Si asing baru beberapa langkah dari kantor sheriff ketika ia mendengar suara tangis tertahan. Di gang sempit antara toko kelontong dan rumah pandai besi, seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun berjongkok, menutupi wajahnya. Di dekatnya, sebuah keranjang terbalik, dan telur-telur pecah berserakan di tanah, kuningnya meleleh ke debu.
"Apa yang terjadi?" tanya si asing.
Anak itu mendongak, terkejut, lalu cepat-cepat menghapus air matanya seperti malu. "Bukan urusan Tuan," katanya, mencoba terdengar keras, tetapi suaranya pecah.
Si asing berjongkok di sampingnya, melihat telur-telur yang hancur. "Itu telur dagangan ibumu?"
Anak itu mengangguk pelan. "Orang-orang Calder. Mereka senang menendang keranjangku setiap pagi. Katanya itu hiburan. Sekarang Ibu tidak punya yang bisa dijual hari ini."
Si asing diam sejenak. Lalu ia mengeluarkan beberapa keping perak dari kantongnya dan meletakkannya di telapak tangan anak itu. "Beli telur lagi. Dan kalau mereka menendang lagi, jangan menangis di sini. Air mata cuma membuat mereka senang."
Anak itu menatap koin di tangannya seolah tidak percaya. "Kenapa Tuan menolong saya?"
"Aku tidak menolong," kata si asing, berdiri. "Aku cuma tidak suka pemborosan. Telur itu mahal."
Tapi anak itu—namanya Eli, ia kemudian menyebutkannya—tidak percaya pada penjelasan itu. Ia mengikuti si asing dengan mata berbinar, seolah baru saja melihat sesuatu yang langka di kota yang sudah lama kehilangan keajaiban.
"Tuan bisa menembak?" tanya Eli, berlari-lari kecil di samping si asing yang berjalan menuju kandang kuda.
"Semua orang bisa menembak."
"Tapi Tuan bisa menembak dengan baik. Saya tahu. Cara Tuan jalan, tangan Tuan selalu dekat pistol." Eli menirukan gaya berjalan itu, dengan lucu dan canggung. "Seperti koboi di cerita."
Si asing hampir tersenyum. Hampir. "Cerita selalu lebih indah dari kenyataan, Nak. Di cerita, penembak adalah pahlawan. Di kenyataan, penembak cuma orang yang sudah membunuh terlalu banyak hingga tidak bisa berhenti."
Eli tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia mengangguk seolah mengerti. "Tuan akan tinggal? Kita butuh orang seperti Tuan. Morrow itu jahat. Dia ambil semua. Ayah saya—" Eli berhenti, dan wajahnya menggelap. "Ayah saya melawan. Sekarang dia di bukit belakang gereja."
Langkah si asing melambat. Ia menatap anak itu, dan untuk sesaat, mata kelabunya melembut oleh sesuatu yang menyerupai kepedihan. "Maaf," katanya pelan.
"Tidak apa-apa," kata Eli, walau jelas tidak apa-apa. "Ibu bilang Ayah mati sebagai lelaki sejati. Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut. Begitu kata Ayah dulu."
Kata-kata itu menggantung di udara panas. Si asing memejamkan mata sebentar, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu jauh di dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama ia kubur.
Mereka tiba di kandang. Si asing memeriksa kudanya, yang sudah tampak lebih segar setelah istirahat semalam. Seharusnya, ia tahu, ia naik sekarang juga dan pergi sebelum tengah hari. Pergi sebelum kota ini menariknya lebih dalam.
"Tuan akan pergi, ya?" suara Eli kecil. Kekecewaan tidak bisa disembunyikan dari anak sepuluh tahun.
Si asing meletakkan tangannya di kepala kuda, tetapi tidak segera memasang pelana. Ia menatap jalan utama Redemption—orang-orang yang menunduk, jendela-jendela yang setengah ditutup, anak-anak yang bermain dengan ketakutan di mata. Ia melihat bayangan dari masa lalunya sendiri, sebuah kota lain, bertahun-tahun yang lalu, di mana ia juga datang terlambat.
"Pulanglah ke ibumu, Eli," katanya akhirnya. "Bawa koin itu."
Eli menunduk, lalu berbalik dan berlari pergi. Tetapi di tengah jalan, ia berhenti dan berbalik. "Nama Tuan siapa?"
Si asing menatapnya lama. "Aku tidak punya nama, Nak. Sudah lama aku tinggalkan."
"Kalau begitu saya panggil Tuan... Senja," kata Eli, menunjuk langit barat yang siang itu sudah mulai memerah lebih awal karena badai debu di kejauhan. "Karena Tuan datang waktu senja."
Dan entah mengapa, nama itu menempel. Bahkan di pikiran si asing sendiri.