Senin administrasi — Anisa buka ruko seperti biasa, tinta, galon, sewa. Papan lap. Angka jujur. Setelah malam tanpa panggung, pagi tidak berubah jadi upacara. Itu yang ia mau: penutupan emosional bukan ballroom kedua, bukan pita, bukan tamu. Penutupan adalah merapikan antrian di dada yang sudah ia tulis di buku: maaf diri, hati, suatu hari. Antri. Tidak diserobot.
Ratih datang jam sepuluh tanpa janji, pie singkong, duduk di kursi tamu. 'Aku tidak bawa klien. Aku bawa pertanyaan. Kamu mau nutup apa bulan ini — selain jam empat?'
Anisa taruh pena. 'Maaf untuk diri. Bukan untuk dia. Belum tentu selesai bulan ini. Saya mau mulai, bukan pesta.' Pie di meja, remah, Ratih tidak buru. AC ruko bunyi. Anak les privat rumus di sebelah. Dunia kerja menampung percakapan ini tanpa jadi gala. Anisa syukur pada knalpot. Knalpot tidak minta pidato.
'Mulai bagaimana?' tanya Ratih.
'Tidak ke Menteng. Tidak balas surat. Tidak pakai wig. Tiga itu sudah. Yang belum: saya masih bawa cap buta di dada sebagai hukuman. Hukuman itu tidak menolong klien. Tidak menolong jam. Saya mau turunkan, pelan.'
Ratih angguk. 'Aku tidak jadi hakimmu. Kalau kamu butuh saksi makan, aku ada. Kalau kamu butuh pidato, aku pergi.'
'Makannya,' kata Anisa. Mereka makan pie. Tidak ada toast. Tidak ada kata sembuh. Ada remah di meja, ada tisu. Penutupan yang bisa dipegang. Ratih pergi jam sebelas, rapat Wijaya. Anisa cuci piring pie, keringkan, taruh. Firma kembali sepi. Sepi sah. Ia buka modul, koreksi typo, tidak buka draf maaf di ruko. Dua laci mulai dari jam sepuluh.
Sore klien satu, draf, sembilan puluh menit, fee. Anisa dengar, tandai, rujuk. Suara rata. Setelah klien pergi ia duduk, taruh tangan di dada, napas. Cap buta dulu: cinta, percaya, tidak baca. Ia tidak menghapus fakta itu. Ia menolak menjadikannya seragam seumur hidup. Konsultan yang menghukum diri di tiap klausul akan menularkan hukuman ke orang seberang. Dinding baru: luka boleh ada, tidak boleh jadi metode. Klien tadi hampir cap klausul kerja yang terlalu lebar; Anisa tandai, tidak menaikkan nada, tidak cerita gala. Metode yang benar adalah daftar, bukan hukuman. Ia stempel kuitansi, tangan rata. Nama di stempel tidak gemetar. Itu latihan tubuh untuk maaf diri: tangan yang tidak menghukum kertas orang lain.
Selasa Mira email: *Tidak ada docket. Envelope tujuh antri Senin pertama. Protokol temu tetap. Kalau Ibu mau henti surat, saya bisa tulis ke counsel: berhenti kirim. Itu hak Ibu.* Anisa tidak jawab hari itu. Hak berhenti adalah pintu lain. Ia belum pilih. Ia taruh pertanyaan di buku, bukan di email. Penutupan yang buru-buru adalah panggung. Ia tidak panggung. Sore Selasa klien batal; ia sapu, tulis modul hibah, print. Printer hidup. Masalah yang bisa dibayar sudah di belakang. Yang antri di dada tidak bisa dibayar tunai. Bisa draf. Ia pulang, teh, tidak buka kertas buram dulu. Besok hujan, katanya. Besok tulis.
Rabu hujan, atap tidak tetes. Anisa tulis di kertas buram, bukan untuk Damar, untuk diri:
*Saya memaafkan Anisa yang cap tanpa baca. Bukan karena cap itu benar. Karena hukuman seumur hidup tidak mengubah klausul yang sudah cap. Saya sudah baca sekarang. Saya sudah kerja. Cukup.*
Kalimat itu belum diucapkan keras. Draf. Ia lipat, masuk laci dapur malamnya, bukan laci ruko. Dua dunia. Maaf diri bukan materi klien. Hujan di luar, atap apartemen tidak tetes. Ia teh tawar, draf di laci, tidak baca ketiga kali. Dua kali tulis, cukup. Malam itu yoga sepuluh menit, lutut tidak sempurna, napas ada. Hukuman di dada masih, kertas sudah menandingi. Ia tidur. Bukan euforia. Lantai.
Kamis Ratih pecel. 'Draf ada?' Anisa: 'Ada. Belum keras.' Ratih: 'Jangan keras di ruko. Keras di rumah, kalau mau. Atau tidak keras sama sekali. Tertulis juga sah.' Anisa: 'Tertulis dulu.' Mereka makan. Ratih tidak minta baca draf. Dinding sahabat. Ratih cerita klien audit yang salah hitung, sengaja membosankan. Anisa dengar, angguk, tidak bandingkan Damar. Teh tawar. Pulang angkot. Di kaca, wajah tidak pecah. Draf di tas, belum keras, sudah ada. Antrian bergerak.
Jumat jam empat, lap, kunci. Di seberang jalan Anisa berdiri lima detik, lihat papan, tidak menoleh mencari siapa pun. Pulang angkot. Tebet. Keluarkan draf, baca, tidak tambah. Cuci piring. Tidur enam jam. Mimpi ruko. Bangun, teh, kerja. Piring malam Jumat kering di rak. Draf di laci. Papan di Rawamangun jauh. Tiga tempat, satu perempuan, tidak menyamar. Itu lantai penutupan, masih tanpa pidato.
Sabtu pasar, minggu jemur. Ibu telepon: 'Makan?' Anisa: 'Makan. Saya sedang merapikan, Bu. Bukan rujuk.' Ibu: 'Rapikan. Ibu tidak nyuruh.' Tutup. Anisa duduk di lantai, draf di tangan, tidak pecah. Penutupan emosional minggu ini adalah draf yang tidak dikirim ke siapa pun. Sah. Tidak ada ballroom. Tidak ada Damar di kursi. Ada perempuan, kertas, dan antrian yang mulai bergerak tanpa diserobot. Sprei kering, lipat. Draf kembali ke laci. Ia tidak baca ketiga kali. Dua kali cukup. Ketiga kali jadi panggung.
Malam minggu buku ruko tidak dibuka; buku Tebet ya:
*Draf maaf diri: ada, belum keras. Surat: belum henti. Temu: nol. Suatu hari: tidak. Kerja: Selasa. Nama: Anisa Rahmawati.*
Ia padam lampu. Antrian di dada berkurang satu nomor — dari belum mulai jadi draf. Itu penutupan yang jujur. Bukan tamat rasa. Mulai turunkan hukuman. Besok papan berdebu. Ia akan lap. Itu juga penutupan: hidup yang dilanjutkan, bukan hidup yang diarak. Di gelap kamar ia sentuh pelipis uban, tidak cabut. Rambut sendiri. Nama sendiri. Hukuman cap buta masih di dada, sudah ada kertas yang akan menandinginya. Kertas belum keras. Kertas ada. Ia tidur. Enam jam kurang. Bangun Senin, teh, angkot, kunci ruko. Antrian dada tidak tumpah ke kuitansi. Dua laci. Jam sembilan. Kerja.