Api tidak peduli pada siapa yang benar.
Ia menjalar dari atap ke atap dengan kelaparan buta, melompati gang sempit, menelan rumah-rumah papan yang sudah kering oleh bertahun kemarau. Bom botol Hollis dan obor para bandit telah menyalakan sesuatu yang kini tak seorang pun bisa kendalikan. Langit di atas Redemption berwarna tembaga yang luruh menjadi merah darah, dan asap menelan bintang-bintang satu per satu.
Senja bergerak melalui neraka itu dengan bahu kiri yang mati rasa.
"Mundur ke The Last Drop!" teriaknya, suaranya parau oleh asap. "Jangan terjebak di gang!"
Ia menarik seorang penduduk muda — anak tukang kayu, baru tujuh belas — dari ambang pintu yang runtuh, sedetik sebelum kuda-kuda balok terbakar menimpa tempat ia tadi berdiri. Anak itu menggumamkan terima kasih dengan mata kosong oleh ketakutan, lalu lari.
Di seberang jalan, Brennan berlutut di balik kereta terbalik, senapan tua menyalak di tangannya yang anehnya mantap. "Untuk Dan!" raungnya tiap kali pelatuk jatuh, dan seorang bandit terlempar dari pelananya. Mantan sheriff itu telah meminum dari botol selama bertahun-tahun; malam ini ia meminum dari sesuatu yang lebih tua — kemarahan yang lama dikuburnya.
Hollis muncul dari pintu saloon dengan dua botol di tangan, botaknya berkilat oleh keringat dan cahaya api. "Tinggal empat lagi!" serunya, melempar satu ke kerumunan penunggang yang menyerbu dari utara. Botol pecah, dan dunia di sana berubah jadi bunga api jingga. Tapi tangan Hollis gemetar; ia bukan penembak, ia hanya orang gemuk yang gugup yang mendapati dirinya membuat senjata dari wiski dan keputusasaan.
Korban berjatuhan. Tidak hanya di pihak Morrow.
Senja melihat seorang petani — ia tak tahu namanya, ia menyesal tak tahu namanya — terjatuh dengan dada bersimbah, jari-jarinya masih mencengkeram senapan berburu yang bahkan tak sempat ditembakkan. Ia melihat seorang perempuan menjerit nama suaminya ke dalam asap yang tak menjawab. Setiap kematian adalah batu yang ditambahkan ke beban yang sudah dipikul Senja terlalu lama.
Lalu ia merasakannya. Tatapan itu. Dari balik tirai asap.
Caleb.
Adiknya bergerak melalui kekacauan seperti bayangan yang punya kehendak, kedua pistol di tangan, memburu satu sasaran. Dirinya.
Senja berputar ke balik dinding sebuah toko yang separuh runtuh. Peluru menghantam kayu di samping kepalanya, menghamburkan serpihan. Ia balas membidik — dan melihat Caleb sepenuhnya, tak terlindung, sejarak sepuluh langkah, dalam cahaya api yang telanjang.
Tembakan yang sempurna.
Jari Senja membeku di pelatuk.
Dan di seberang asap itu, ia melihat hal yang sama terjadi pada adiknya. Caleb membidik dadanya — bersih, terbuka, mati — dan untuk sepersekian detik yang membakar, pistol itu tertahan. Sebuah keraguan setipis pisau cukur, lalu sumpah serapah keluar dari mulut Caleb, marah pada tangannya sendiri yang mengkhianatinya.
Mereka berdua menembak ke arah lain. Mereka berdua membiarkan satu sama lain hidup. Dan mereka berdua membenci kelemahan itu dengan segenap kepahitan dua belas tahun.
"Kenapa kau tidak mati saja!" raung Caleb, suaranya pecah, tertelan deru kebakaran. Lalu seekor kuda lewat di antara mereka, dan ia hilang lagi.
Senja menyandar pada dinding panas itu, napasnya tercabik. Di sekelilingnya, kota yang ia datangi untuk diselamatkan sedang berubah jadi arang. Dan ia mulai paham, dengan kepahitan dingin yang menusuk lebih dalam dari peluru, bahwa malam ini tidak bisa dimenangkan.
Hanya bisa ditahan cukup lama untuk menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.