Waktu seakan melambat. Tembakan, jeritan, kobaran api—semuanya memudar ke latar belakang ketika mata kelabu Senja terkunci pada lelaki bermantel hitam di samping kereta Morrow.
Wajah itu lebih tua sekarang, lebih keras, dengan bekas luka baru di sepanjang pipi kiri. Tetapi Senja akan mengenalinya di mana pun, bahkan setelah bertahun-tahun. Wajah itu menghantui mimpinya. Wajah itu adalah alasan ia berhenti menjual pistolnya. Wajah itu adalah bagian dari masa lalu berdarah yang ia coba kubur dalam-dalam.
"Tidak mungkin," bisik Senja.
Morrow, melihat reaksi itu dari kejauhan, tersenyum lebih lebar. Ia menyentuh bahu lelaki bermantel itu, mengatakan sesuatu, dan lelaki itu mulai berjalan maju—tenang, santai, melintasi jalan utama yang dipenuhi mayat dan api seolah berjalan di taman.
Para bandit yang tersisa menarik diri, membentuk lingkaran, seolah tahu bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya bukan bagian dari pertempuran mereka. Bahkan tembakan mulai mereda. Penduduk yang masih hidup mengintip dari persembunyian, merasakan bahwa sesuatu telah berubah—bahwa di tengah kekacauan ini, dua hantu dari masa lalu yang sama sedang saling berhadapan.
Lelaki bermantel berhenti sekitar dua puluh langkah dari Senja. Ia mengamati wajah Senja lama, lalu sudut bibirnya naik.
"Halo, Saudara," katanya. Suaranya halus, hampir lembut. "Sudah lama sekali."
Kata itu—Saudara—menghantam Senja lebih keras dari peluru mana pun. Tangan Eli, yang seharusnya sudah bersembunyi tetapi diam-diam mengintip dari pintu gereja, mencengkeram kusen pintu erat-erat saat melihat ekspresi di wajah pelindungnya.
"Kukira kau sudah mati," kata Senja, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku menguburmu. Dengan tanganku sendiri. Di Sungai Coyote, dua belas tahun lalu."
"Kau mengubur seseorang," kata lelaki itu, masih tersenyum. "Tapi bukan aku. Aku sulit dibunuh. Kau sendiri yang mengajariku itu, ingat?" Ia melebarkan kedua tangannya, memamerkan dua pistol di pinggangnya. "Semua yang kutahu, aku belajar darimu. Setiap tembakan. Setiap pembunuhan. Aku murid terbaikmu, Kakak. Kau bilang sendiri."
Senja merasakan dunia berputar. Bertahun-tahun ia melarikan diri dari masa lalunya, dan sekarang masa lalu itu berdiri di hadapannya, hidup, dengan senyum yang sama yang dulu ia kenal sebagai senyum adiknya—satu-satunya keluarga yang pernah ia miliki, yang ia kira telah ia hancurkan.
"Caleb," bisik Senja.
"Jadi kau masih ingat namaku." Senyum Caleb menghilang, dan untuk sesaat, sesuatu yang gelap dan terluka muncul di matanya. "Sayang sekali kau lupa membawaku pergi malam itu. Kau meninggalkanku berdarah di lumpur, Kakak. Kau pilih hati nuranimu yang baru ketemu daripada darahmu sendiri." Ia menarik napas, dan ketenangan dingin itu kembali. "Tuan Morrow menemukanku. Dia memberiku tujuan. Dan sekarang, lihat—takdir membawamu langsung ke tanganku."
Morrow, dari kejauhan, tertawa kecil dan bertepuk tangan pelan, seolah menyaksikan akhir sebuah drama yang ia rancang sendiri.
Senja menatap adiknya, lalu menatap revolver tua di pinggangnya—dengan ukiran huruf "E" yang hampir hilang di gagangnya. E untuk sebuah nama. Sebuah nama yang ia tinggalkan bersama segala dosanya.
"Aku tidak mau melawanmu, Caleb," kata Senja, suaranya pecah untuk pertama kalinya.
"Itu sayang sekali," kata Caleb, tangannya melayang di atas kedua pistolnya, senyum dingin kembali ke bibirnya. "Karena aku sudah menunggu dua belas tahun untuk ini."
Di belakang Senja, kota terbakar. Penduduk yang ia janjikan akan ia lindungi menatap dengan napas tertahan. Eli mencengkeram pintu gereja, ingin berteriak tetapi tak mampu bersuara. Brennan, terluka dan bersandar di dinding, mengangkat senapannya dengan tangan gemetar tetapi tahu ini bukan pertarungannya.
Dan di tengah jalan utama Redemption, di bawah langit senja yang berdarah, kakak dan adik saling berhadapan—dua penembak terbaik yang pernah dilahirkan Tanah Gersang—dengan dua belas tahun dendam, dosa, dan cinta yang hancur di antara mereka.
Tangan Senja melayang ke gagang revolver tuanya.
Angin berhenti. Debu menggantung di udara. Dunia menahan napas.
Dan dari kejauhan, suara Morrow yang halus memecah keheningan:
"Tembak dia, Caleb. Dan setelah ini selesai, bakar habis kota terkutuk ini."