Senin siang.
Evania dan Mila bersiap keluar makan. Melly masuk dan mengerdipkan sebelah matanya pada Evania sambil terus bergerak ke ruangan Bu Risna.
Mila menowel lengan Evania. “Tumben, Ev, Tante Mel lewat begitu saja. Nggak nyapa kita.”
Evania mengangkat bahu. “Entahlah, Mil. Aku juga jadi canggung ketemu beliau gara-gara ulah anaknya.”
“Eh, tapi katamu waktu itu Tante Melly langsung nelepon kamu dan bilang akan atur pertemuan kalian lagi.”
“Iya, sih, tapi itu mungkin sebelum beliau tahu soal pengusiranku,” Evania bergerak ke pintu. “Setelah tahu, Tante Mel mungkin merasa malu padaku, makanya jadi sungkan menyapa kita.”
Mila mengikutinya. “Hm, masuk akal.”
Keduanya mendorong pintu kaca, lalu melangkah keluar. Menyusuri koridor, lalu menuruni tangga di sebelah lift.
"Ev, kamu kan udah ke rumah Tante Mel," kata Mila. "Rumahnya besar, nggak?"
"Lumayan sih, Mil," jawab Evania. "Kondisi ekonomi Tante Mel termasuk bagus. Beliau punya salon dan butik, kan?"
"Iya, dulu Bu Risna pernah bilang, kan," ujar Mila. "Tante Mel juga pernah rekomin salonnya. Tapi sampai sekarang kita belum pernah ke sana, hihi. Kapan-kapan yuk, Ev, kita ke sana."
"Boleh," ujar Evania. "Tapi pastikan dulu Tante Mel lagi nggak di salon. Takutnya kita malah dikasih diskon, haha. Malu, nanti dikira aji mumpung."
"Eh, aku justru kepingin beliau tahu kita ke sana," timpal Mila. "Eh, ngomong soal diskon kayaknya bakal dapat, deh. Calon menantu gitu, lho, haha."
Evania langsung menepuk lengan Mila dengan tersipu. "Apaan, sih, halu banget, deh."
"Yah, barangkali aja kalian emang berjodoh, hehe," cetus Mila senang. "Sekarang kalau dipikir, ada bagusnya juga kamu dan Gio putus. Dengan begitu baru ada tawaran dari Tante Mel, kan. Kalau sama si Edward, setidaknya drama mertua toksik nggak bakalan kamu alami, haha." Cepat-cepat turun ke bawah sebelum tangan Evania sempat menjangkaunya.
***
Di kantor, di balik meja kerjanya, Edward masih bekerja. Sementara rekan lainnya sudah keluar makan siang.
Edward bukannya kerajinan bekerja sampai melewati waktu istirahatnya. Dia hanya sedang malas join dengan rekan-rekannya mengisi perut di sekitar kantor.
“Ed, aku dengar dari si Lusi, kamu lagi patah hati, ya,” bisik rekan yang duduk di sebelahnya.
Edward tidak langsung mengiyakan, hanya pura-pura sibuk berkutat pada laptopnya.
“Dia mulai nyebarin gosip, lho,” bisik rekannya lagi yang bernama Toby ini. “Tapi, lupakan dulu gosip si Lusi. Kamu siap-siap saja, bakalan ada yang naksir kamu, hehe.” Menepuk pundak Edward. “Makan, yuk.”
“Kalian saja dulu, aku masih sibuk.” Edward akhirnya bersuara.
Dalam hati ia mulai merutuk si wanita tukang gosip itu. Dan memilih tidak ikut makan bersama tiga rekannya seperti biasa. Untuk menghindari pertanyaan seputar kebenaran gosip si Lusi. Saat ini dia malas membahasnya karena suasana hatinya bakalan anjlok lagi teringat mantan.
Lalu pertanyaannya, kenapa para rekan begitu antusias mengetahui kisah cinta Edward yang katanya sudah berakhir itu?
“Ed, pacarmu bahenol amat, kenal dimana?”
Ini adalah salah satu komentar rekan kerjanya ketika Edward mengajak Susan ke resepsi orang kantor. Yang lalu ditimpali rekan lain dengan komentar senada. Intinya, Susan sangat menggoda, tipe kebanyakan pria seperti mereka. Makanya mereka sedikit iri.
