Ada saat ketika keberanian berhenti menjadi kebajikan dan mulai menjadi pembunuhan diri. Senja mengenali saat itu dengan mata seorang yang telah menyaksikannya terlalu sering.
Redemption sudah hilang. Bukan untuk selamanya — ia bersumpah pada dirinya, bukan untuk selamanya — tapi malam ini, di bawah langit yang membara, kota ini milik api dan Morrow. Bertahan lebih lama hanya akan menambah nama-nama di bukit kuburan.
Ia menemukan Pastor Amos di pelataran gereja, tubuh tua itu membungkuk melindungi dua anak di balik tembok batu. Gereja adalah satu-satunya bangunan batu di Redemption; api menjilatinya tapi tak bisa menelannya.
"Pastor," kata Senja, berlutut di sampingnya, darah dari bahunya menetes ke debu. "Loncengnya. Bunyikan."
Mata tua Amos mencari matanya. "Lonceng itu sudah bisu sejak sebelum kau lahir, Nak. Talinya—"
"Maka tarik dengan tanganmu. Bunyikan. Itu tanda mundur. Semua orang harus dengar bahwa waktunya pergi, ke terowongan belakang, ke bukit. Sekarang."
Pastor Amos menatap menara untuk sesaat yang panjang, seolah menimbang dua belas tahun keheningan. Lalu ia mengangguk, dan dengan tangan yang gemetar tapi teguh, lelaki tua itu memanjat ke menara di tengah hujan abu.
Lonceng pertama itu — ketika akhirnya berdentang — bukanlah suara yang indah. Ia retak, sumbang, berkarat oleh bertahun pengabaian. Tapi ia menembus deru kebakaran seperti pisau menembus kabut.
DENG. DENG. DENG.
Dan di seluruh Redemption yang membara, orang-orang mengangkat kepala. Mereka mengenal suara itu meski belum pernah mendengarnya — suara yang berkata: cukup, hidup, lari.
Penduduk berbalik dari pertahanan mereka dan berlari ke jalur belakang yang telah disiapkan Hollis berhari-hari lalu — terowongan gudang lama yang menembus ke parit kering di belakang gereja, menuju bukit kuburan dan kegelapan di baliknya.
Senja berdiri di mulut terowongan, menembak ke dalam asap, menjadi dinding antara orang-orangnya dan kematian. "Pergi! Jangan menengok! Pergi!"
Martha lewat dengan menggendong seorang balita yang bukan miliknya, mata mereka bertemu sekejap — terima kasih, ketakutan, dan sesuatu yang lain yang tak ada waktu untuk diucapkan.
Lalu Eli.
Anak itu mencengkeram lengan Senja yang sehat. "Aku tidak pergi tanpamu," katanya, dagu kecilnya gemetar tapi terangkat. "Kau bilang koboi tidak meninggalkan kawannya."
"Aku di belakangmu, Nak." Senja mendorongnya lembut tapi tegas ke arah terowongan. "Aku janji. Bawa orang-orang. Itu tugasmu malam ini. Jadilah berani untuk mereka."
Eli menatapnya sekali lagi, lalu menelan ketakutannya dan menjadi sesuatu yang lebih besar dari bocah sepuluh tahun. Ia menarik dua perempuan tua ke dalam kegelapan.
Tembakan terakhir datang dari arah yang salah.
Brennan berdiri di tengah jalan — bukan di balik perlindungan, tapi tegak di tengah jalan — senapan menyalak ke gelombang penunggang yang mengejar orang-orang yang mundur. Ia membeli setiap detik dengan tubuhnya sendiri.
"Brennan!" Senja melihat peluru menghantam mantan sheriff itu, sekali di paha, lalu di samping tubuh. Brennan terhuyung tapi terus menembak. "Untuk... Dan..." gumamnya, jatuh ke lutut.
Senja menerjang keluar dari terowongan, menembak dua penunggang dari pelana, dan menyeret tubuh berat Brennan kembali ke dalam kegelapan saat lonceng masih berdentang di belakang mereka.
DENG. DENG.
Suara sebuah kota yang menolak mati sepenuhnya.