Ratih usul makan malam di warung, bukan restoran Menteng, bukan hotel. 'Penutupan kamu jangan sampai jadi acara. Aku jaga.' Anisa setuju. Warung dekat Tebet, nasi, sambal, dua orang. Tidak ada foto. Tidak ada undangan. Bukan gala. Bukan enam kursi. Sahabat dan piring. Anisa pakai blus pasar, bukan blus sidang. Blus sidang di kotak. Rambut sendiri, uban. Tukang warung tidak kenal Mahesa. Itu hadiah lokasi, sama jenis dengan Rawamangun.
'Aku takut,' kata Anisa, pelan, setelah piring setengah. 'Kalau maaf diri saya jadi tiket dia. Orang bilang: sudah maaf, ya sudah ketemu.' Sambal di bibir, ia usap. Warung ramai, TV berita olahraga, bukan bisnis. Aman. Ratih tidak turunkan suara berlebihan. Ini bukan konspirasi. Ini makan.
Ratih telan. 'Orang itu tidak pegang kunci ruko. Kamu pegang. Maaf diri bukan protokol temu. Protokol temu tetap nol sampai kamu ubah tertulis ke Mira. Dua laci. Jangan campur.'
Anisa angguk. 'Dua laci. Saya ulang.' Ratih isi teh Anisa, teh tawar. 'Ulang sampai bosan. Bosan dinding itu bagus.' Anisa minum. TV olahraga. Piring. Dua laci diucapkan di warung, bukan di sidang. Sah, kecil, bisa dipegang. Mereka pesan pisang goreng. Minyak. Tisu. Bukan parfum.
Mereka tidak toast. Mereka bagi pisang goreng. Minyak, tisu, angkot pulang masing-masing. Penutupan emosional yang berbau goreng, bukan parfum. Anisa mandi, draf masih di laci, tidak keras malam itu. Tidur. Warung tutup lebih dulu dari mereka selesai bicara; pemilik sapa, Anisa angkat tangan. Dunia tidak tahu ini malam penutupan. Dunia tahu dua perempuan bayar piring. Itu yang ia mau: sah tanpa penonton. Di kamar ia gantung blus pasar, padam lampu. Bukan gala. Goreng, tisu, tidur.
Senin pertama — envelope tujuh. Anisa baca di dapur, kopi. Damar pendek. Tidak undangan. Tidak Laras. Kerja, cuaca, satu kalimat: 'Saya tidak menunggu pintu.' Anisa tutup. Nol. Draf maaf diri dan PDF suami tidak bertemu di meja yang sama. Ia baca PDF dulu, tutup laptop, cuci cangkir, baru buka laci draf, baca sekali, tutup. Urutan. Dinding. Kopi pahit habis. Ia tidak balas 'saya juga tidak menunggu'. Kalimat itu jembatan. Cangkir di rak. Dua laci tertutup. Tidur lima jam lima puluh, mimpi angka, bukan teras.
Selasa ruko, klien dua sesi, jam empat. Lelah sah. Ia tidak mengisi lelah dengan balasan. Ia isi dengan nasi bungkus. Ratih SMS: 'Makan malam kemarin cukup? Aku tidak usul yang lebih besar.' Anisa: 'Cukup. Jangan lebih besar. Bukan panggung kedua.' Ratih: 'Siap. Tidak ada gala kecil.' Sesi pertama rekening, sesi kedua prenup calon. Dua daftar, dua kuitansi. Anisa cuci gelas dua kali. Lelah punggung, bukan lelah dendam. Nasi bungkus sambal di tepi modul, ia lap. Rapikan. Jam empat kunci. Tidak menoleh.
