Sabtu siang.
Setelah berpikir sekian jam di kamarnya, Edward akhirnya meluncur ke salon ibunya, Melly, dengan motor NMax hitam.
Setelah memarkir kenderaan favoritnya di parkiran khusus motor, Edward melangkah pelan menuju salon bertuliskan Melly Beauty di tembok jendela lantai dua itu.
Edward mendorong pintu kaca, wewangian khas salon langsung menyapa hidungnya, tak ketinggalan dengungan hair dryer menyusup ke telinganya.
Semua kursi empuk di depan cermin terisi. Didominasi kaum hawa, pastinya. Dua pria terlihat berkutat dengan ponsel di sofa tamu. Barangkali sedang menunggu pasangan masing-masing.
Berhubung seluruh staf sibuk dengan tugas masing-masing, kehadiran Edward luput dari perhatian mereka.
Meja kasir di dekat pintu yang biasanya ada sosok ibunya dan kasir imut itu terlihat kosong.
Dimanakah mereka? Padahal, andaipun Edward adalah tamu biasa, tentunya harus ada yang menyapa, sekaligus bertanya tujuan kedatangannya.
Edward agak kesal jadinya.
Salah seorang stylist pria bernama Jo kebetulan menoleh ke arahnya. Sedikit terpana. Mungkin dalam pikirannya ia berkata, angin apa yang menerbangkan si melankolis ke sini.
“Hai, Kak Ed, tumben mampir.” Suara Jo menyeruak di antara dengungan hair dryer.
Sontak beberapa staf menoleh ke arah Edward, lalu saling memandang, tidak percaya si tuan muda ada di sini.
Jo yang berambut pirang memberi isyarat kepada Edward untuk menunggu sebentar. Ia hampir selesai menggunting rambut seorang wanita paruh baya.
Edward mendekati Jo, “ Bos mana, Jo? Meja kasir kenapa kosong?”
“Nanti aku cerita,” Jo menurunkan suaranya sambil meraih cermin bulat dari rak di sampingnya. Lalu diarahkan ke bagian belakang kepala kliennya. “Bunda, bagian belakang. Cocok?”
Edward meninggalkan Jo yang masih memamerkan hasil karyanya kepada kliennya, menuju meja kasir, lalu duduk di kursi. Sambil matanya menatap tulisan di kertas yang berisikan nama tamu, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, menelepon ibunya.
Beliau sekarang lagi kembali ke salon dengan berjalan kaki.
Selagi Edward berbicara dengan ibunya di ponsel, tamu berambut ungu mendekati meja. Berdiri di hadapan Edward, bertanya berapa total yang harus dibayar.
Edward memintanya tunggu sebentar karena ibunya sedang perjalanan kembali ke salon.
Untunglah, tak lama Melly kembali dan bergegas ke meja kasir, melayani si rambut ungu dengan sangat ramah. Setelah transaksi selesai dan Melly mengucapkan ‘terima kasih, datang kembali, ya’, sang tamu melangkah keluar dengan ekspresi puas.
Melly menghempas duduk di kursi, di samping Edward. “Uff, capeknya,” Begitu ia membuang nafas. Lalu beralih ke putranya. Menurunkan suara agar tidak kedengaran segenap manusia di ruangan itu.
“Tuh, si Nadia sampai ambruk gara-gara menangisi mantannya yang mau nikah dengan perempuan lain. Persis kasusmu. Makanya, kamu lanjutkan saja kegiatan mengurung diri di kamar, nangis sambil pelototin foto mantanmu itu.” Ditepuk-tepuknya pundak Edward. “Oke, Nak? Biar nanti Mama bisa antar kamu ke klinik itu juga.”
Raut wajah Edward berubah masam. “Terima kasih, nggak perlu repot-repot.”
Sambil memutar badan menghadap layar laptopnya, Melly menghela nafas dan berkata, “Baguslah, Mama bisa hemat daya.” Dan baru saja jari-jari kanannya menggeser mouse, teringat sesuatu.
Melly kembali beralih ke Edward, “Ngomong-ngomong, Anak-muda, kamu ke sini bukan untuk sekedar duduk ngadem AC, kan?”
Tangan kanan Edward mendorong poni rambutnya ke belakang. Nyengir dengan malas. “Merubah penampilan lah, Bos. Buang masa lalu.”
