Sabtu siang.
Evania duduk di sofa. Ia baru saja mengakhiri video call bersama orangtuanya. Di dalam layar ponselnya tadi, betapa bahagianya ibunya momong cucu kesayangan yang semakin menggemaskan.
Itulah kenapa orangtuanya belum berencana pulang. Evania mendukung saja. Toh, dia bisa mengurus diri sendiri.
Biarlah orangtuanya menikmati masa tuanya dengan bahagia. Setelah bertahun-tahun bekerja demi membesarkan Evania dan abangnya.
“Kapan ajak Gio ke sini?” Tadi, Papanya bertanya dengan nada bercanda.
Evania hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan iseng ayahnya.
Beliau memang lumayan akrab dengan Gio yang sering menemaninya nonton film, entah di rumah atau di bioskop. Kadang mengobrol seru. Bahas politik, masa muda, pekerjaan, dan topik lainnya.
Keakraban mereka tentu saja menyiratkan kalau beliau merestui hubungan Evania-Gio. Dan berharap keduanya bisa menikah, kelak.
Dan entah bagaimana reaksi beliau saat tahu kalau Gio tidak akan pernah menjadi menantunya. Itulah sebabnya Evania berharap kedua orangtuanya semakin betah di rumah abangnya, sehingga tidak berencana pulang dalam waktu dekat ini.
Evania mulai mengepel lantai. Dari ruang depan hingga dapur. Kelar semua tugas rumah, dia berencana memesan online food.
Bagus juga tidak ada yang mengajaknya jalan-jalan, pikirnya. Jadi bisa bersantai di rumah. Sendirian.
Dan ini Sabtu ke sekian dia di rumah saja. Sebelumnya, jika tidak sedang bersama Gio, ia akan menemani ibunya ke rumah kerabat, atau shopping bersama orangtuanya, dan juga teman. Salah satunya Junita, si perampas pacarnya.
Sebelum tragedi perampasan itu terjadi, Junita beberapa kali mengajak Evania ketemuan. Entah untuk sekedar ngobrol ataupun nonton. Dan mungkin sejak awal tujuannya mendekati Evania lagi lantaran mengincar Gio. Kapan persisnya ia pernah mempertemukan pacarnya itu kepada Junita, Evania lupa.
Tapi, berdasarkan cerita Jenny, sepupu Junita, mereka bertemu Gio ketika menghadiri pesta teman. Yah, bisa jadi awal mula memang dari sana.
Hm, soal itu dibiarkan saja dulu, tidak perlu dipikirkan. Nanti juga muncul sendiri jawabannya. Yang jelas, andaikan mantannya itu menyesal dan minta rujuk, Evania dipastikan akan menolak.
Pria di kota ini masih banyak, pikirnya. Asalkan mau membuka hati lagi, aku pasti bisa menemukan pengganti si pengkhianat. So, tidak perlu berpesta airmata atau minimal mogok makan. Rugi.
***
Sore. Evania baru bangun dari tidur siang, dan mengecek notifikasi di ponselnya.
Ada dua chat masuk terbaru. Satu dari Mila, mengabarkan kalau jam lima sore dia akan menjemput Evania untuk dinner bersama.
Evania langsung melihat jam di layar ponsel. Jam 16.25. Hah? Setengah jam lagi.
Waduh, harus segera bersiap-siap. Malu kalau Mila sampai harus menunggu.
Evania melempar ponsel ke ranjang. Tapi teringat chat satunya lagi yang belum dibukanya.
Tadi sekilas terbaca nama Karin. Oh, kalau dia nanti saja baru dibaca, pikir Evania, lalu bergegas ke kamar mandi yang berada di kamarnya.
Beberapa menit menjelang pukul lima, Evania telah duduk manis di sofa. Menunggu kedatangan Mila. Dia mengenakan rok 7/8 warna caramel dipadu kaos warna army. Bagian ujung kaos dimasukin ke rok.
Tak lupa ia menguncir rambutnya. Wajah cantiknya hanya dibubuhi foundation, bedak padat, dan blush on varian pink rose. Tanpa maskara.
Ia sedang membalas chat dari Karin, mantan teman SMP, yang juga kenal Junita.
Karin hanya ingin memastikan kalau info dari Junita terkait Evania itu benar adanya.
Rupanya, Junita yang merasa menang, mulai pamer foto dirinya bersama Gio di grup chatting yang beranggotakan beberapa teman SMP, termasuk Karin.
Grup yang beranggotakan para alumnus sekolah itu kebanyakan berisi gosip atau flexing kesuksesan para anggota. Sementara Evania bukan tipe seperti itu, makanya tidak berminat join.