Itulah sebabnya, Edward jadi sedikit tertutup. Sebisa mungkin fakta dirinya didepak si wanita bahenol yang sempat menjadi perbincangan seantero kantor bisa disembunyikan. Eh, malah disebarin oleh si Lusi mulut bocor.
“Sudah, lupakan saja yang lama,” Harry, rekan lainnya tiba-tiba saja mendekat. “Dalam sekejab juga banyak yang akan narik perhatian kamu. Tinggal diseleksi.” Tertawa sendiri sambil keluar ruangan.
Edward hanya menarik sedikit garis senyum dengan kaku. Lalu berdiri. Memandang sekeliling. Memastikan setiap meja telah kosong penghuni.
Lalu membuang napas dengan berat. “Bersiaplah, Edward, menghadapi para komentator.”
Lagi, Edward menghelas napas. “Bersiap juga menghadapi para penarik perhatian.”
Mengempas duduk tanpa semangat, dan mengeluh, “Belum lagi kesepakatanku dengan Bu Melly.”
***
Evania dan Mila telah kembali dari makan siang. Keduanya mengempas duduk di kursinya.
“Uff, langsung adem,” kata Mila, mengusap kening yang keringatan.
Evania mengancing payung lipatnya. “Untung ada dia, Mil,” senyumnya. “Sedikit mengurangi flek. Sengatan matahari hari ini benar-benar ganas.” Menyimpannya di laci meja paling bawah.
“Iya, Ev, harus banyak minum air biar nggak panas dalam,” ujar Mila lalu meneguk air dari tumbler.
Lalu dari balik pintu kaca terlihat Bu Risna dan Melly baru keluar dari lift, tertawa sambil mengobrol dengan berisik.
“Ev, calon mertuamu balik lagi,” kata Mila.
“Dih, apaan, sih, Mil,” Evania malu lagi.
Bu Risna mendorong pintu, menahannya untuk Melly masuk. Dua wanita paruh baya yang masih modis dan cantik itu lalu melintasi meja Evania dan Mila.
Setelah beberapa langkah, Melly malah kembali ke meja Evania.
“Eva, ke pantry, yuk. Ada yang mau Tante bicarakan,” ajak Melly.
Evania bangkit berdiri dengan tegang. “Hah?”
Melly terkekeh. “Tante cuma mau bicara, Eva, bukan mengomeli kamu. Ayo.”
“Eh, iya, Tan,” sahut Evania kikuk. Melirik Mila, meminta pendapat.
Mila hanya mengangkat bahu, lalu memberinya tanda semangat.
***
Kemudian, Evania mengikuti Melly menaiki tangga ke pantry. Di sana, mereka lalu duduk berhadapan.
“Eva, Tante mau minta maaf sama kamu,” ucap Melly, tulus.
“Oh, eh, maaf untuk apa ya, Tan?” Evania semakin kikuk.
“Yah, untuk sikap buruk putra Tante yang sombong itu,” jelas Melly. “Tante baru tahu belakangan kalau kamu ternyata diusir dia.” Menggeleng frustasi. “Tante benar-benar malu sama kamu, Eva. Nggak nyangka dia bisa begitu. Otaknya mulai korslet gara-gara diputusin perampuan itu.”
“Oh, nggak apa-apa, Tan,” ujar Evania, masih kikuk. “Mungkin dia benar, aku mirip seorang sales barang nggak jelas.” Menyengir.
Melly mengibaskan tangannya. “Jangan membelanya. Sudah jelas dia kasar dan sombong.”
Evania hanya bisa tersenyum tipis. Meski sudah akrab dengan beliau, tetap saja posisi mereka layaknya junior dengan senior. Makanya, etika saat berbicara dengan seorang senior tetap harus diperhatikan. Terlebih beliau juga seumuran orangtuanya.
“Tapi kamu tenang saja, Tante sudah menyuruhnya minta maaf padamu secara resmi,” kata Melly kemudian. “Tante juga nggak akan membatalkan rencana Tante mengenalkan kalian berdua.” Tersenyum hangat. “Makanya kalian harus bertemu lagi, biar bisa kenal lebih dalam. Waktu dan tempat akan Tante kabarkan nanti.”
