Malam ini Mila nginap di rumah Evania. Suaminya dinas ke Bandung. Daripada sendirian di rumah, ia memilih menemani Evania.
Tubuh kedua perempuan yang sudah mengenakan piyama itu sekarang sudah menempel di ranjang. Posisi tubuh Evania telentang sementara Mila tengkurap. Dan sedang membahas soal Junita.
Tadi itu, sewaktu mereka menikmati seafood, Evania sengaja tidak membahas tentang itu, agar tidak merusak suasana.
Mila membaca tulisan di tangkapan layar ponsel yang dikirim Karin tadi. Lalu berdecak kesal. “Gila ya, bisa-bisanya fitnah kayak gitu. Berarti, Ev, pada Gio dia juga bilang kamu selingkuh.”
“Sudah pasti itu, Mil,” ujar Evania. “Bodohnya lagi itu cowok langsung percaya.”
“Sudah kena peletnya mungkin,” timpal Mila lagi.
Mila menatap wajah Junita di foto. “Wajah nggak cantik, nggak masalah,” ucapnya dongkol. “asal hati nggak jahat, otomatis tertolong sedikit. Ugh, kesal banget, jadinya body shaming.”
Mila membalikkan ponsel Evania ke ranjang. “Lagian, Ev, kamu punya salah apa sama dia, sampai bisa sedendam ini.”
Evania tertawa kecil. “Nggak ada masalah apa-apa, Mil. Dia saja yang selalu iri padaku. Padahal aku nggak pernah sok cantik di depan dia.”
“Dan lagi, hubungan kami biasa-biasa saja, nggak pernah konflik,” tambah Evania. “Bahkan belakangan ini beberapa jalan bareng. Dan nggak nyangka diam-diam ternyata menusukku dari belakang.”
“Wajar, Ev,” timbal Mila. “Kamu cantik, cerdas, dan menarik. Sedangkan dia tipe yang jarang dilirik cowok. Jadilah main rampas punya teman, dengan sedikit ramuan fitnah dan pura-pura lemah. Cowok yang nggak tegaan pasti terjerat.”
“Ya, dia tahu kelemahan mantanku, makanya diincar dan perlahan dicekokin ramuannya,” Evania tertawa.
"Itulah bahayanya kalau teman kenal pacar kita. Sudah banyak cerita kan, pacar ditikung sahabat sendiri. Nggak disangka kamu malah jadi salah satu korban."
"Iya, Mil, kalau saja nggak diingatkan sepupu si Junita, aku juga sudah lupa kapan kedua pengkhianat itu bertemu."
"Oh, coba cerita, Ev," Mila jadi antusias dengar.
Evania lalu membagikan cerita Jenny itu kepada Mila.
"Terus, sebelum di pesta itu, kedua pengkhianat itu sudah pernah bertemu?" tanya Mila setelah cerita Evania usai. "Atau, itu pertemuan pertama mereka?"
Evania mencoba mengingat-ingat. "Sepertinya itu pertemuan mereka. Tapi aku nggak tahu pasti juga, Mil. Aku benar-benar lupa. Kalau nggak diingatkan Jenny, aku bahkan sudah lupa soal di pesta itu." Tertawa getir.
"Tapi kamu tetap harus ingat kembali soal itu, Ev," Mila mengingatkan. "Mungkin bagimu nggak penting lagi. Tapi, setidaknya kamu perlu tahu kapan persisnya mereka pertama kali bertemu dan gimana reaksi si perempuan jahat saat melihat si mantan. Supaya pola yang sama nggak akan dia pakai lagi di masa depan. Yeah, buat jaga-jaga aja. Siapa tahu nantinya dia ngincar lagi pacar barumu. Dan pura-pura bertobat minta maaf terus kamu maafin lagi."
Evania berlagak meringis pada Mila. "Hah, masih ada lagi? Oh, janganlah, Mil. Capek."
Mila ingin mendengar pernyataan Evania berikutnya dengan menatapnya lekat. Karena dia tahu, rekannya ini mudah melupakan tekadnya sendiri lalu kembali memaafkan orang yang pernah menjahatinya.
"Oke, Mil, kalaupun beneran ada, dipastikan aku nggak bakalan maafin lagi," Evania menyengir. "Cukup. Okelah, waktu SMP masih lugu, dan kemarin masih berusaha jadi pemaaf, makanya bersedia maafin dan kembali berteman dengannya. Tapi, jangan harap aku akan semudah itu lagi tergugah tampang pura-pura melasnya."
"Yakin?"
"Ya, yakin," tegas Evania tanpa berpikir. Untuk saat ini dia sangat yakin tidak akan selemah itu lagi.
