Pagi berikutnya tiba dengan langit kelabu dan udara yang berat. Senja terbangun bukan oleh ayam, melainkan oleh jeritan.
Ia melompat dari ranjang, menyambar revolvernya, dan turun ke jalan hanya dengan kemeja dan celana. Di tengah jalan utama, sekelompok orang berkumpul. Dan di tengah kerumunan, dua anak buah Morrow sedang menyeret seorang perempuan dari rambutnya—perempuan muda yang kemarin Senja lihat di rumah minum, yang memeluk anaknya erat-erat.
"Bayar utang suamimu, Janda!" teriak salah satu bandit, lelaki bertubuh kurus dengan bekas luka di pipi. "Atau kami ambil yang lain sebagai bayaran!"
Di belakangnya, Eli berdiri membeku. Itu ibunya.
"Lepaskan dia!" jerit Eli, mencoba maju, tetapi penduduk lain menahannya, berbisik agar ia diam, agar ia tidak ikut mati.
Senja melangkah maju, membelah kerumunan. Suaranya tenang, tetapi membawa berat yang membuat semua orang menoleh. "Lepaskan perempuan itu."
Si bandit kurus menoleh, dan senyumnya melebar ketika mengenali wajah orang asing yang sudah jadi bahan gosip. "Oh, ini dia. Pahlawan kita. Calder cerita soal kau." Ia mendorong perempuan itu ke tanah, lalu melangkah ke arah Senja, tangannya melayang di dekat pistol. "Mau jadi jagoan, Orang Tua?"
"Aku memberi peringatan sekali," kata Senja. "Lepaskan dia, naik kuda kalian, dan kembali ke majikan. Hari ini tidak harus berakhir buruk."
"Atau apa?"
Senja tidak menjawab. Ia hanya berdiri, kakinya sedikit terbuka, lengannya rileks di samping tubuh. Dan dalam keheningan itu, segala sesuatu menjadi sangat jelas: debu yang berputar di kaki, detak jantung yang melambat, suara napas si bandit yang menjadi cepat.
Si bandit menarik pistolnya.
Ia tidak pernah selesai mengangkatnya.
Tangan Senja bergerak lebih cepat dari yang bisa dilihat mata penduduk. Satu letusan memecah pagi. Asap mengepul dari laras revolver tua itu, dan si bandit kurus terhuyung mundur, menatap noda merah yang mekar di dadanya dengan ekspresi tak percaya, lalu jatuh ke debu.
Bandit kedua, yang tadinya menyeringai, kini wajahnya pucat. Tangannya bergetar di dekat pistol, tetapi ia tidak berani menariknya. Mata kelabu Senja terkunci padanya, dingin dan tanpa ampun.
"Pilihanmu," kata Senja pelan.
Bandit itu mengangkat kedua tangannya, mundur perlahan, lalu berbalik dan lari ke kudanya. Sebentar kemudian, ia sudah memacu kuda ke arah utara, menuju rumah Morrow, meninggalkan debu dan kawan yang tergeletak.
Keheningan menyelimuti jalan. Penduduk menatap Senja dengan campuran takut dan kagum. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang berani melawan orang Morrow, apalagi menumpahkan darah mereka.
Senja menyarungkan revolvernya. Ia berjalan ke arah perempuan yang masih terduduk di tanah dan mengulurkan tangan. "Anda baik-baik saja?"
Perempuan itu mengangguk, gemetar, lalu menyambut tangannya dan berdiri. "Te-terima kasih," bisiknya. "Tapi Tuan... Tuan baru saja menandatangani surat kematian Tuan sendiri. Dan mungkin surat kematian kami semua."
Eli berlari menubruk ibunya, lalu menatap Senja dengan mata berbinar bercampur takut. "Tuan Senja melawan mereka," bisiknya. "Tuan benar-benar melawan mereka."
Senja menatap mayat di tanah, lalu menatap rumah besar di utara yang sekarang tahu bahwa garis telah dilanggar. Ia tahu apa artinya ini. Tidak ada lagi jalan untuk sekadar lewat. Pintu itu sudah tertutup di belakangnya saat ia menarik pelatuk.
"Bawa anakmu masuk," katanya pada perempuan itu. "Tutup pintu. Apa pun yang terjadi nanti, jangan keluar."
Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke rumah minum, sementara di belakangnya, seluruh kota mulai menyadari bahwa sesuatu telah berubah secara permanen di Redemption.