Evania pulang dengan taksi daring. Radio di dalam mobil menyala pelan. Ia tidak benar-benar mendengar lagu yang diputar. Kalimat Edward terus terulang di pikirannya, terutama pengakuannya bahwa ia telah mengalihkan frustrasi kepada orang yang kebetulan berada di hadapannya. Setidaknya ia tidak bersembunyi di balik alasan. Namun mengakui kesalahan belum otomatis menghapus rasa tak nyaman yang tertinggal.
Di lampu merah, taksi itu berhenti. Evania menatap tangannya yang menggenggam tali tas. Di kafe tadi, Edward tidak memotong penjelasannya atau meminta dirinya memahami perasaan lelaki itu. Ia membiarkan Evania menyebut dampaknya. Itu hal kecil, tetapi terasa berbeda dari pertemuan pertama mereka.
Sesampainya di rumah, ia meletakkan tas di sofa dan menelepon Mila.
"Sudah selesai?" tanya Mila begitu panggilan tersambung.
"Sudah. Aku sampai rumah."
"Gimana? Ada katalog?"
Evania tertawa pendek. "Nggak ada. Dia minta maaf. Dia mengakui salah tanpa menyalahkan aku atau keadaan."
"Kedengarannya lumayan. Kamu merasa lebih lega?"
Evania berjalan ke dapur mengambil air. "Sedikit. Tapi aku belum bisa bilang semuanya beres. Aku masih ingat rasanya diusir waktu itu."
"Ya, nggak perlu buru-buru lega. Kamu boleh menghargai permintaan maafnya dan tetap butuh waktu. Dua hal itu bisa jalan bareng."
Evania meneguk air. "Tadi aku memastikan pertemuan itu bukan janji pacaran. Rencana pamer pacar yang sempat kita bicarakan juga nggak mau kujadikan alasan untuk mendekati dia."
"Bagus. Kamu memisahkan dua urusan itu."
"Aku nggak mau menjadikan orang sebagai pajangan untuk membuat mantan panas."
"Kamu sudah tahu itu sejak awal. Kadang kita ngomong ngawur karena sakit hati. Yang penting kamu nggak membangun keputusan hidup dari kalimat itu." Mila berhenti sejenak. "Apa kamu ingin ketemu dia lagi?"
Evania tidak langsung menjawab. Ia tidak punya jawaban yang bulat. Ada rasa penasaran yang tipis, tetapi rasa itu belum bisa disebut tertarik. "Aku belum tahu. Hari ini cukup sampai di situ."
"Itu jawaban yang sah. Jangan menyusun masa depan dari satu kopi."
"Kamu bisa sekali-kali kasih nasihat tanpa perumpamaan makanan?"
"Bisa, tapi kurang berkesan."
Mereka tertawa. Setelah panggilan berakhir, Evania mengirim pesan kepada Melly bahwa pertemuan berjalan baik dan ia sudah tiba di rumah. Ia sengaja tidak menulis bahwa ia menerima Edward atau ingin mengenalnya lebih jauh. Melly membalas dengan tiga emoji hati dan kalimat bahwa ia lega. Evania membiarkan pesannya begitu saja tanpa menambah janji.
Malam itu, ia merapikan meja makan dan membuka buku catatan kecil yang jarang dipakai. Ia menuliskan dua hal: Edward meminta maaf dengan jelas; dirinya belum harus memutuskan hubungan apa pun. Catatan itu bukan vonis. Hanya cara mengingat agar rasa sungkan tidak mengambil alih keputusan.
***
Senin pagi, Evania kembali ke kantor. Ia baru meletakkan tas ketika Mila datang membawa dua gelas kopi dari kantin.
"Minuman perdamaian," kata Mila sambil menyerahkan satu.
"Perdamaian siapa?"
"Kamu dengan Senin. Aku cuma perantara." Mila duduk sebentar di kursi kosong. "Tante Mel menghubungimu lagi?"
"Kemarin. Beliau bilang nggak akan mendesak. Aku bilang pertemuan Sabtu cukup sampai di sana dulu."
"Dan kamu merasa?"
Evania meletakkan kopi. "Lega. Tapi aku masih kepikiran kalau nanti bertemu Tante Mel di kantor. Aku nggak mau beliau merasa aku menolak dirinya."
"Kamu sudah menjelaskan. Kalau dia tetap kecewa sedikit, itu perasaan yang boleh dia punya. Kamu nggak perlu mengubah keputusan untuk menghapus semua rasa kecewa orang." Mila merapikan map di tangannya. "Kalau nanti Edward menghubungimu, jawab sesuai yang kamu mau. Kalau nggak, ya hidup juga jalan."
"Dia tidak punya nomorku."
Mila menatapnya penasaran. "Kamu berharap dia minta?"
"Aku cuma menjelaskan fakta."
"Baik, Bu Fakta. Aku tidak akan menyelidiki."
Mereka kembali bekerja. Menjelang siang, Melly datang ke kantor untuk bertemu Bu Risna. Ia menyapa Evania dengan hangat, tetapi tidak menyebut Edward. Evania membalas sapaan itu dan merasa lega melihat Melly benar-benar menghormati batas yang mereka bicarakan.