Mila masih menatapnya dengan tatapan ragu, sebelum akhirnya, "Oke, untuk saat ini aku percaya, tujuhpuluh persen. Aku akan bantu mantau kamu, Ev, biar kamu bisa komitmen dengan tekadmu. Dan, kalau bisa, kamu harus hubungi aku jika mereka muncul di hadapanmu dan mulai memohon. Biar aku yang hadapi."
Evania tertawa senang, "Kuucapkan terima kasih dulu, Mil."
"Sama-sama, Ev," Mila mengerdipkan sebelah matanya.
"Eh, Mil, sampai lupa," Evania tiba-tiba saja teringat sesuatu. "Kita lupakan dulu soal dua pengkhianat. Karena aku punya gosip terbaru yang lebih seru.”
Mila langsung antusias. “Apa itu, Ev?”
“Itu, si Edward,” Evania bangun, dan duduk bersila. “aku sudah bertemu dia kemarin.”
Mila semakin antusias. “Terus, terus, Ev. Gimana orangnya, ganteng, nggak?”
“Ganteng, sih,” jawab Evania malas. “Tapi sombongnya ampun. Dia mengusirku, haha.” Tertawa geli membayangkannya sekarang.
“Hah, serius?” Mila bangun, ikutan duduk bersila. “Kok bisa, Ev? Memangnya kamu ngapain di sana?”
Evania menghela nafas, lalu bercerita dengan sedikit malas. Bagaimana dia diajak Tante Melly ke rumahnya, lalu ditinggal sendiri di ruangan itu, dan putranya yang sombong itu tiba-tiba muncul, menuduhnya seorang sales barang tidak jelas. Endingnya, Evania diusir.
Mila jadi ikutan dongkol. “Wah, sombong sekali. Padahal dia sendiri juga didepak pacarnya. Lupa dia.” Lalu ragu sendiri. "Tapi, benar nggak, sih, dia yang didepak? Ibunya sih nggak cerita detail. Ah, anggap saja emang didepak. Makanya dia yang sulit move on."
“Yah, mungkin masih fase patah hati, Mil, jadinya sensitif. Bawaannya ingin marah terus. Pas saja ada objek buat pelampiasan,” desah Evania pasrah menjadi objek pelampiasan manusia yang sedang mellow lantaran patah hati.
Evania bergerak ke meja rias. “Padahal tadinya aku berencana jadikan dia kandidat pertama pacar baru untuk dipamer ke pernikahan mantanku nanti. Eh, malah buyar.”
Mila terlihat surprais, “Eh, serius, Ev, kamu mendengarkan saranku untuk balas dendam ke mereka?”
Evania tersenyum licik. “Iya, Mil, setelah dipikir-pikir kayaknya seru juga. Karena, mereka pasti mengundangku.”
“Terus, sekarang gimana jadinya, Ev?” Mila mendekati Evania. “Kandidat pertamamu sudah gugur.”
“Iya, sudah kucoret namanya dari list,” ujar Evania. “Palingan kalau undangan sudah di tangan dan belum ada kandidatnya, aku rental saja, haha.”
"Ya, betul itu, Ev," timpal Mila. "Eh, ngomong-ngomong, kamu mau kenalan dengan kerabatnya suamiku, nggak? Kayaknya masih ada yang single. Nanti deh, aku coba tanyain."
"Aku ucapin terima kasih dulu untuk niat baiknya," ucap Evania. "Tapi, Mil, nggak usah terlalu ngoyo, ya. Aku sebenarnya juga belum ingin pacaran dulu. Soalnya masih harus mulai lagi dari awal adaptasi dengan orang baru. Saat ini, belum ada semangat untuk itu, hehe. Berjalan secara alami saja, ikut arus."
"Iya, sih," Mila sependapat. Lalu ingat. "Oya, Ev, beberapa hari lalu ada keponakan Bu Risna datang. Kamu lagi keluar, makanya nggak ketemu dia. Orangnya lumayan, lho. Cuma yah belum tahu statusnya, sudah sold out atau masih available, haha."
Evania langsung bersemangat untuk bercanda, "Wah, boleh, boleh, Semoga datang lagi nanti. Palingan bisa dimulai dulu dari obrolan ringan, hehe."
"Yah, semoga beneran datang lagi," Mila ikut terkekeh senang. Lalu kembali ke topik awal. "Terus, Ev, si Edward melankolis, gimana? Tante Mel kayaknya nggak akan semudah itu nyerah. Apalagi dia sudah bilang ingin kenalin kalian. Malu, dong, kalau dibatalin begitu saja gara-gara ulah anaknya."
Evania menggaruk pelipis yang memang gatal. "Yah, lihat saja nanti gimana. Kalau si bocah angkuh bersedia minta maaf, ya aku akan pertimbangkan lagi."
"Ya, Ev, demi balas dendam, haha." timpal Mila.
"Iya, Mil, demi balas dendam bawa pacar baru di pernikahan dua pengkhianat, hahaha." balas Evania lagi dengan penuh semangat.