Evania buru-buru mengangkat telapak tangan sebelum Mila sempat menyahut. "Jangan mulai menyusun rencana balas dendam, ya. Aku cuma bercanda. Kalau aku menerima Edward bertemu, itu untuk mendengar permintaan maafnya. Bukan berarti aku setuju pacaran atau mau dijadikan alat pamer di depan Gio dan Junita."
Mila mengatupkan bibir, pura-pura menahan kecewa. "Padahal aku sudah membayangkan kalian datang ke pernikahan mereka dengan baju serasi."
"Kamu kebanyakan menonton drama."
"Aku menonton kenyataanmu yang kebetulan lebih dramatis." Mila menyandarkan siku di meja. "Tapi serius, Ev. Bagus kamu bikin batas dari sekarang. Tante Mel memang baik, tapi semangatnya kadang seperti panitia acara yang sudah mencetak undangan sebelum calon pengantinnya setuju."
Evania tertawa kecil. Bayangan Melly yang memohon agar ia bertemu Edward tadi masih terasa. Ia menyayangi perempuan itu dan tak ingin membuatnya malu, tetapi rasa sungkan bukan alasan untuk menyerahkan keputusan hidupnya kepada orang lain.
"Aku akan bilang langsung kalau Tante Mel mengira pertemuan itu lebih dari sekadar minta maaf," ujarnya. "Aku juga belum tahu Edward seperti apa kalau bukan sedang mengusir orang."
"Bisa jadi dia sopan kalau tidak mengira kamu menjual barang."
"Barang apa juga dia nggak tahu. Katanya sales barang nggak jelas." Evania mengangkat alis. "Kalau dia minta maaf dengan membawa katalog, aku pulang."
Ponsel Evania bergetar. Ia melihat layar lalu menahan senyum. "Tuh, orang yang dibicarakan. Tante Mel mengirim pesan."
Evania membaca layar ponselnya. Pesan itu singkat: Melly meminta maaf karena mengganggu jam kerja dan berjanji akan mengabari waktu pertemuan setelah berbicara dengan Edward. Di bawahnya ada tambahan, "Tante harap kamu tidak berubah pikiran."
Evania mengetik balasan dengan hati-hati. Ia mengucapkan terima kasih dan menegaskan bahwa ia bersedia datang untuk mendengar permintaan maaf Edward. Ia menambahkan bahwa dirinya belum menyetujui perjodohan atau hubungan apa pun. Sebelum mengirim, ia memperlihatkan layar kepada Mila.
"Jelas, sopan, nggak ada emoji palu," komentar Mila.
"Aku profesional."
"Kamu mengetik sambil menahan keinginan mengirim palu. Itu tetap profesional."
Evania mengirim pesan itu. Rasanya sedikit lega setelah batasnya tertulis jelas, meski ia tahu percakapan langsung mungkin lebih sulit. Ia kembali membuka dokumen pekerjaan, memaksa dirinya fokus pada angka yang harus dicocokkan. Setidaknya angka tidak pernah mengira seseorang sebagai sales. Keesokan harinya, Melly mengabari bahwa Edward bersedia datang Sabtu pukul sebelas ke kafe dekat kantor. Evania memeriksa jadwalnya sebelum menyetujui waktu dan tempat itu.
***
Sabtu pukul sebelas kurang lima, Evania tiba di kafe yang disepakati. Ia memilih meja di sisi jendela, memesan teh, lalu meletakkan tas di kursi sebelah. Ia tak ingin duduk terlalu dekat dengan pintu atau terjebak di sudut. Tempat itu ramai secukupnya, cukup nyaman untuk berbicara tanpa merasa semua orang mendengar.
Edward datang tepat waktu. Ia berhenti beberapa langkah dari meja, seolah memastikan Evania memang melihatnya sebelum mendekat.
"Selamat pagi," sapanya.
"Pagi. Silakan duduk."
Edward menarik kursi di seberang. Ia tidak membawa bunga atau hadiah. Setelah memesan kopi, ia meletakkan kedua tangan di meja dan menarik napas.
"Terima kasih sudah mau datang," katanya. "Aku datang untuk minta maaf. Aku nggak akan menganggap kamu wajib memaafkan atau memberi jawaban lain setelah ini."
Evania mengangguk, menunggu.
