Senin pagi.
Evania sedang menuju kantor, di dalam bus Transjakarta. Mendadak saja suara itu tergiang kembali di pikirannya.
“Maaf, Eva, sekarang aku bersama Junita. Dibanding kamu, dia lebih membutuhkanku. Dia enggak setegar kamu. Perasaannya sangat rapuh, jadi aku memutuskan untuk melindungi dia. Sekali lagi, maaf.”
Suara lirih Gio, mantan pacarnya, lenyap dari pikiran. Bersamaan dengan pintu bus terbuka dan beberapa penumpang melangkah keluar. Dan beberapa lagi melangkah masuk.
Posisi tubuh Evania menempel di jendela besar, di seberang pintu. Ia menatap keluar. Kendaraan beragam bentuk berjejer padat di luar sana.
Mulai hari ini tidak ada lagi yang menjemputku, ia membatin. Pacarku telah direbut sahabatku.
Dan, bus itu pun terus melaju. Membawa tubuh langsing Evania ke kawasan perkantoran tempat kantornya berada.
***
Di kamarnya, Edward masih di balik selimut. Ia sudah bangun, namun malas meninggalkan ranjang lantaran tidak ada mood ke kantor. Wajahnya kusut dan mata masih sembab, layaknya orang habis menangis.
“Sudah ya, Ed, aku pergi dulu. Sudah ditungguin calonku. Bye, selamat tinggal.”
Itu suara kekasihnya, Susan. Yang kini telah menjadi mantan. Mereka berdiri di taman, masih sore.
“Tapi, San, masa sih selesai begitu saja?” Edward tidak rela. Setelah apa yang dilakukannya untuk perempuan ini. Masa ditinggal begitu saja.
“Iya, Ed, aku milih bersamanya karena bisa langsung jadi nyonya besar,” jawab Susan angkuh. “Kalau sama kamu, aku cuma jadi istri karyawan biasa. Nggak bisa flexing di medsos seperti teman-temanku.”
Edward terdiam, lalu bertanya dengan lugu. “Jadi, kamu nggak pernah mencintaiku?”
Susan tertawa sinis. “Cinta? Sedikit. Sambil menunggu orang kaya datang melamarku.” Menepuk pipi Edward. “Makasih ya, Sayang, sudah poles aku jadi sebening ini.”
Ketukan di pintu mengembalikan pikiran Edward ke kamar ini.
“Edward, kamu nggak kerja?” panggil ibunya, di balik pintu.
Edward menggaruk rambut dengan kasar. Ibunya pengacau.
Karena tidak ada sahutan, Melly membuka pintu, dan menerobos masuk. Edward sontak menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Mama kebiasaan, main masuk aja,” protes Edward. “Gimana kalau aku cuma pakai kolor?”
“Oh, paling Mama tutup mata,” balas Melly. Memukul Edward dengan guling. “Kayak kamu langsung segede ini aja, nggak pernah bayi. Mama sudah bosan lihatnya, haha.” Tertawa geli.
“Selalu aja begitu,” keluh Edward. “Mama keluar dulu, ah, bentar lagi aku bangun.”
Melly mendekatkan wajahnya ke Edward yang masih ditutupi selimut. “Nangis lagi ya, Anak Muda? Belum puaskah dari Sabtu kemarin?”
“Bukan urusanmu,” jawab Edward.
“Oh, jadi urusanku kalau kamu sampai depresi,” balas Melly. “Biaya psikolog mahal, Boy.”
Edward keluar dari selimut, duduk. “Iya, iya, aku bangun.”
“Dasar cengeng,” Melly mendorong ringan pipi Edward.
Edward cemberut.
***
Di pantry kantor.
Di balik meja makan, Evania berkata pelan, “Aku dan Gio sudah selesai, Mil. Dia lebih memilih bersama mantan teman sekolahku, si Junita. Nanti aku kasih lihat fotonya.”
Rekannya, Mila, yang duduk di hadapnya langsung kaget. “Hah? Dia selingkuh?”
“Iya,” Evania menyesap teh. “Kemarin malam dia ke rumah, cuma mau kasih tahu mereka sudah jadian.”
Mila bersedekap. “Hebat sekali bocah itu. Terus, bagaimana reaksimu? Ada adegan yang disensor?”