Sebelum pergi, Melly berhenti di dekat meja. "Eva, Tante mau ke salon setelah ini. Kalau kamu dan Mila mau mampir kapan-kapan, kabari saja. Nggak perlu merasa harus datang karena Tante mengundang."
"Terima kasih, Tante. Saya akan kabari kalau ada waktu."
Melly tersenyum, lalu melangkah ke ruangan Bu Risna. Mila mengamati Evania. "Aku mengakui, beliau bisa belajar juga."
"Beliau dari awal baik. Cuma semangatnya memang besar."
"Semangat besar itu kadang perlu rem."
Sepulang kerja, Edward duduk di ruang tengah dan mengirim pesan kepada ibunya yang berada di dapur untuk bertanya apakah Evania tampak terganggu saat mereka bertemu di kantor. Melly menjawab bahwa Evania menyapanya dengan ramah dan ia tidak membicarakan mereka. Edward mengetik pesan baru, lalu menghapusnya. Ia ingin menanyakan apakah Evania bersedia bertukar nomor, tetapi ia tahu itu bisa terasa seperti dorongan setelah ia berjanji tak menuntut jawaban.
Melly keluar dari dapur dan melihat putranya menghapus tulisan. "Kalau ingin berteman, kamu bisa menunggu kesempatan yang wajar. Jangan minta Mama menjadi kurir terus."
"Aku tidak minta Mama jadi kurir."
"Kamu baru bertanya apakah dia terganggu. Itu kurir versi survei kepuasan."
Edward terkekeh. "Aku cuma nggak mau membuatnya tidak nyaman."
"Bagus. Berarti kamu bisa membiarkan dia menentukan kapan nyaman bicara lagi."
Edward mengangguk. Meski ada rasa ingin tahu tentang Evania, ia tak ingin mengubah permintaan maaf menjadi strategi pendekatan. Ia memilih kembali membaca berkas pekerjaan yang dibawanya. Barangkali hubungan yang lebih sehat memang dimulai dari kesediaan untuk tidak memaksa pintu terbuka.
***
Selasa menjelang sore, Evania menyelesaikan laporan lebih cepat dari perkiraan. Mila masih menghadiri rapat dengan Bu Risna, jadi ia duduk sendiri di meja sambil menunggu waktu pulang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Melly muncul: ia mengirim foto sebuah tanaman kecil yang baru dibeli untuk ruang tamu, lalu bertanya apakah Evania mengenal jenisnya.
Evania tersenyum. Mereka pernah berbincang soal tanaman ketika makan siang beberapa waktu sebelumnya. Ia membalas bahwa itu sepertinya sirih gading dan menyarankan Melly meletakkannya di tempat yang mendapat cahaya tidak langsung. Melly menjawab dengan candaan bahwa tanaman itu akan lebih mudah dirawat daripada anaknya.
Evania tertawa pelan. Tak lama kemudian, Melly menambahkan bahwa Edward ingin berterima kasih langsung karena Evania telah mendengarkan permintaan maafnya. Ia bertanya apakah Evania keberatan jika Edward mengirim pesan singkat. Tidak ada desakan atau tambahan tentang perjodohan.
Evania memikirkan jawabannya. Ia masih belum ingin berjanji untuk bertemu lagi. Tetapi pesan singkat tidak harus menjadi awal hubungan. Ia bisa mengatakan batasnya dengan jelas dan membiarkan Edward memilih apakah ia nyaman dengan itu.
Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi: "Boleh, Tante. Saya tidak keberatan menerima pesan singkat. Tapi untuk sementara saya belum ingin membuat rencana pertemuan lagi."
Melly membalas bahwa ia akan menyampaikan persis begitu. Evania meletakkan ponsel. Ia merasa ada perbedaan antara menutup semua kemungkinan dan membuka ruang kecil tanpa mengorbankan batas. Ruang kecil itu bukan janji, hanya percakapan.
***
Malam harinya di rumah, Melly menunjukkan balasan itu kepada Edward. Dengan izin Evania yang baru diberikan, ia meneruskan nomor tersebut kepada putranya. "Dia tidak keberatan kamu mengirim pesan, tapi belum ingin merencanakan pertemuan lagi."
Edward mengangguk. "Aku akan menghormati itu."
"Jangan mengirim novel panjang."
"Aku cuma mau bilang terima kasih."
"Bagus. Pendek saja. Jangan sisipkan pertanyaan kapan bisa bertemu lagi."
Edward mengetik: "Terima kasih sudah mendengarkan permintaan maafku, Evania. Aku menghargai kamu sudah memberitahu dengan jelas apa yang kamu rasakan. Aku tidak akan mendesak untuk bertemu lagi. Semoga harimu baik." Ia menunjukkan pesan itu kepada Melly.
"Cukup. Tidak ada bunga, tidak ada katalog."
Edward mengirimnya. Evania membalas beberapa menit kemudian: "Terima kasih. Semoga harimu juga baik." Pesan itu singkat, tetapi Edward tidak menganggapnya sebagai tanda bahwa ia harus segera meneruskan percakapan. Ia meletakkan ponsel dan kembali membaca berkas pekerjaan.
Malam itu Evania menyiapkan makan, lalu menyimpan ponselnya. Pesan terima kasih Edward tidak menuntut percakapan sampai larut. Ia bisa menjawab singkat tanpa harus meminta maaf karena ingin beristirahat.