"Waktu kamu datang ke rumah Mama, aku menuduhmu sales tanpa tahu siapa kamu. Aku bicara kasar dan mengusirmu, padahal kamu tamu Mama. Itu tidak pantas. Aku juga membuat Mama malu dan membuatmu berada dalam situasi yang nggak nyaman. Aku minta maaf."
Ia berhenti. Tidak ada cerita tentang mantannya, tidak ada alasan yang disodorkan sebagai pembelaan. Evania merasakan ketegangan di bahunya sedikit turun, tetapi belum sepenuhnya hilang.
"Kamu tahu bagian mana yang paling menggangguku?" tanyanya.
Edward menggeleng. "Aku ingin mendengar."
"Bukan cuma kamu salah mengira aku sales. Kamu bahkan nggak memberi kesempatan untuk menjelaskan. Kamu melihatku, memutuskan aku nggak pantas ada di sana, lalu mengusirku. Aku ikut karena aku nggak mau membuat Tante Mel tambah malu. Tapi sepanjang perjalanan pulang, aku merasa seperti orang yang salah masuk rumah dan harus buru-buru pergi."
Edward menunduk sesaat. "Aku paham. Aku seharusnya mendengarkan sebelum menyimpulkan."
"Dan setelah itu aku juga sempat bertanya-tanya apakah aku memang terlihat seburuk itu sampai orang bisa mengusirku tanpa alasan."
"Kamu tidak melakukan apa pun yang membuatmu pantas diperlakukan begitu," jawab Edward. Suaranya rendah dan jelas. "Kesalahannya ada padaku."
Evania memegang cangkirnya. Ia ingin memastikan ini bukan sekadar kalimat yang sudah disiapkan. "Kenapa waktu itu kamu begitu yakin aku sales?"
Edward tak langsung menjawab. "Aku sedang marah dan kacau soal hal lain. Tapi itu bukan alasan. Aku mengalihkan rasa frustrasiku kepadamu karena kamu orang asing yang kebetulan datang. Itu pengecut dan tidak adil."
"Hal lain itu soal mantanmu?"
Edward terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Iya. Tapi aku nggak akan meminta kamu memahami itu supaya kesalahanku terasa lebih kecil."
Evania memperhatikan wajahnya. Ia tidak tampak sedang mencari simpati, hanya menahan rasa tidak nyaman karena akhirnya menyebut tindakannya dengan jujur.
"Aku menghargai kamu mengakuinya," katanya. "Aku belum tahu apakah aku bisa langsung nyaman setelah ini."
"Kamu tidak perlu memutuskan sekarang."
Pelayan mengantarkan kopi Edward. Ia mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan jeda lewat tanpa memaksa obrolan. Evania menyadari ia tak lagi merasa harus menghiburnya. Itu awal yang lebih baik daripada yang ia bayangkan.
"Aku juga mau memastikan satu hal," ujar Evania. "Aku datang untuk mendengarkan permintaan maafmu. Aku tidak datang untuk mulai pacaran. Aku bahkan belum tahu apakah aku tertarik mengenalmu."
"Aku mengerti. Aku juga tidak mau menjadikan pertemuan ini janji apa pun. Mama memang berharap banyak, tapi itu urusan Mama. Aku yang harus memperbaiki sikapku sendiri."
"Kamu masih harus membuktikan kalau bisa bersikap sopan tanpa diawasi Tante Mel," katanya.
Edward tersenyum kecil. "Ujian yang pantas."
Evania membalas senyum tipis. Ia belum memaafkan sepenuhnya, tetapi permintaan maaf itu terdengar jelas dan tak menuntut imbalan. Mereka berbincang sebentar tentang pekerjaan dan kafe, topik ringan yang tidak memaksa keduanya mengungkap lebih banyak dari yang siap mereka ceritakan.
Saat teh Evania habis, ia melihat jam. "Aku harus pergi."
Edward segera berdiri, tetapi tidak menahan langkahnya. "Terima kasih sudah mendengarkan."
"Sama-sama. Aku akan pikirkan semuanya."
"Itu sudah cukup."
Mereka berpisah di depan kafe. Evania pulang dengan pikirannya masih penuh, tetapi tidak merasa dikejar jawaban. Edward tetap berdiri sejenak setelah ia pergi, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ia telah menghadapi akibat tindakannya tanpa berlindung di balik kesedihan.