Minggu siang.
Melly mengetuk pintu kamar Edward. “Edward, sudah bangun, belum? Kamu nggak perlu makan?”
Terdengar Edward menjawab dari dalam, “Bentar lagi.”
Melly yang penasaran putranya sudah bangun atau masih rebahan malas, segera membuka pintu. Edward selalu lupa menguncinya.
Seperti biasa, Edward tersentak kaget saat ibunya membuka pintu. Dia sedang duduk di lantai dengan menopang dagu di atas lututnya. Kamar masih remang karena gordyn belum disibak.
Melihat putra tunggalnya masih sekacau itu, kesabaran Melly habis. Ditariknya tangan Edward agar berdiri.
“Ayo, bangun, Edward,” pinta Melly. “Keluar dari kamar ini dan turun ke bawah, makan. Jangan mengira dengan seharian ngurung diri bisa kembalikan mantanmu. Kamu yang rugi. Nyiksa diri kayak gini, sedangkan dia di sana bersenang-senang dengan suaminya. Heran, anak Mama kenapa jadi cengeng gini.”
“Lepas, Ma,” Edward berusaha menarik lepas tangannya dari cengkeraman Melly.
“Baik, Mama lepas,” Melly menyentak lepas tangan Edward. “Sekarang kamu turun, dan makan. Sabtu depan Mama akan atur pertemuanmu dengan Evania. Cewek yang kamu usir kemarin itu, untuk minta maaf.”
Sebelum Edward sempat membuka mulut untuk menolaknya, Melly segera menambahkan,
“Nggak ada bantahan, harus!” Melly menegaskan. “Kamu sudah mempermalukan Mama. Evania itu teman Mama di kantor Tante Risna. Mama undang dia sebagai tamu, dan kamu seenaknya mengusirnya. Gimana Mama mau bertemu dia lagi?”
“Yah, jangan ketemu lagi,” balas Edward cuek.
Melly mendorong ringan pelipisnya. “Ngomong sih gampang, karena bukan kamu yang ngalami. Padahal kamu sendiri juga uring-uringan karena nggak bisa bertemu perempuan itu lagi.”
Edward melengos. “Yah, jangan dibandingin, Mama. Beda kasus.”
“Ah, sama saja,” balas Melly. “Bagimu perempuan itu istimewa. Bagi Mama, Evania juga istimewa. Makanya kamu harus minta maaf padanya.”
Edward melengos, beranjak ke arah pintu. “Kalau aku nggak mau?”
Melly segera mengejarnya. “Boleh. Asal kamu lunasi semua hutangmu ke Mama, dalam waktu dekat. Atau kamu mendingan pindah saja keluar. Ngekos, bayar sendiri semua biaya hidup.”
Tanpa menoleh dan terus melangkah menuju tangga Edward berujar, “Tega. Lebih milih anak orang ketimbang anak sendiri.”
“Iyalah, siapa suruh anak sendiri cengeng dan nggak sopan sama tamu Mama,” balas Melly lagi.
Keduanya mulai menuruni tangga.
“Makanya cepat move on,” kata Melly. “Satu minggu sudah cukup ya, Edward. Malu Mama kalau ketahuan kerabat dan teman-teman Mama. Atau kamu kalau masih kayak gitu, sekalian saja Mama telepon ke kantormu biar rekan kerjamu pada tahu. Mau?”
Keduanya sudah tiba di lantai bawah. Posisi Melly tetap di belakang Edward yang menuju dapur.
Edward lalu berhenti persis di depan meja makan. Membuka tudung saji, melihat lauk. “Makan dulu, aku kasih tahu keputusannya nanti, mau ketemu itu cewek atau nggak.”
“Mama nggak percaya,” ujar Melly. “Mending kamu mutusin sekarang. Ya atau tidak. Kalau tidak, jangan harap bisa makan.”
Edward berpaling pada Melly dengan tatapan memohon. “Tolonglah, Bos Melly, aku kelaparan.”
Gantian Melly yang melengos. “Eh, sudah tahu lapar, hah? Bukannya sudah kenyang nangis dan ngeluh?”
Edward memberi ibunya side eye. “Seorang ibu yang jahat dan kejam.”
Melly tertawa. “Iya, Ibu yang jahat dan kejam melahirkan putra yang cengeng dan mellow.” Mengacak rambut Edward.
Edward yang paling anti rambutnya berantakan segera merapikan dengan tangan, padahal masih acak-acakan sehabis bangun tidur.
“Percuma dirapikan, wajah gantengmu masih muka bantal, haha,” ledek Melly sambil beranjak ke ruang tengah. “
“Biarin, yang penting masih ada gantengnya,” balas Edward tidak mau kalah. Mengeluarkan piring dari rak bagian atas, lalu mengambil nasi dari rice cooker.
“Oya, Ed, Pak Tio katanya mau jemput kamu nanti sore,” beritahu Melly yang sudah duduk di sofa. Pak Tio adalah mantan suaminya. “Kamu siap-siap, ya. Jangan nanti dia menuduh Mama sengaja nggak kasih tahu kamu lagi. Sekalian biar istri tercintanya punya bahan untuk story-nya. Laki bini emang berjodoh dan sefrekuensi. Seluruh dunia harus tahu kalau mereka sedang kesal pada seseorang, terutama si mantannya ini."
"Mama balas lah," ujar Edward.