“Maksudmu kekerasan?” Evania menggiti roti.
“Iya lah, ada?” Mila kelihatan antusias menuggu jawaban Evania.
“Tadinya ingin nabok muka dia. Tapi sayangnya, nggak jadi. Pikiran sehatku masih bekerja. Kalau aku emosi, berarti aku hancur. Aku enggak mau si Gio merasa kasihan, dan si Junita merasa menang. Makanya aku berlagak tenang, biar nggak disangka hancur.” Nyengir.
Mila lalu menatap lekat-lekat mata Evania, menunggunya melanjutkan cerita dengan jujur.
Benarkah dia setenang itu menghadapi kisah asmaranya yang dihancurkan orang ketiga? Terlebih lagi si pelaku ternyata orang yang dikenalnya, yaitu temannya.
“Oke, Mil, jujur, aku sempat hancur. Ini buktinya.” Evania menunjuk mata bengkaknya. “Aku nangis. Nggak pernah nyangka aja dua orang itu bisa begitu. Gio yang kupikir bakalan jadi suamiku ternyata...,”
Mila masih menunggu kelanjutannya.
Evania terkekeh, mengalihkan kalimatnya yang menggantung. “Aku nangisnya nggak lama, Mil, jadi airmata yang terbuang juga sedikit saja, haha.”
“Yang benar?”
Evania mengangguk, ‘Ngapain nangis lama-lama. Toh mereka sudah jadian. Puas nangis ya sudah. I’m fine, thank you.” Memasukkan potongan roti terakhir ke mulut. “Biarlah mereka bahagia. Aku nggak perlu hancur. Itu bukan gayaku.” Menyeruput teh lagi.
Mila mengacungkan jempol kanannya. “Mantap. Memang begitulah semestinya. Jangan seperti aku, menangis mantan berhari-hari. Meratapi mereka. Padahal di sana mereka sedang resepsi, walau kemudian cerai,” tertawa puas.
Evania menimpali, “Iya, lihat saja nanti, mereka berdua juga bakalan ribut terus, karena si Junita itu posesif.”
“Semoga,” Mila menimpali, mengangkat cangkirnya. “Ayo, tos dulu.”
Evania mengangkat cangkirnya. “Tos.”
Tawa lepas penuh kelegaan memenuhi ruangan sepi ini, seolah baru menyelesaikan sebuah kompetisi. Namun tawa itu seketika lenyap ketika terdengar sapaan seseorang.
“Halo, Girls,”
Kompak, mereka menoleh ke arah suara. Mata Mila membelalak tak percaya.
“Tante Mel? Tumben jam segini sudah di sini.”
Melly terkekeh. Bergerak mendekati mereka dari arah tangga. “Jadi Tante nggak boleh muncul di jam segini?”
Ketiga perempuan itu tertawa.
“Sini, Tan, duduk,” Mila menepuk kursi di sebelahnya.
Melly duduk di kursi yang ditunjuk Mila. “Tante datang pagi karena ada janji dengan bos kalian.”
“Bos tumben belum datang,” sela Evania. “Biasanya duluan beliau dari saya.”
“Lalu, kenapa hari ini datang awal?” Melly mencerca Evania dengan nada bercanda. “Biar Tante tebak. Pasti mau curhat. Betul?”
Evania melirik Mila dengan mimik meringis. Malu ketahuan curhat. Tante Melly jangan-jangan menguping tadi, pikirnya.
Melly segera tahu kalau Evania malu, lalu cepat-cepat menambahkan, “Maaf, Tante tadi sempat dengar sedikit. Bukan sengaja menguping. Pas saja dengar waktu Tante naik.”
Evania menggaruk belakang kepala. “Enggak apa-apa, Tan, cuma curhat murahan. Pacar kabur dengan teman sendiri.” Tertawa kikuk. Malu karena masalahnya jadi diketahui orang ketiga.
“Kamu termasuk hebat, Evania,” Di luar dugaan, Melly justru memujinya. “Pacar kabur dengan teman sendiri, masih bisa sesantai ini. Kalau orang lain sudah pasti hancur, nangis. Berhari-hari. Bila perlu ambil cuti buat puas-puasin pesta airmata.”