Ya, daripada ponselnya terus berbunyi dan memori ponselnya menggemuk dimana para anggota grup bergosip ria dan pamer kekayaaan plus kesuksesan, mendingan dia tidak usah berada di sana.
Biarlah mereka menganggapnya sombong atau justru insecure karena belum sukses. Toh, mereka tidak akan sering bertemu. Bahkan sangat jarang. Palingan bertemunya pas menghadiri undangan sesama teman.
Dan, Evania menugaskan Karin untuk melapor kepadanya jika ada informasi penting di grup tersebut.
Itulah sebabnya Karin segera melapor kepada Evania tentang postingan Junita yang dianggap cukup penting.
Dan, agar lebih akurat, Karin menyertakan tangkapan layar chat antara seorang teman dengan Junita. Si teman terkejut karena seingatnya cowok di foto itu adalah pacar Evania. Si teman bahkan masih punya foto mereka yang diambil di pestanya waktu itu.
Yang dibalas Junita disertai emoticon penuh cinta kalau cowok itu sekarang adalah pacarnya. Menurutnya, Gio meninggalkan Evania karena ketahuan selingkuh dengan rekan kerjanya. Yang lalu direspon teman-teman lainnya dengan hujatan kepada Evania.
Nah, gara-gara obrolan itulah Karin jadinya tahu kalau itu ternyata mantan Evania. Itulah sebabnya dia perlu memastikan kebenarannya.
Reaksi Evania seusai membaca isi chat di tangkapan layar itu hanya bisa berdecak heran. Berusaha tenang dengan berkali-kali menarik napas dan membuangnya.
Bisa-bisanya hanya dengan satu fitnah murahan tanpa perlu bukti, orang-orang semudah itu menghujat. Seolah informasi itu sudah dipastikan benar. Betapa mengerikannya manusia jaman sekarang.
Tapi di kasus Evania, tidak heran juga. Gerombolan penghujat itu memang personil geng si tukang fitnah.
Dahulu kala, mereka adalah penghuni kelas yang memang sudah diprogram untuk menjadi sirik, iri, dan dengki atas prestasi teman-temannya. Mereka yang lalu dirangkul dan dikumpulkan Junita untuk menjadi sebuah geng.
Di antara mereka, terselip satu mantan bestie Evania yang membelot. Fitnahan Junita di masa lalu berhasil membuat Evania dijauhi beberapa teman dekatnya. Namun untunglah, setelah kebenaran terungkap, teman-temannya itu kembali, kecuali yang satu itu. Memilih bertahan bersama Junita lantaran memang seia sekata. Dan, tentu saja ada di grup itu juga.
Dan, kelak, andai Evania sungguh diundang ke pernikahan Junita, dia bakalan bertemu mereka di sana.
Lalu, sebagai pembelaan, Evania menelepon Karin yang sekarang berada di Sydney. Menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Terserah kamu, Rin, mau percaya versi siapa," Begitu kata Evania setelahnya. "Yang pasti sih dari aku ya ceritanya seperti itu. Aku aja kaget waktu mantanku tiba-tiba mutusin dan bilang sudah jadian dengan si Junita."
"Tentu saja aku lebih percaya kamu, Ev," jawab Karin, dari benua lain. "Aku bukannya nggak tahu karakter si Junita. Fitnahan dia ke kamu di jaman dulu itu saja aku masih ingat. Kamu saja yang gampang maafin dan percaya kalau dia sudah kapok. Manusia kayak gitu susah, Ev, tobatnya. Sudah setelan pabrik, hehe. Palingan untuk sementara ini dia merasa menang. Nanti juga nangis. Sesuatu yang didapat dari cara busuk, bakalan diambil kembali atau malah hilang lenyap, hehe."
Evania tersenyum lega. "Benar, Rin, nanti juga dia bakalan dapat akibatnya. Aku sih sudah ikhlasin mantanku. Nggak butuh pria yang nggak setia dan gampang diambil, hehe. Makasih ya, Rin, udah mau percaya. Ingat, ya, jangan sampai warga di grup itu tahu versiku. Biar saja mereka koar-koar menghujatku, toh, kami sangat jarang bertemu."
"Tenang, Ev, aku bisa jaga rahasia. Kayaknya dalam waktu dekat aku berencana pulang kampung. Nanti kita ketemuan, ya."
"Oke, Rin, ditunggu kabarnya, ya."
Bertepatan dengan berakhirnya obrolan mereka, terdengar klakson mobil di depan sana. Mila sudah tiba. Evania bergegas keluar setelah menyambar tas pundaknya dari meja.