"Malas, nggak punya waktu ngurus begituan," balas Melly. "Lagian, kalau Mama balas itu artinya Mama terpancing. Dia nggak nulis nama soalnya. Memang sengaja mau jebak Mama."
Edward lalu membuang nafas berat. Dia paling malas pergi dengan keluarga ayahnya. Istri ayahnya yang bernama Hilda itu selalu menatapnya dengan sinis dan penuh curiga. Takut Edward minta uang pada ayahnya. Padahal uang ibunya saja sama banyaknya dengan ayahnya, atau mungkin lebih banyak. Tapi wanita itu selalu merasa suaminya kaya raya.
Belum lagi adik tirinya yang bernama Naomi itu. Remaja berusia enambelas tahun itu suka sekali welfie dengan Edward untuk kemudian diposting di akun Instagramnya dengan caption : with my handsome brother. Tanpa ketinggalan meng-tag Edward.
Edward sangat muak dengan kelakuan adiknya itu. Dan tidak boleh menolaknya karena bakal diomeli ayahnya.
Edward sudah selesai makan, dan menemui Melly di ruang tengah.
“Gimana, Anak Muda, ya atau tidak?” Melly masih menunggu jawaban Edward. Dia sedang membaca majalah mode.
Tatapan Melly seakan menusuk mata Edward. Menunggu jawaban putranya.
Edward mengusap wajah. Lalu sambil mengempas duduk, dia menghela nafas.
“Mama kalau bisa bikin Pak Tio batal jemput aku, maka jawabanku adalah iya.” Edward justru mengajukan syarat.
Mata Melly karuan membelalak tak percaya. “What? Berani sekali kasih Mama syarat.”
Edward nyengir. “Mau, nggak?”
Melly menepuk kaki Edward. “Mau, sih. Tapi kali ini pakai alasan apa lagi, Anak Muda? Kamu batuk pilek? Atau cacar? Haha.”
Keduanya tertawa.
“Cacar saja, Ma, lebih seram. Biar si Hilda ketakutan.” Edward tertawa licik.
Melly baru saja mau jawab oke, tapi urung. “Eh, nggak bisa, Ed. Pak Tio bakalan tahu ini bohong karena pasti ingat kamu sudah pernah cacar waktu SD. Waktu itu dia masih suami Mama, haha.”
Edward menggosok hidung. “Kalau gitu, batuk pilek saja. Ini juga sudah bisa bikin si Hilda ketakutan.”
"Tapi bulan lalu alasannya juga ini, kan? Masa tiap bulan dan tiap bapakmu ngajak jalan, kamu pasti pilek?"
Edward mencoba berpikir, mencari alasan tepat untuk mencegah ayahnya datang menjemput. Tapi sebelumnya, dia ingin tahu satu hal penting.
"Ma, uang yang dipinjam Pak Tio waktu itu sudah lunas?"
Melly berhenti membolak-balik majalah di tangannya, berpikir. "Yang katanya untuk bayar gaji karyawan itu, ya, Ed?"
"Iya, itu, Ma,"
"Sudah, dia sudah bayar. Tapi nggak boleh ketahuan istrinya kalau dia pinjam uang ke Mama. Bisa-bisa disuruh tidur di balkon, hahaha." Tertawa puas.
"Kalau benar itu hukumannya, aku jadi kepingin kasih tahu si Hilda, Ma," Edward tertawa. "Biar saja Pak Tio beneran tidur di balkon. Habis itu show time." Cekikikan membayangkannya.
"Hus, nggak boleh, Ed. Gitu-gitu itu ayahmu. Nggak kasihan sepanjang malam nepukin nyamuk segerombolan?" Melly berlagak melarang, padahal setelahnya ngakak berdua dengan putranya. "Lagian, nanti juga Mama lagi yang kena imbasnya, disindir. Kira-kira seperti ini, sengaja kasih pinjam uang ke mantan suami dengan harapan bakalan rujuk. Haha," Ngakak lagi membayangkannya.
"Betul itu, Ma, pasti," Edward sependapat. "Tapi, Ma, kok, Papa bisa pinjam uang ke Mama? Bukannya dia sangat kaya raya, ya, menurut versi istrinya."
Melly mengangkat bahu dengan cuek. "Mungkin dihabisin istrinya buat oplas. Ups," Tertawa dengan membekap mulut.
Edward ikut tertawa. "Mama nggak berencana buka klinik kecantikan? Biar si istri tercinta merengek-rengek suaminya minta voucher ke mantan istri."
"Hus, ganteng-ganteng ngegosip," ujar Melly, tertawa. "Kepikiran sih, Ed, buka. Tapi kan modalnya besar. Dan lagi Mama masih harus pergi kursus. Prosesnya masih panjang, pokoknya. Makanya nggak usah serakah lah. Salon sama butik saja sudah cukup buat hidupin kita berdua. Plus sudah bisa bikin yang di sana itu panas, gimana kalau tambah lagi klinik kecantikan? Bakalan langsung berasap, hahaha."
"Iya, Ma, paling dipikirnya suaminya ada donasi modal," timpal Edward.
"Yeah, begitulah, Ed. Dimana-mana sama saja. Si perampas akan selalu curiga dan fitnah pada korban rampasannya. Hidupnya nggak bakalan tenang."
Lalu ponsel di tangan Edward berdering. Sekilas dia melirik nama di layar : Pak Tio.
"Ma, gimana ini? Orangnya sudah muncul." Edward menyodorkan ponsel pada Melly.