“Benar, Tan, benar, itu aku dulu,” Mila menimpali. “Dan kamu, Ev, ternyata jauh lebih cerdas dariku.”
Evania tersipu. “Aku cuma nggak mau menyiksa diri, Mil. Toh, dia juga nggak bakal kembali.”
“Ee, belum tentu, Ev,” Mila menyela. “Bisa saja suatu saat dia minta balik. Sesuai yang kamu bilang tadi kalau si perampas itu posesif.”
Selagi keduanya berceloteh, Melly mendengarkan dengan manggut-manggut. “Betul itu, Sweety, Tante setuju. Enggak ada gunanya nangis, biarkan saja mereka pergi.”
Melly menambahkan dengan frustasi, “Putraku justru kebalikan dari Evania. Tante sampai enggak percaya anak laki-laki yang Tante bawa ke dunia ternyata secengeng itu. Rapuh dan melankolis. Tante sampai pusing lihat kelakuan dia. Dari Sabtu kemarin ngurung diri di kamar terus. Tadi, kalau Tante nggak paksa, mungkin juga malas ke kantor.” Menghela nafas. “Coba saja anak Tante setegar kamu, Eva.”
Lagi-lagi Evania tersipu. Entahlah, ia harusnya bangga dipuji seperti itu ataukah justru malu karena dianggap aneh, agak lain gitu. Karena, tiap manusia pada umumnya, ketika putus cinta bakalan menangis meraung-raung. Mengutuk si mantan dan juga si perebut sebagai manusia paling jahat sedunia. Akan tetapi dirinya kenapa beda.
Oke, ia menangis, tapi hanya sebentar. Itu pun hanya sesegukan, di kamar mandi. Tiada sumpah-serapah, tanpa merutuk. Padahal yang merebut kekasihnya itu temannya sendiri. Iya, Junita itu temannya dari SMP.
Tak bisakah dia mencari sendiri pacarnya, kenapa harus merebut pacarku? Begitu ia mengoceh dalam tangis, kemarin. Dan Gio, tak bisakah dia selingkuh dengan cewek lain, kenapa harus teman baikku?
“Jadi, Tante punya anak cowok?”
Suara Mila membawa pikiran Evania kembali ke ruangan ini. Gambaran dirinya sesegukan di kamar mandi dan sosok Gio yang berjalan pergi seketika berpendar kemana-mana.
“Iya, namanya Edward,” Melly menjawab dengan nada lembut. “Kalian kaget ya, enggak nyangka Tante punya anak cowok. Dia sepantaran kalian. Tante enggak pernah cerita karena waktu itu Edward punya pacar.”
Beliau melirik jam tangan rantai emas di lengan kirinya yang putih glowing, bergumam, “Si Risna ngapain ya, lama amat.”
Sementara Melly mengecek ponselnya, Mila menowel lengan Evania. “Balik, yuk?” ajaknya.
“Ayo.” Evania berdiri. Membawa dua cangkir bekas teh ke wastafel, untuk dicuci.
Ketika kembali ke meja, Melly juga telah berdiri. Menatap kosong ke arah Evania, seperti sedang merancang sesuatu. Lalu tertawa sendiri.
“Ya, ya, boleh juga,” gumam Melly. “Momennya pas sekali. Eva, nanti Tante kenalin dengan anak Tante, ya, si Edward melankolis.”
Evania sontak kaget. “Hah?”
Mila yang sedang merapikan kursi juga ikutan kaget. “Serius, Tan?”
Sambil berjalan ke arah tangga, Melly menjawab santai, “Tentu saja serius.” Menoleh. “Tenang, si Edward lumayan ganteng. Lihat saja wajah Tante sudah bisa membayangkan wajah dia.”
Melly mengerdipkan sebelah mata dengan centil. “Tunggu saja tanggal mainnya, ya, Eva. Yuk, Tante turun dulu." Lalu mulai menuruni tangga. Meninggalkan aroma parfum mahal.
Setelah sosok wanita karir itu menghilang, Evania dan Mila saling memandang.
Sesaat kemudian Mila mulai menyengir meledek, “Bakal calon menantu Tante Melly, nih.”
Evania merengut malu. “Dasar usil.” Lalu berlarian menuruni tangga.
Mila bergegas mengejar. Melanjutkan ledek. “Ada yang malu.....!”