Rabu Mira telepon. 'Counsel Damar tanya administratif: apakah protokol temu masih. Saya bilang masih, kecuali Ibu ubah. Ibu ubah?' Anisa berdiri di ruko, AC, papan. 'Tidak ubah. Tetap nol. Terima kasih tanya, bukan dorong.' Mira: 'Saya tidak dorong. Folder perkara tutup. Ini hanya jaga dinding.' Tutup. Anisa sapu. Dinding diulang sampai bosan. Bosan adalah tujuan. Debu di pengki, buang. Papan dari dalam bersih. Ia duduk, taruh sapu. Protokol yang diulang tidak dramatis. Protokol yang diulang hidup. Ia catat di buku ruko: *Mira tanya, saya tidak ubah.* Satu baris. Sah.
Kamis ia tulis draf kedua, lebih pendek:
*Anisa yang cap buta: kamu tidak bodoh seumur hidup. Kamu percaya. Percaya bukan kejahatan. Tidak baca adalah luka, sudah dibayar di sidang, di nama, di jam. Saya tidak menghukum kamu lagi di tiap klien. Cukup.*
Pena di dapur, lampu redup, hujan jauh. Ia coret satu kata, ganti, selesai. Tidak sempurna. Cukup rapi. Standar baru. Ia lipat, siapkan keras besok atau malam itu — malam itu. Dapur kosong. Sah.
Ia baca keras di dapur, sekali, suara sendiri, bukan Laras, bukan Nyonya. Dapur menerima. Tidak pecah. Tidak euforia. Ada panas dada, lalu rata, seperti PDF pertama dulu, beda objek: diri, bukan Damar. Ia tidak kirim ke siapa. Ia masukkan ke laci, ganti draf satu. Satu kertas. Sah. Setelah keras ia cuci muka, kaca, uban, napas. Tidak makeup. Tidak panggung. Kalimat sudah di udara dapur, lalu hilang seperti uap. Tinggal kertas. Tinggal perempuan. Cukup.
Jumat Ratih pecel. 'Sudah keras?' Anisa: 'Sudah. Dapur. Sekali.' Ratih: 'Cukup. Jangan tur keliling. Jangan posting. Jangan beri dia salinan.' Anisa: 'Tidak. Ini bukan untuknya.' Mereka makan. Ratih bayar piringnya. Anisa piringnya. Bukan panggung kedua. Piring. Ratih tidak minta dengar kalimatnya. Anisa tidak tawarkan. Sambal, nasi, selesai. Di angkot Anisa tidak mengulang keras di kepala. Sudah. Kerja besok. Nama tidak berubah.
Malam Jumat sticky note kulkas, ganti yang usang, sisakan empat:
*Jam Selasa–Jumat.*
*Surat: baca, nol balas, nol temu.*
*Nama: Anisa Rahmawati.*
*Maaf diri: sudah diucapkan dapur. Bukan tiket ketemu.*
Ia lihat empat kertas, tidak foto, tidak kirim. Kulkas jaga. Ia masak tahu, makan, cuci. Ponsel lock sembilan. Tidak buka PDF. Tidak ulang keras. Dapur sudah dengar. Ruko besok Sabtu tutup. Tubuh istirahat. Maaf diri tidak butuh lembur. Lembur adalah sidang. Ini bukan sidang. Ini lantai.
Sabtu taman. Minggu jemur. Tubuh hampir percaya. Anisa tidak mencari Damar di jalan. Penutupan emosional minggu ini: kalimat keras, dinding Mira diulang, makan malam bukan acara. Yang belum: suatu hari, surat terakhir, kaki orang lain di kejauhan. Itu antri. Tidak diserobot. Ia setrika blus, gantung, tidur enam jam. Besok kerja. Nama di papan tidak berubah karena maaf diri. Itu bukti dua laci berhasil. Sprei, uban, teh tawar. Tetangga sapa. Anisa angkat tangan. Dunia tidak minta pidato maaf. Dunia minta cuaca. Ia kasih dua kata. Cukup. Blus gantung rapi cukup, bukan sempurna. Sempurna ballroom. Ia padam lampu. Bukan panggung kedua. Malam biasa setelah kalimat keras. Sah.