Sementara itu, dari salon ibunya, Edward pergi ke kafe yang dulunya sering dia kunjungi bersama Susan, mantannya.
Dan agar nantinya pikirannya leluasa menayangkan kembali adegan saat mereka bersama di ruangan ini, dia bahkan sengaja menempati meja yang pernah mereka tempati. Plus menu apa saja yang menjadi favorit Susan. Edward masih ingat dengan jelas hingga saat ini.
“Kamu sedang ngapain, San?” gumamnya sendu. “Apa suamimu juga memperlakukanmu sebaik aku? Duh, kenapa sulit sekali melupakanmu.”
Saat waiter menyodorkan buku menu, Edward langsung menolaknya, "Nggak perlu buku menu, aku mau langsung order. Jus alpukat dan spaghetti carbonara."
Waiter langsung terkesan, "Oh, kakaknya pelanggan di sini, ya, soalnya sudah hapal menunya."
Edward tersenyum bangga sesaat, "Iya, sama pacarku," Lalu menambahkan dalam hati, "dulu". Senyumnya lenyap.
"Oh, pantas belum pernah lihat dalam beberapa minggu ini, karena aku baru join sebulan lalu," Waiter tersenyum. "Pacarnya nggak ikut hari ini, ya, Kak?"
Rasa bangga Edward seketika berubah sesal. Kenapa juga aku mesti sombong tadi, jadinya gelagapan mencari jawaban. Cari penyakit sendiri, rutuknya.
"Eh, iya, pacarku lagi...," Berpikir, "dinas ke luar kota." Senyum kikuk.
"Oh, oke, ditunggu ya, Kak," senyumnya, lalu beranjak.
"Dasar kepo," umpat Edward, lalu mulai memandang sekeliling.
Dulu, saat bersama Susan, dia hampir tidak pernah mengamati ruangan ini lantaran sibuk berkutat pada ponsel sementara Susan sedang hunting barang-barang di toko online. Lalu, setelah menemukan barang yang cocok, Susan akan merayu Edward agar membelinya. Saat itu, Edward tentu saja langsung setuju dan melakukan pembayaran.
Dan, sekarang, dia merasa begitu kesal pada dirinya yang begitu naif dan bodoh. Terutama kalau mengingat saat Susan menyodorkan undangan pernikahan, tepat sehari setelah perempuan itu memutuskannya.
Rupanya, diam-diam, Susan telah mempersiapkan pernikahan mewah itu, lalu mengakhiri hubungan mereka tepat sehari sebelum resepsi mewahnya dengan pria kaya raya itu. Dan hanya butuh beberapa menit baginya untuk memutuskan tali cinta mereka yang sudah dirangkai selama setahun lebih.
Itulah kenapa Edward belum bisa move on. Statusnya berubah jomblo dengan sangat mendadak, tanpa pernah terpikirkan olehnya. Bahkan di hari Susan mengajaknya bertemu, dia masih mengira itu adalah kencan mereka seperti biasanya.
Nyatanya, dia ditinggal begitu saja setelah mantannya itu melukai perasaannya dengan pernyataan seangkuh itu.
Dan hari ini sudah seminggu mantannya berstatus istri orang.
Dalam seminggu ini, Susan dipastikan sedang menikmati peran barunya sebagai seorang istri pengusaha kaya plus sosialita baru. Sementara Edward terpuruk dan masih meneteskan airmata saat teringat kenangan mereka, serta uangnya yang terbuang percuma demi memoles istri orang menjadi bening berkilau sehingga pantas masuk ke kalangan atas.
Ponsel Edward berdering.
Dengan kesal diliriknya sekilas layar ponsel di meja. Terpampang nama Andika.
Dan agar dering itu segera senyap, Edward terpaksa mematikannya. Gantian bunyi chat masuk. Dari layar, di beranda terbaca tulisan dari Andika : Ed, tolong aku...
***
Sekitar jam enam sore, Edward tiba di rumah. Dan menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
“Ma, besok aku pinjam dua juta, ya, untuk biaya hidup sampai gajian.”
Tangan Melly berhenti mengaduk isi wajan. “Lha, uangmu kemana lagi, Edward?”
Sambil bergerak pergi Edward menjawab. “Dipinjam Andika.”
Melly mematikan kompor induksi. Melepas celemek, melemparnya ke dapur, lalu menyusul Edward yang telah di ruang tamu.
“Andika mantan teman kuliahmu yang sudah beberapa kali minjam itu? Terus, kali ini berapa lagi, Edward? Kamu nggak kapok-kapok ya dimanfaatin teman-teman nggak jelasmu.”
Edward menghempas ke sofa kulit coklat. “Aku nggak bisa nolak mereka, Ma. Waktu kuliah dulu, kami lumayan dekat. Sekarang aja setelah mulai kerja, jadi jarang bertemu."
"Jarang bertemu dan hanya sesekali nongol lewat telepon saja kamu bisa semudah itu berpisah dengan uangmu, gimana kalau sering ketemu, hah?" omel Melly, lalu bersedekap di hadapan Edward. Mulai muak dengan sikap lemah putranya yang masih tak berdaya terhadap teman-teman culasnya itu. “Kamu belum jawab, Edward. Kali ini kamu ditipu berapa lagi?”