Evania menelan ludah, menjilat bibir. “Begini, Tante. Maaf, sebenarnya saat ini saya belum berencana pacaran dulu. Jadi...,”
Melly langsung memotong kalimat Evania. “Jadi teman dulu, Eva. Nggak harus langsung jadian. Jujur saja, Tante merasa kamu cocok jadi menantu Tante.” Tersenyum penuh arti.
Evania tersipu. "Tante bercanda, kan?"
"Nggak, Sayang, Tante serius," tegas Melly. "Karena Tante ingin kelak, istri si Edward juga bisa akrab dengan Tante, mertuanya. Tante dari dulu ingin punya anak perempuan yang asik. Bisa diajak shopping bareng, belanja dan masak bareng, dan melakukan banyak kegiatan wanita bersama. Nah, kalau nantinya Tante ternyata nggak bisa akrab dengan menantu, bukankah Tante bakalan kehilangan putra Tante karena dipastikan akan diboyong pergi sama istrinya."
Evania hanya bisa senyum tipis mendengar penuturan Melly, dan bertanya dalam hati, kenapa harus aku, Tan?
"Kamu pasti bertanya kan, kenapa kamu yang Tante incar?"
Hebat, pikir Evania, Tante Mel bisa menembus pikiranku.
"Karena cewek-cewek muda sepantaran kamu yang pernah Tante temui, nggak ada yang bisa ngobrol santai dengan Tante seperti ini. Mereka itu rata-rata yang mentingin gengsi, penampilan, dan sok cantik. Eh, ada lagi, yang jutek dan galak. Yang mukanya selalu kecut, masam, nggak pernah senyum. Kayak seluruh penghuni dunia hutang sama dia, haha. Jujur saja, Tante paling takut tipe seperti itu."
Aku harusnya bangga atau takut ya? pikir Evania. Bangga karena ada seorang ibu berjiwa muda yang mengincar dirinya untuk dijadikan menantu idaman. Dan takut, karena dia tak lagi bisa kabur selama masih menolak bertemu anaknya yang sombong itu.
Sentuhan Melly pada tangannya yang di atas meja mengembalikan pikiran Evania. “Anggap Tante memohon, Eva. Ketemu Edward, ya. Supaya dia bisa minta maaf padamu.”
Mimik memohon seorang ibu yang tidak berniat jahat, hanya ingin mengenalkan putranya, akhirnya membuat Evania luruh. Dengan pelan dan sedikit ragu, ia mengangguk.
***
Evania dan Melly kembali ke ruangan. Evania menuju mejanya, sementara Melly bergerak ke ruangan Bu Risna.
Mila segera berbisik dengan antusias, "Gimana, gimana, Ev? Tante Mel ngapain kamu?"
Evania duduk, menggaruk leher. "Tante Mel ingin aku ketemu anaknya lagi, agar dia bisa minta maaf karena sikapnya kemarin. Sekalian berkenalan lebih dalam."
"Terus, kamu setuju?"
Evania mengangguk pelan. "Aku nggak tega lihat mimik Tante Mel waktu memohon. Lagian, beliau nggak berniat jahat, hanya ingin mengenalkan anaknya."
"Berarti Tante Mel serius ingin kamu jadian dengan anaknya?"
Lagi, Evania mengangguk. "Iya, Mil, beliau bilang ingin aku jadi menantunya."
Mila langsung membelalak senang, "Tuh, kan, apa kubilang. Mantap, Ev. Sudah dapat restu calon mertua. Selanjutnya bakalan lebih mudah menaklukkan anaknya."
"Belum tentu, Mil," sanggah Evania. "Pertama, orangnya angkuh dan mungkin masih terjebak kisah lama, jadi kayaknya nggak bakalan tertarik padaku. Kedua, aku yang entah bisa menyukainya atau tidak. Setidaknya untuk saat ini, karena aku belum begitu ingin pacaran lagi. Kecuali, untuk balas dendam dengan pamer pacar baru, atau ada cowok yang bisa bikin aku jatuh cinta."