Senin pertama — salinan yang Mira tandai *terakhir yang diantri, pengirim sebut: kalau Ibu mau ini yang terakhir sebelum jeda panjang, terserah Ibu baca.* Anisa baca di dapur, kopi, lampu, rambut sendiri, tidak bob. Satu halaman. Damar tidak minta kembali. Tidak ada alamat. Tidak ada seberang ruko. Ia tulis: ia akan jeda menulis, biar tahun yang membuktikan, bukan amplop. Ia tulis maaf tanpa tiket. Ia tulis nama Anisa Rahmawati. Ia tutup file. Nol balas. Ia print satu lembar, masuk laci envelope stamped, rapi, bukan altar, arsip. Lalu laptop ditutup. Surat terakhir yang ia pilih simpan — bukan karena tidak akan ada yang lain suatu saat, karena malam ini antrian baca cukup. Disimpan. Selesai. Kerja besok. Kertas printer masih hangat. Ia tunggu dingin, baru masukkan. Arsip yang tidak dibaca tiap malam. Satu kali. Aturan lama, objek terakhir. Cangkir. Keran. Titik.
Ia buka laci draf maaf diri, baca sekali, tidak keras — sudah pernah. Cerai kertas sudah lama. Cerai hati: malam ini ia letakkan hukuman cap buta di samping surat, bukan di dada sebagai seragam. Hati tidak kosong. Hati tidak lagi membawa Damar sebagai dendam atau sebagai tiket. Maaf untuk diri, bukan untuk mengundangnya naik angkot yang sama. Ia cuci cangkir. Gerakan itu. Sah. Dada rata, bukan euforia. Hukuman yang dilepas tidak meledak; hukuman yang dilepas diam, seperti printer yang hidup lagi, seperti atap yang tidak tetes. Masalah yang tidak bisa dibayar tunai, dibayar dengan tidak menghukum lagi. Cukup.
Ratih SMS: 'Senin pertama. Kamu ada?' Anisa: 'Ada. Surat disimpan. Tidak balas. Tidak temu. Saya kerja.' Ratih: 'Nama kamu.' Anisa: 'Anisa Rahmawati.' Ratih kirim stiker anggukan, diam. Diam yang benar. Anisa taruh ponsel, tidak screenshot surat, tidak kirim ke Ratih isi. Isi arsip. Nama di SMS cukup. Dua laci sampai ke sahabat: tahu ada surat, tidak perlu kutipan. Ia masak, makan, cuci. Lock. Tidur hampir enam. Kerja Selasa. Nama di kuitansi sama dengan nama di SMS. Lingkaran jujur.
Selasa ruko — Anisa buka kunci, AC, lampu, papan berdebu, lap. Klien jam sepuluh, calon istri, draf, sembilan puluh menit, fee, kuitansi stempel. Nama keluar di kertas. Suara Anisa. Jam empat kurang, kunci, tidak menoleh ke seberang. Seberang kosong. Ia tidak mencari bahu kemarin. Kemarin tercatat. Hari ini kerja. Angkot. Tebet. Masak. Cuci. Lock sembilan. Calon istri tanya klausul kerja, Anisa tandai pelan, tidak cerita aspal Jumat. Metode tetap daftar. Dinding klien. Setelah kunci ia angkut galon kosong ke warung, isi, pegal, pulang arah angkot. Nama di papan di belakangnya, tidak perlu ia jaga dengan menoleh. Papan jaga diri. Ia jaga jam.
Malam Selasa — Anisa duduk di dapur, buku catatan:
*Maaf diri: ada. Cerai kertas: ada. Cerai hati: hukuman dilepas, bukan rujuk. Surat terakhir antri: dibaca, disimpan, nol. Temu aspal: sekali, batas diucapkan. Pintu suatu hari: tidak dibuka malam ini. Cukup kemungkinan jauh. Kerja: nama sendiri.*
Ia baca, tutup, tidak tambah pidato. Halaman lantai. Atap besok: tinta, galon, klien. Ia tidak pegang gagang pintu suatu hari. Gagang itu metafora yang tidak ia cari di Menteng, tidak di seberang, tidak di laci. Gagang tetap jauh. Malam ini keran, lampu, rambut sendiri. Cukup.
Ia tutup buku. Tidak ke Menteng. Tidak turunkan wig. Tidak kirim email. Pintu 'suatu hari' tetap pintu, tetap jauh, tetap tidak dipegang gagangnya malam ini. Kalau tahun-tahun mengubah orang di kejauhan, dunia luas. Malam ini dunia Anisa: ruko, papan, kuitansi, uban, ibu yang tanya makan, Ratih yang diam benar, jam empat. Itu yang diselamatkan. Bukan selubung. Bukan dendam. Bukan tiket. Diri. Ia cuci muka, kaca, uban, tidur. Enam jam. Lantai. Bukan panggung. Bukan teras. Surat di laci. Nama di tidur. Besok angka.
Rabu Mira: *Jeda surat dicatat. Protokol temu tetap. Tidak ada langkah. Ibu bebas dari docket selamanya kecuali Ibu yang buka.* Anisa: *Tidak buka. Terima kasih dinding.* Archive. Tutup. Ia print email Mira, masuk envelope stamped, samping surat terakhir, bukan campur map klien. Bukti dinding, bukan bukti cinta. Laci perkara yang sudah damai. Ia tutup laci. Kerja ruko sore itu sepi, sapu, jam empat. Tidak menoleh. Seberang kosong. Kosong yang benar.
Kamis pecel, Ratih. Tidak ada pidato penutup. Ada sambal. Anisa: 'Saya tidak buka pintu itu malam-malam. Kerja.' Ratih: 'Kerja. Aku suka akhir yang bukan acara.' Mereka makan sampai piring bersih. Pulang berbeda arah, sama kota, tidak sama rumah. Cukup. Ratih peluk singkat di trotoar, bukan drama, lalu pergi. Anisa angkot. Tidak pecah. Piring, peluk, jam. Penutupan sahabat tanpa gala. Sah.
Jumat Anisa tutup ruko, lap papan, berdiri seberang sekali — seberang kosong — lalu pulang. Malam itu ia tidur enam jam. Tidak mimpi gala. Mimpi angka, jam, knalpot. Bangun Sabtu, pasar, tahu, sayur. Minggu jemur. Tetangga: 'Cuaca bagus, Bu.' 'Bagus.' Dua kata. Dunia tidak minta selubung. Tahu tidak jatuh. Kantong kuat. Ia tertawa pendek di pasar, pulang, masak, cuci. Hidup yang diselamatkan kelihatan seperti belanja. Itu yang benar. Ibu telepon: 'Makan?' 'Makan. Kerja Senin. Tidak rujuk.' Ibu senang. Tutup. Anisa duduk, tidak pecah. Makan adalah jawaban yang cukup sampai mati, kalau perlu. Malam ini cukup.
Malam minggu lampu redup, kopi setengah, laci surat tertutup, kotak wig di lemari, kunci ruko di laci lain. Anisa Rahmawati tidak membuka pintu suatu hari. Ia buka jendela, angin Tebet, rambut sendiri. Besok Senin administrasi, tinta, galon, nama di papan. Itu cukup. Itu tamat yang jujur: bukan karena cerita habis dicinta, karena perempuan ini sudah kembali kerja menjadi dirinya — satu-satunya yang perlu diselamatkan — dan pintu jauh biar jauh. Tidak malam ini. Kopi habis. Cangkir. Keran. Lampu padam. Jendela masih terbuka sedikit. Angin. Uban. Tidur. Kerja. Nama.
TAMAT