Melly yang sedang meneguk air dari botol nyaris tersedak. “Hah, yakin?”
Edward mengacak rambut bagian atasnya yang tebal. Pria muda ini sadar dia tampan, karenanya sangat menjaga penampilan. Terutama model rambutnya harus selalu trendy.
"Yah, nggak begitu yakin,” ujarnya datar. “Tapi sepertinya yakin juga.”
Melly mendorong ringan jidat putranya. “Yang serius. Jangan nanti sudah digunting, kamu galau lagi.”
Melly bisa berkata demikian karena pernah menyarankan Edward menggunting rambutnya yang sudah panjang dan tebal, sehari setelah kisah cintanya tamat. Namun dtolaknya dengan alasan belum mau merombak model rambutnya selagi masih patah hati. Masih melankolis. Nanti saja kalau benar-benar sudah move on.
Dan sekarang, tiba-tiba saja dia muncul di sini dan bilang mau menggunting rambutnya dengan alasan ingin membuang masa lalu. Mood yang masih labil itulah yang membuat ibunya harus meyakinkannya dulu.
Edward terdiam. Keraguan kembali menyelimuti dirinya. Tadi, dari rumah ia sudah sangat yakin sudah saatnya menggunting rambutnya, demi membuang masa lalu. Tapi sekarang, setelah diinterogasi ibunya, ia kembali ragu.
Lalu, setelah rambutnya dipendeki, mungkin hingga ketebalan satu senti, akankah segala kenangannya bersama perempuan yang kini telah menjadi istri sah pria kaya itu sungguh ikut terbuang?
Akankah benaknya berhenti menayangkan wajah cantik body bahenol milik mantannya itu? Dan yang terpenting, akankah dirinya benar-benar telah selesai dengan masa lalu?
Yang dalam hal ini tentu saja masa lalunya yang berhubungan dengan Susan, mantannya itu.
Dan kalau benaran telah sanggup melakukannya, silakan duduk di kursi itu, Ed. Biarkan jemari Jo yang piawai menuntun mesin cukur itu mengitari kepalamu untuk membabat habis rambutmu.
“Sudah, sebaiknya kamu pulang saja.” Suara ibunya menyadarkan Edward dari lamunan.
Melly tentu saja bisa membaca ekspresi wajah putranya yang tersirat keraguan. Pun, dia sangat hapal karakternya yang terkadang plin plan. Mudah merubah pikiran. Terlebih lagi di saat dirinya masih labil.
Dari itu, sebaiknya bocah labil ini disuruh pulang saja daripada nantinya ribet alias menyesal berkepanjangan.
Melly lalu menambahkan dengan tegas. “Balik lagi nanti kalau benar-benar sudah yakin mau melupakan perempuan itu.”
Untunglah Edward patuh pada perkataan ibunya. Ia bangkit berdiri. “Ya, sudah, Ma, aku pulang saja.”
Ia beranjak pelan ke pintu. Menariknya hingga terbuka, dan melangkah keluar seperti orang linglung kehilangan arah.
Dari tempat duduknya, Melly memperhatikan punggung Edward yang kemudian menghilang setelah tubuh berbalut celana jeans hitam dan kaos putih itu bergerak ke arah kiri. Lalu membuang nafas dengan berat.
Segera setelah tamunya pamitan, Jo mendekati meja kasir. “Bos usir Edward?”
Melly yang sedang mencatat di kertas tamu menjawab, “Iya, itu bocah masih labil. Bisa ribet urusannya kalau kamu sampai menggunting rambutnya sekarang. Kecuali kamu berani ambil tantangan ini. Berani, heh?”
Jo tertawa. “Nggak lah, Bos. Nggak mau aku. Takut banget berhadapan dengan manusia yang sedang melow. Bisa porak-poranda tempat ini dibuatnya.”
“Untung tahu,” Melly menimpali. Keduanya lalu tertawa. “Anakku itu memang parah, Jo. Tapi aku sepertinya sudah harus beraksi lagi.”
“Oh, apa itu, Bos?” Jo terlihat antusias.
“Sst,” Melly menempelkan telunjuk kanan ke bibir. “Jangan kedengaran yang lain.”
Jo mendekatkan telinga ke arah Melly.
“Itu, Jo, yang kemarin aku cerita," bisik Melly. "akan ada kelanjutannya. Edward dan cewek itu nggak bakalan aku lepas."