Edward mengusap wajahnya. Tak berani menatap mata ibunya. “Tigapuluh, Ma.” Tentu saja yang dimaksud adalah tigapuluh juta.
Mata Melly kontan membesar, marah, seolah bersiap menyemburkan api ke arah Edward. Lalu mengatur napas agar tak sampai sesak. Dongkol dan kesal yang tercipta atas kebodohan anaknya yang berulang kali telah menumpuk di dalam dirinya. Membuatnya jadi sulit bernapas. Dan sekarang lah saatnya dikeluarkan.
“Kamu ini ya, benar-benar,” sembur Melly, tak lagi bisa meredam dongkolnya. Dan mesti mengumpulkan segenap tenaga untuk menumpahkan semua keluh-kesahnya.
“Kalau cuma melankolis, cengeng, ya sudahlah, palingan kamu cuma rugi airmata. Tapi ini... Edward, bisa nggak kamu jangan sebodoh ini lagi, hah? Sudah habis berapa uangmu cuma untuk teman-temanmu itu. Belum lagi dipakai perempuan itu untuk kebutuhan salonnya, fashionnya, makannya. Tapi apa yang kamu dapat, hah?”
Saking dongkolnya, Melly ingin sekali menjitak kepala Edward. “Ugh.., Mama harusnya jitak kepalamu biar cerdas sedikit."
Melly menghela napas jengkel, "Kamu ya, Ed, bakal menikah nanti, punya anak. Dari sekarang sudah harus ngumpulin dana itu, bahkan dari dulu sejak kamu mulai kerja. Tapi apa, kemana perginya semua uangmu?”
Kali ini Melly mengatur napas lagi, “Dengar, ya, Mama nggak akan bantu keuanganmu lagi. Mama sudah capek ingatin kamu. Uangmu begitu mudahnya berpindah ke rekening gerombolan parasit itu. Belum cukup ya kamu digerogoti mereka, dari kuliah sampai sekarang."
Edward masam, memandangi ibunya yang terus menceramahinya.
"Tolonglah, Ed, sadar," tambah Melly. "Jangan mau dimanfaatin mereka lagi.”
Edward menyandarkan kepalanya. “Aku nggak bisa nolak, Mama,” ulangnya.
"Kenapa nggak bisa nolak?" tanya Melly sinis. "Dulunya kamu sering dibantu mereka? Atau jangan-jangan kamu pernah jadi korban perundungan, sehingga sampai sekarang masih trauma dan tunduk pada mereka?"
"Nggak semuanya, Ma," jawab Edward dengan nada malas. "Jangan nuduh yang bukan-bukan."
"Oke, anggap Mama asal nuduh," Melly bersedekap lagi. "Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa segitu patuh dan tunduk pada mereka?"
Kali ini Edward tidak bisa jawab.
“Padahal kamu tinggal blokir nomor kontak mereka, beres," Melly berjalan ke dapur. “Ini terakhir kali ya, Ed. Setelah itu Mama nggak akan pinjamin kamu lagi. Heran. Uang sendiri dikasih ke orang. Biaya hidup sendiri malah minjam ke Mama. Kamu ini bodoh, t***l, atau b**o, sih?”
“Iya, Ma, mau pinjami juga sudah nggak ada uangnya, haha.” Edward tertawa getir. Membayangkan uang-uangnya yang begitu mudahnya berpindah ke tangan teman-temannya.
Mama benar, batinnya, mereka memang gerombolan parasit. Selain mereka, uang Edward juga banyak dihabiskan Susan agar senantiasa cantik berkilau serta puas flexing dengan barang-barang branded itu.
Lantas, apa yang didapatnya? Tetap saja perempuan itu pergi begitu saja ke pelukan pria kaya. Jadi apa manfaatnya? Tidak ada.
Lalu bagaimana dengan teman-teman parasitnya itu? Sama saja. Dalam setahun juga belum tentu bertemu.
Tapi begitu muncul, Edward harus berpisah dengan uangnya untuk berpindah ke rekening mereka. Bodoh sekali, bukan?
Sementara masih terdengar ibunya mengomel di dapur, Edward memejamkan mata. Kesal sendiri karena bodoh.
Padahal dia tinggal jawab, tidak ada. Sesulit itukah menjawab demikian? Ataukah sebenarnya dia gengsi untuk menolak?
Yeah, mungkin itu. Padahal kalau ditolak juga wajar saja. Toh, mereka sudah jarang bertemu. Hanya sesekali saja melalui chat dan panggilan telepon.
Tapi, itu pun kamu nggak berkutik kalau chat yang isinya minjam uang itu masuk ke ponselmu, pikirnya jengkel. Tolonglah, jangan begitu lagi. Uangmu nggak bakal jamuran kalau nggak bantu mereka.
Iya sih, uang akan disebut uang kalau digunakan, tapi, lihat juga dipakainya dimana atau oleh siapa.
Teman-temanmu itu tentu saja nggak masuk daftar orang yang pantas kamu bantu.
Oke, Ed? Mulai sekarang, belajarlah untuk bilang : tidak !
***