Jumat jam empat kurang sepuluh — Anisa kunci laci kuitansi, lap papan dari dalam, lihat kaca jendela. Lelaki di seberang jalan, kemeja biasa, bukan jas, lebih kurus dari Damar gala, berdiri tidak di ambang ruko, di trotoar seberang, tidak menyeberang. Anisa kenal bahu itu. Dada naik, lalu ia taruh kain lap, napas, tidak buka pintu lebar. Ia selesai kunci dari dalam, keluar, kunci dua putaran, berdiri di sisi pintunya, tidak menyeberang juga. Jalan di antara mereka. Knalpot. Bukan teras. Bukan kafe. Bukan 4C. Anak les privat sudah pulang. Warung pecel masih buka. Dunia biasa menampung yang tidak biasa tanpa berubah jadi gala. Anisa pegang kunci sampai logam hangat. Hangat tangan, bukan tiket.
Damar tidak memanggil. Anisa tidak memanggil. Lima detik. Lalu Damar angkat tangan kecil, bukan lambaian pesta, izin. Anisa angguk sekali: boleh bicara dari jarak ini, bukan masuk. Jantung Room 4C, lalu rata. Ia tidak pakai suara Laras. Tidak manis Nyonya. Nada biasa, agak keras karena jalan. Rambut sendiri kena angin. Tidak bob. Ia sadar itu penting: ia tidak menyamar untuk bicara. Damar lihat Anisa, bukan Laras, bukan istri di acara. Perempuan kunci ruko. Cukup.
Ia tidak menyeberang. Damar tidak menyeberang. Suara harus agak keras karena angkot. Debu jalan, panas sore, jam empat lebih. Anisa sadar klien sudah pulang, ruko terkunci, dunia tidak menonton. Tidak ada kamera gala. Hanya aspal dan lima menit. Ia terima syarat itu. Tidak lebih.
'Aku tidak minta masuk,' kata Damar. 'Aku tidak minta kembali. Protokol: aku tahu. Aku hanya... lewat. Lalu kaki berhenti. Lima menit. Kalau kamu putar kunci lagi dan masuk, aku pergi.' Suaranya tidak CEO. Lebih pelan, lalu ia naikkan karena knalpot. Anisa tidak memintanya mengulang. Ia dengar cukup. Kunci di telapak. Logam. Batas.
Anisa pegang kunci di telapak. Logam. 'Lima menit. Di sini. Tidak di dalam. Tidak teras. Tidak kafe.' Damar mengangguk, tidak tawar lokasi. Tidak tawar teh. Tidak tawar duduk. Berdiri. Jarak. Anisa syukur pada aspal yang tidak jadi ruang tamu. Ruang tamu ruko untuk klien. Aspal untuk batas. Dua fungsi, tidak dicampur.
Damar angguk. Mata orang yang sudah selesai dengan kebanggaan, bukan mata CEO. 'Aku jatuh cinta pada orang yang bekerja, dua kali, dan dua-duanya aku hancurkan. Aku tidak menagih cinta. Aku tidak menunggu pintu malam ini. Aku mau kamu lihat: aku bisa berdiri di kejauhan tanpa menyeberang.' Anisa tidak menjawab cinta. Cinta bukan agenda aspal. Agenda: jarak, lima menit, pergi. Ia simpan kalimat itu tanpa tiket. Dengar bukan terima undangan.
Anisa dengar. Jari tidak gemetar seperti dulu. Maaf diri di dapur tidak tumpah jadi tiket. 'Saya sudah lihat. Terima kasih tidak menyeberang. Perceraian kertas sudah. Hidup saya di sisi ini. Nama saya di papan. Jangan lewat tiap Jumat. Satu kali ini: tercatat. Bukan janji.' Angkot lewat, suara terpotong, lalu kembali. Damar tidak maju selangkah. Anisa tidak maju selangkah. Jarak aspal adalah protokol yang kelihatan. Mira tidak perlu di telepon dulu. Kaki sudah jaga.
Damar menelan. 'Tidak tiap Jumat. Surat — kalau kamu mau berhenti, berhentilah. Kalau tidak, aku kirim tanpa menunggu balasan, seperti sekarang.'
'Surat boleh antri,' kata Anisa. 'Temu tidak. Suatu hari — kalau ada — bukan hari ini, bukan dari seberang ruko. Damar yang membuktikan sisanya dengan tahun, bukan dengan kaki yang berhenti. Sekarang: pergi. Saya pulang. Anda pulang. Berbeda arah.' Warung pecel berbunyi piring. Damar mengangguk pada kalimat tahun, tidak menawar lima menit jadi lima belas. Lima menit habis. Aspal cukup. Tidak ada teh. Tidak ada teras. Tidak ada dua cangkir. Itu beda dengan ziarah yang ia tolak. Ini jarak. Jarak ia jaga.
Damar berdiri lima detik, menghafal wajah tanpa hak, lalu mengangguk, belok, tidak menoleh. Anisa tidak menoleh. Ia masuk angkot arah Tebet. Damar bukan angkot itu. Protokol hidup di aspal, bukan hanya di email Mira. Di angkot ia pegang tiang, tidak buka ponsel, tidak cari punggung di kaca. Leher tidak menoleh. Otot halte kemarin dan otot Jumat ini sama: tidak jadi ziarah. Beda: kali ini orangnya ada, dan ia tetap tidak menyeberang. Itu bukti dua laci, versi jalan.
Ratih angkat di nada pertama. Anisa: 'Dia seberang. Tidak masuk. Lima menit. Saya pulang. Tidak pecah.' Ratih: 'Aku ke Tebet?' Anisa: 'Tidak perlu. Pie tidak. Saya cuci piring. Besok cerita. Bukan malam ini jadi gala.' Ratih: 'Utuh. Maaf, kata itu. Kamu pegang kunci.' Tutup. Anisa di angkot masih, tiang, knalpot. Telepon singkat, dinding suara, lalu diam. Tidak ada grup. Tidak ada cerita ke ibu malam itu. Ibu tanya makan, bukan tanya seberang. Makan, ya. Seberang, tidak. Dua laci sampai ke ibu. Sah.
Tebet, dapur, teh tawar. Anisa cuci tangan, duduk, tidak buka draf maaf diri, tidak buka PDF. Kunjungan singkat tanpa menuntut sudah terjadi. Ia jaga batas: tidak masuk, tidak teras, tidak tiket. Tangan masih pegang bayangan kunci. Ia taruh kunci ruko di laci, jauh dari laptop. Dua dunia. Malam itu tidur lima jam empat puluh, mimpi jalan, bukan koridor. Bangun, teh, tidak ke Menteng. Sabtu ruko tutup. Ia jemur. Tetangga sapa. Anisa angkat tangan. Damar tidak di balkon. Damar di kejauhan, sudah pergi, tidak menoleh. Anisa tidak menoleh. Nama di papan kemarin masih nama itu. Jam Senin masih jam itu. Batas yang diucapkan di aspal tidak ia tarik malam ini. Tidak tarik adalah penutupan. Bukan dendam. Jam. Ratih datang Minggu lima belas menit, tidak pie, hanya duduk. Anisa cerita singkat, tidak dramatis. Ratih: 'Kamu tidak undang masuk. Itu seluruh cerita.' Anisa: 'Seluruh.' Ratih pergi. Anisa jemur sisa. Hidup. Sprei, angin, uban. Tidak ke seberang imajiner. Seberang Jumat sudah cukup. Minggu seberang kosong. Kosong benar. Ia cuci gelas Ratih, keringkan, taruh. Rapikan. Jam. Nama. Batas. Cukup.