tetap bisa duduk di sebelahmu sambil mengunyah, sebagai dukungan moral dan logistik." Mila mengangkat roti. Evania tertawa kecil, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur.
Menjelang siang, pesan Karin masuk lagi. Ia bilang salah satu teman mereka menanyakan apakah unggahan itu benar. Evania membalas bahwa ia tidak akan menjawab kabar tanpa konteks di grup, tetapi jika temannya ingin bertanya langsung, ia bersedia menjelaskan. Ia meletakkan ponsel dan kembali bekerja.
Kabar itu masih mengganggu, tetapi kali ini ia tidak membiarkannya mengubah seluruh hari. Ia menyimpan bukti, memastikan apa yang diketahui, dan memilih respons. Mungkin itu belum menghentikan fitnah, tetapi setidaknya ia tak lagi merasa harus bersembunyi darinya.
***
Selasa siang, Karin menelepon Evania saat jam makan. Suaranya terdengar hati-hati. Ia sudah memastikan unggahan itu dibagikan di grup teman lama dan beberapa orang mulai bertanya. Karin menawarkan untuk membalas mereka, tetapi Evania meminta waktu membaca percakapan secara lengkap terlebih dahulu.
Mila duduk di hadapannya dengan semangkuk soto. "Kamu yakin mau baca semuanya? Kadang pesan grup itu lebih melelahkan daripada laporan bulanan."
"Aku perlu tahu apa yang sebenarnya beredar. Tapi aku nggak mau ikut menanggapi setiap komentar."
Karin mengirim tangkapan layar percakapan, disertai tanggal. Ada orang yang menyebut bahwa Evania mungkin sudah berselingkuh dengan rekan kerja sebelum putus dari Gio. Tidak ada nama rekan itu, hanya insinuasi. Seorang anggota grup bertanya apakah kabar tersebut berasal dari Junita. Orang lain menjawab bahwa Junita pernah mengatakan Evania berubah sejak dekat dengan teman kantor.
Evania menaruh ponsel di meja. "Ini masih kabar dari ucapan Junita yang lama, dikemas ulang. Tapi aku nggak tahu siapa yang memulai unggahan itu."
"Kamu bisa menulis klarifikasi umum," kata Karin melalui panggilan. "Kalau kamu mau, aku bisa meneruskan."
Evania berpikir. Jika ia menulis klarifikasi sekarang, ia mungkin memberi unggahan samar itu panggung lebih besar. Ia juga tak ingin terlihat seperti menuntut semua orang memilih pihak. Namun jika ia diam, kabar itu bisa diterima sebagai kebenaran oleh orang-orang yang tidak pernah bertanya kepadanya.
"Untuk sekarang, jangan teruskan apa-apa dulu," katanya. "Kalau ada teman yang bertanya langsung, kasih tahu aku. Aku akan jawab ke orang itu. Aku juga ingin tahu tanggal putusku dengan Gio yang tepat dari pesan lama, supaya jawabanku faktual."
Karin setuju dan tidak mendesak. Setelah panggilan selesai, Mila menggeser tisu ke arah Evania. "Kamu tampak siap perang."
"Aku cuma kesal."
"Wajar. Tapi kamu nggak harus menyusun berkas perkara untuk setiap orang di internet."
Evania tersenyum tipis. Ia membuka percakapan lamanya dengan Gio untuk mencari tanggal, tetapi tidak membaca lebih jauh dari yang dibutuhkan. Ia menemukan pesan yang membantu memastikan tanggal perpisahan mereka. Tanggal itu penting untuk urutan kejadian, tetapi bukan bukti tunggal tentang seluruh hubungannya; ia tahu tuduhan tersebut tidak benar karena ia tidak pernah melakukannya. Ia menyimpan tangkapan layar dengan tanggal yang jelas.
Sore hari, seorang teman lama mengirim pesan langsung. Ia menanyakan apakah Evania benar telah berselingkuh saat masih bersama Gio. Evania membaca pertanyaan itu, lalu mengetik jawaban ringkas: tidak. Ia menjelaskan bahwa ia tidak pernah berselingkuh selama bersama Gio dan hubungan mereka telah berakhir. Ia menambahkan bahwa ia bersedia menjelaskan jika temannya ingin tahu tanggalnya, tetapi tidak akan memperdebatkan kabar berantai.
Temannya membalas bahwa ia hanya ingin memastikan, lalu meminta maaf karena bertanya dengan cara yang kurang enak. Evania menerima permintaan maaf itu tanpa membuka percakapan panjang.
Mila melirik layar. "Kamu jawab tenang sekali."
"Aku masih marah. Cuma aku nggak mau marahnya mengatur kata-kataku."
"Itu kemampuan yang berguna. Aku biasanya marah dulu baru memikirkan kata-kata."
"Aku tahu."
Mereka kembali bekerja. Evania menyadari bahwa klarifikasi tidak harus berupa pengumuman besar. Ia bisa menjawab orang yang sungguh bertanya, menjaga bukti, dan tetap menjalani hari. Untuk pertama kalinya sejak membaca unggahan, ia merasa cerita tentang dirinya tidak sepenuhnya berada di tangan orang lain.