Asap menggantung di antara mereka seperti tirai yang enggan turun. Di tengah jalan utama Redemption yang dilahap api, dua bersaudara saling pandang melintasi dua belas tahun yang dikubur.
"Tembak dia, Caleb." Suara Augustus Morrow tetap halus, nyaris lembut, seolah memerintahkan seorang pelayan menuang anggur. "Lalu bakar habis kota terkutuk ini."
Caleb tidak bergerak. Bekas luka di pipi kirinya berkilat oleh cahaya jingga kebakaran. Tangannya melayang ke pinggang, ke salah satu dari dua pistolnya, dengan ketenangan seorang predator yang sudah lupa bagaimana rasanya ragu.
Senja membaca tangan itu. Ia selalu bisa membaca tangan Caleb — ialah yang mengajarinya cara menariknya dulu, di bawah pohon mati di tepi sungai, ketika adiknya masih bocah bermata terlalu jujur untuk dunia ini.
Caleb menarik.
Cepat. Lebih cepat dari yang Senja ingat. Anak itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang mengerikan.
Tapi Senja lebih tua, dan ketuaan punya hutangnya sendiri pada kecepatan. Tangannya turun ke gagang kayu aus berukiran huruf E, dan dunia melambat menjadi sehelai napas.
Ia bisa membidik dada. Garis lurus, bersih, mati. Bertahun-tahun ia melatih tangan ini untuk satu hal itu — menemukan jantung dan menghentikannya. Otot dan tulangnya tahu jalan ke sana tanpa diperintah.
Tapi tepat sebelum pelatuk jatuh, sesuatu di dalam dadanya menolak. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih tua dari ketakutan. Wajah bocah berusia delapan tahun yang pernah tertidur di pundaknya di atas gerbong, yang memanggilnya dengan nama yang kini terkubur bersama dosa.
Moncongnya bergeser. Hanya sejengkal. Hanya ke kiri.
Dua tembakan menggelegar bersamaan, melahap deru api.
Peluru Senja menghantam baja pistol di tangan Caleb, membantingnya lepas dari genggaman, memutarnya berdenting ke debu. Peluru Caleb menyerempet bahu kiri Senja — sebuah garis api yang merobek mantel dan daging, melempar tubuhnya setengah berputar.
Senja terhuyung, tetap berdiri.
Untuk sesaat yang panjang, keduanya hanya saling tatap. Pistol Caleb tergeletak di antara mereka. Tangannya kosong, gemetar samar. Dan di mata adiknya itu, Senja melihat hal yang membuat dadanya lebih sakit daripada peluru: Caleb tahu. Caleb tahu kakaknya bisa membunuhnya, dan tidak. Caleb tahu, dan benci dirinya sendiri karena selama sepersekian detik, ia juga ragu.
"Kau menahan diri." Suara Caleb serak, hampir tak terdengar di atas gemuruh kobaran. Bukan pertanyaan. Sebuah tuduhan.
"Kau juga," kata Senja.
Wajah Caleb mengeras seperti tanah retak. Ia memungut pistolnya dari debu dengan gerakan kaku.
Di kejauhan, Morrow menyaksikan dari atas kudanya dengan kepala sedikit miring, seperti seorang dokter yang menemukan gejala yang menarik. Senyum tipisnya pudar. Ia tidak menyukai keraguan. Keraguan adalah retakan, dan Morrow membangun kerajaannya dengan tidak pernah membiarkan satu retakan pun tak tertambal.
"Caleb." Suaranya tetap halus, tapi ada kawat baja di bawahnya sekarang.
Sebelum apa pun bisa terjadi, malam itu sendiri yang memutuskan. Sebuah ledakan bom botol Hollis meledak di atap saloon di seberang, menghamburkan percikan api dan menjerit-jeritkan kayu yang pecah. Tembakan meledak dari segala arah — penduduk dan bandit, atap dan jalanan. Pertempuran Redemption, yang sempat tertahan napas oleh standoff dua bersaudara, kembali menelan segalanya seperti banjir hitam.
Seekor kuda tanpa penunggang melesat di antara mereka, menyebarkan debu dan ketakutan. Saat debu menipis, Caleb sudah tertelan asap.
Senja menekan luka di bahunya, merasakan darah hangat merembes di antara jari-jarinya, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun ia bersyukur atas asap yang menyembunyikan apa pun yang ada di matanya.
Lonceng gereja, yang sejak dulu bisu, tetap diam di menaranya. Tapi malam itu telah berubah. Musuhnya kini punya wajah. Punya darah yang sama dengan darahnya.
Dan kota di sekelilingnya sedang sekarat dalam api.