Fajar tidak datang dengan kemenangan. Ia datang dengan abu.
Mereka berkumpul di sebuah cekungan berbatu di balik bukit kuburan, terlindung dari pandangan oleh punggung tanah dan rumpun mesquite mati. Di kejauhan utara, Redemption masih mengepulkan asap hitam ke langit pucat — bangkai sebuah kota, separuh arang, di bawah cengkeraman Morrow dan Caleb sekarang.
Mereka telah menang ronde ini. Mereka tahu itu, dan tak satu pun mengucapkannya.
Martha berlutut di samping Brennan, jari-jarinya bekerja cepat dan tenang membersihkan dua luka peluru dengan air sedikit yang mereka punya dan kain dari roknya sendiri. "Pelurunya tembus di paha. Yang di samping tertahan tulang rusuk." Suaranya datar oleh kelelahan. "Dia kuat seperti kerbau tua. Dia akan hidup, kalau tidak demam."
Brennan tertawa lemah, gigi merah oleh darah. "Kerbau tua. Dengar itu, Senja. Aku naik pangkat dari pemabuk jadi kerbau."
"Diam dan jangan mati," kata Senja. Tapi ada sesuatu yang hangat dan rapuh di balik kata-kata kasar itu.
Martha lalu beralih ke bahu Senja. Ia merobek mantel yang sudah robek, menatap luka serempetan yang membakar di sana, dan diam sejenak. "Ini bukan dibuat oleh penembak sembarangan," katanya pelan, matanya naik ke matanya. "Tembakan ini diarahkan ke baja pistolmu, lalu meleset jadi ini. Dia mengincar tanganmu, bukan jantungmu."
Senja tidak menjawab. Martha tidak bertanya lebih jauh. Tapi ia tahu — perempuan ini selalu tahu lebih dari yang ia ucapkan.
Mereka menghitung yang hilang.
Sembilan penduduk. Senja menyuruh dirinya menghafal tiap nama yang mereka tahu, dan duka karena beberapa tak mereka ketahui. Tukang kayu tua Wills. Janda Pyke dan adik perempuannya. Tiga lelaki yang baru kemarin masih membicarakan panen yang takkan datang. Rumah-rumah jadi arang. The Last Drop separuh runtuh — Hollis berdiri memandangi asapnya dari kejauhan dengan wajah seorang yang kehilangan satu-satunya hal yang ia bangun seumur hidup.
Dan Eli tidak bicara.
Senja menemukannya duduk sendiri di tepi cekungan, memandang ke arah kota yang terbakar. Di samping anak itu, di tanah, tergeletak sebuah ketapel kayu — milik seorang anak lain, anak penjaga kandang, teman bermain Eli.
"Dia di belakangku," kata Eli akhirnya, suaranya kecil dan pecah. "Lalu ada api, dan dia tidak di belakangku lagi." Air mata jatuh tanpa isak, cara seorang anak menangis ketika ia memaksa dirinya menjadi dewasa terlalu cepat. "Aku yang memimpin mereka. Kau bilang itu tugasku. Dan aku kehilangan dia."
Senja duduk di sampingnya. Untuk waktu yang lama ia tak berkata apa-apa, karena ia tahu tak ada kata yang menambal lubang seperti itu — ia membawa selusin lubang serupa di dalam dadanya sendiri.
"Bukan kau yang menyalakan api itu, Eli," katanya akhirnya. "Orang yang menyalakannya tidur nyenyak malam ini di rumah besarnya di utara. Itu yang harus kau ingat. Bukan apa yang tak bisa kau selamatkan. Tapi siapa yang membuatnya begitu."
Eli mengangkat ketapel itu, menggenggamnya erat. "Aku ingin dia membayar."
Senja menatap kota yang membara, dan beban lama bangkit di dadanya seperti hantu yang ia kira sudah ia kubur. Dulu, dua belas tahun lalu, ia memilih lewat. Memilih tidak peduli, dan membiarkan sebuah kota dibantai habis. Ia telah bersumpah takkan lagi lewat. Dan toh ia tetap kehilangan sembilan orang malam ini.
"Dia akan membayar," kata Senja pelan. "Tapi tidak dengan harga jiwamu. Itu janji kedua yang kuberikan padamu malam ini, Nak."
Di belakang mereka, lonceng gereja yang jauh telah lama diam. Tapi suaranya masih bergema dalam tulang setiap orang yang lari malam itu — bukan tanda kekalahan, Senja memutuskan. Tanda bahwa mereka masih ada untuk berdentang lagi.