Sabtu sore Anisa hampir ke Menteng. Bukan ke teras rumah lama — rumah itu bukan miliknya. Ke kafe yang dulu Damar coret di surat, dari luar, dari seberang, seperti orang yang menguji otot. Ia sudah di halte, angkot lewat, tidak naik. Duduk di bangku halte lima menit, taruh tas di pangkuan, napas Room 4C. Kaki ingin bukti. Dada sudah maaf diri. Campur aduk itu berbahaya: maaf diri disamarkan jadi ziarah ke peta lama. Orang di halte antri pulang kerja, tas, keringat. Anisa tas modul, bukan tas ziarah. Ia lihat nomor angkot Menteng, lalu biarkan lewat. Nomor lain ke Tebet. Ia belum naik. Telepon Ratih dulu, dinding suara, baru kaki.
Ratih angkat telepon di nada kedua. 'Aku di halte. Tidak jadi naik. Jangan datang. Saya pulang.' Tas di pangkuan, orang antri, pengumuman tidak ada. Hanya angkot dan keputusan. Anisa dengar Ratih napas, lalu perintah pulang yang bukan perintah ibu, perintah sahabat. Ia terima. Kaki sudah hampir. Suara menahan kaki. Dinding.
'Bagus,' kata Ratih. 'Pulang. Jangan uji kafe. Kafe itu bukan netral. Kamu sudah tulis.' Anisa: 'Sudah. Saya bodoh tadi — kaki.' Ratih: 'Kaki bukan bodoh. Kaki uji. Kamu telepon, itu dinding. Pulang.' Tutup. Angkot Tebet datang. Anisa naik. Duduk. Tas di pangkuan. Tidak gemetar lagi setelah suara Ratih. Dinding sahabat sampai ke halte. Sah.
Anisa pulang angkot arah Tebet, bukan Menteng. Di perjalanan ia gemetar kecil, lalu berhenti. Otot kaki yang tidak jadi pergi adalah penutupan juga: tidak semua antrian harus diisi dengan datang. Beberapa diisi dengan tidak jadi. Tebet, dapur, teh tawar. Draf di laci tidak ia baca ulang. Sudah keras. Mengulang jadi panggung. Ia cuci gelas, tidur. Gemetar habis di keran. Air, sabun, selesai. Ia tidak tulis di media. Tidak tulis ke Damar. Buku catatan besok. Malam ini keran.
Minggu Ratih mampir pie, tidak tanya Menteng. Mereka duduk di lantai, bukan di teras siapa pun. 'Kamu tidak pecah,' kata Ratih. 'Kamu hampir, lalu pilih. Itu utuh.' Anisa: 'Utuh. Lelucon itu pensiun, tapi tadi benar.' Mereka ketawa pendek. Pie. Remah. Hidup. Ratih tidak tinggal malam. Anisa kunci, cuci piring pie, tidur hampir enam jam. Mimpi halte, angkot lewat, ia tidak naik. Bangun, heran karena mimpi patuh. Patuh di mimpi adalah hadiah. Ia masak air. Tidak ke Menteng. Jemur.
Senin administrasi ruko. Mira: *Envelope delapan antri. Tidak ada temu. Counsel diam.* Anisa: *Diam bagus.* Ia lap papan, catat sewa. Kaki kemarin tidak jadi pergi; kaki hari ini ke Rawamangun, sah, kerja. Bank tidak perlu. Galon masih. Ia print modul, huruf rapi. Nama. Tidak ziarah. Kerja adalah arah yang benar untuk kaki. Ia catat di buku: *halte: tidak naik.* Satu baris, sama jenis dengan protokol Mira. Dinding kaki. Papan debu ia lap dua kali. Debu Senin. Bukan debu ziarah. Ia kerja sampai jam empat meski sepi. Sepi dihuni. Kunci. Tidak menoleh. Angkot. Tebet. Sah. Jam empat. Lantai. Cukup.
Selasa klien, draf, jam empat. Di kunci pintu, Anisa lihat seberang jalan sebentar — kebiasaan baru yang harus ia potong, sisa halte. Tidak ada siapa-siapa. Angkot. Ia potong kebiasaan: kunci, jalan, tidak menoleh. Menoleh adalah uji kafe versi ruko. Tidak. Klien tadi ibu muda, hibah, rujuk notaris, fee. Anisa stempel, cuci gelas, kunci. Trotoar, tidak menoleh. Otot leher ikut aturan. Leher yang tidak menoleh adalah leher yang tinggal di nama sendiri.
Rabu ia tulis di buku:
*Kaki tidak jadi ke Menteng. Maaf diri bukan ziarah. Suatu hari bukan halte. Kerja: tetap. Nol temu: tetap.*
Ia baca baris itu sekali, tutup buku, sapu. Tidak ulang. Modul hibah, print, map. Klien tidak ada. Sepi dihuni. Nasi bungkus. Cuci tangan. Jam empat kunci, tidak menoleh. Pulang. Buku di tas, bukan di hati sebagai mantra. Mantra jadi panggung. Baris jadi arsip. Arsip boleh. Panggung tidak.
Kamis hujan, tidak tetes. Anisa beli galon, angkut, pegal, milik sendiri. Malam ibu telepon: 'Makan?' 'Makan. Tidak ke mana-mana yang lama, Bu.' Ibu tidak ngerti semua, bilang 'Ibu senang.' Cukup. Setelah tutup Anisa masak lebih banyak, lapar, bukan rujuk. Nasi, sayur, tahu. Piring satu. Cuci. Galon di pojok ruko besok ia isi lagi. Pegal punggung jujur. Nyonya tidak angkut galon. Direktur angkut. Arah kaki: warung galon, bukan Menteng. Sah. Hujan selesai. Jalan basah. Ia tidak ke halte Menteng. Ia ke kasur. Enam jam. Lantai.
Jumat klien satu, lalu sepi. Anisa tulis modul, print, stempel tes. Nama keluar. Ia napas. Penutupan emosional bukan menghapus firma. Firma adalah tempat antrian dada tidak boleh tumpah. Dua laci. Ia kunci jam empat, lap, tidak menoleh. Pulang. Masak. Cuci. Lock sembilan. Sepi Jumat ia huni dengan huruf, bukan dengan halte. Huruf advisory di papan, huruf modul di kertas. Kaki di bawah meja, lalu di angkot Tebet. Bukan kaki uji. Kaki pulang. Di kereta ia tidak buka peta Menteng. Peta di kepala ia tutup. Rawamangun–Tebet. Dua titik. Cukup.
Sabtu pasar. Minggu jemur. Di balkon Anisa sentuh uban, tidak cabut. Kotak wig tidak diturunkan. Alat tetap di lemari. Kaki tetap di Tebet. Surat kedelapan belum Senin pertama. Ia tidak mengintip. Aturan. Penutupan yang rapi adalah yang masih taat jam, masih taat laci, masih taat tidak jadi naik angkot ke peta lama. Malam itu ia tidur enam jam, mimpi halte, bangun, air, tidur lagi. Pagi Senin: kerja. Bukan kafe. Bukan teras. Bukan panggung kedua. Nama. Jam. Kaki ke Rawamangun. Cukup. Di angkot Senin ia pegang tas modul, lihat nomor, Tebet ke Rawamangun, bukan Menteng. Kaki patuh. Ia turun, kunci, lap, angka. Halte kemarin tidak menang. Ruko hari ini menang dalam arti biasa: buka, kerja, jam empat. Itu kemenangan yang ia terima.