Berita tentang orang asing yang menentang Calder di rumah minum menyebar di Redemption lebih cepat dari badai debu. Pada sore hari, nama itu sudah sampai ke telinga orang yang paling tidak diinginkan mendengarnya.
Di ujung utara kota, terpisah dari bangunan-bangunan lapuk lainnya, berdiri sebuah rumah besar dua lantai yang dulunya milik kepala tambang. Sekarang rumah itu menjadi sarang. Di teras lebarnya, di kursi goyang dari kayu mahogani yang didatangkan dari timur, duduk seorang lelaki bertubuh ramping dengan setelan hitam yang rapi, tidak seperti anak buahnya yang dekil.
Namanya Augustus Morrow.
Ia bukan tipe bandit yang berteriak dan menggebrak. Justru sebaliknya: suaranya halus, gerakannya tenang, dan ia selalu tersenyum tipis seolah dunia adalah lelucon yang hanya ia yang mengerti. Itu membuatnya jauh lebih menakutkan daripada seratus Calder.
"Jadi," kata Morrow pelan, sambil memutar segelas anggur merah di tangannya, "seorang penembak tua menolak membayar pajak jalan, dan kau, Calder, membiarkannya hidup."
Calder berdiri di hadapannya, topi di tangan, kepala tertunduk. Lelaki besar yang menggetarkan seisi rumah minum itu sekarang terlihat seperti anjing yang menunggu tendangan. "Bos, ada sesuatu pada orang itu. Caranya berdiri. Aku pernah lihat orang seperti dia. Mereka bukan sembarangan."
Morrow menyesap anggurnya. "Setiap orang bisa mati, Calder. Bahkan yang berdiri dengan benar." Ia menatap padang gersang di kejauhan. "Tapi aku penasaran. Siapa dia? Dari mana?"
"Dia tidak menyebut nama, Bos."
"Orang yang tidak menyebut nama," gumam Morrow, "biasanya punya nama yang ingin dilupakan dunia. Atau yang ditakuti dunia." Ia meletakkan gelas. "Tahan dulu. Aku mau lihat apa yang dia lakukan. Kota ini membosankan akhir-akhir ini. Sudah lama tidak ada yang berani menatap mata kalian."
Pada saat yang sama, di sisi lain kota, si asing—yang sekarang, di benaknya sendiri pun, mulai disebut Senja—sedang duduk di beranda The Last Drop, mengamati matahari yang turun. Hollis keluar membawa dua gelas wiski dan duduk di sampingnya tanpa diminta.
"Kau harusnya sudah pergi," kata Hollis.
"Aku tahu."
"Kenapa belum?"
Senja tidak menjawab langsung. Ia memandang ke arah rumah besar di utara. "Ceritakan tentang Morrow. Yang sebenarnya."
Hollis menghela napas panjang, lalu mulai bicara. Tentang bagaimana Morrow datang dengan kontrak dan senyuman, membeli tambang dengan harga murah dari pemilik yang ketakutan. Tentang bagaimana ia merekrut para penjahat dari seluruh penjuru Tanah Gersang—pembunuh, pencuri, buronan—dan menjadikannya pasukan pribadi. Tentang bagaimana setiap orang yang melawan ditemukan tewas, atau hilang begitu saja.
"Berapa orangnya?" tanya Senja.
"Calder dan inti komplotan, mungkin dua belas. Tapi ada lebih banyak yang datang dan pergi. Saat dibutuhkan, dia bisa mengumpulkan dua puluh, tiga puluh senjata." Hollis menatap Senja. "Kenapa kau tanya?"
Senja tidak menjawab. Ia hanya menatap revolvernya yang tergantung di pinggang, lalu menatap kota yang perlahan tenggelam dalam gelap.
"Dengar," kata Hollis, suaranya menurun. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jangan. Orang yang lebih baik darimu sudah mencoba. Mereka semua sekarang di bukit. Kau seorang. Dia punya pasukan. Itu bukan keberanian, itu bunuh diri."
Senja menghabiskan wiskinya. Ia berdiri, dan untuk pertama kalinya sejak datang, ada sesuatu yang lebih keras di matanya. "Aku belum memutuskan apa pun," katanya. Tetapi nada suaranya tidak meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
Malam itu, ketika ia berbaring di kamar sewaan, ia tidak bisa tidur. Bukan karena takut. Tetapi karena di kegelapan, ia melihat wajah-wajah lama—orang-orang yang pernah ia coba selamatkan dan gagal. Dan ia bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang sama yang sudah ia hindari selama bertahun-tahun:
Berapa lama lagi ia bisa terus melarikan diri dari siapa dirinya yang sebenarnya?