Minggu malam — Anisa tidak ke ruko, tidak ke taman, tidak ke Menteng. Lampu dapur redup, kopi setengah, kotak wig di meja — ia turunkan sekali, bukan untuk pakai, untuk melihat. Hujan di luar. Atap apartemen tidak tetes. Sepi yang dihuni. Ia cuci tangan dulu, kebiasaan kerja, lalu buka tutup kardus. Bukan upacara. Seperti buka laci kuitansi: cek, tutup, hidup lanjut. Bedanya, kuitansi tidak pernah hampir jadi orang. Wig pernah. Itu yang harus diluruskan malam ini, pelan, tanpa penonton.
Ia buka kotak. Wig. Kacamata. Sticky note lama *Terima kasih. Cukup.* Ia tidak menangis dramatis. Ia bicara pelan, bukan sandiwara, ke benda:
'Kamu bukan orang. Kamu alat. Tanpamu saya tidak masuk. Denganmu saya nyaris hilang. Terima kasih. Jangan naik.'
Suara itu suara Anisa, nada biasa, tidak rendah Laras, tidak manis Nyonya. Dapur menerima. Tidak ada echo ballroom. Ia ulangi sekali, lebih pelan, lalu selesai. Tidak ada ketiga kali. Mantra yang diulang jadi panggung. Dua kali cukup. Letak wig. Kacamata. Tutup. Tidak bakar. Tidak pamer. Naikkan lagi ke lemari. Rambut sendiri di kaca jendela hitam: uban, poni, muka capek yang tidak di-makeup ballroom. Ini Anisa. Bukan Nyonya. Bukan Laras. Bukan narasumber. Perempuan yang baca kontrak di Rawamangun dan baca surat sebulan sekali di Tebet dan tidak datang. Ia sentuh kaca, dingin, konkret. Wajah di sana tidak menyamar. Malam tanpa panggung artinya wajah itu tidak perlu penonton untuk sah. Sah karena dihuni.
Ia duduk lama. Ingat gala: tiga ratus tamu, metadata foto, Damar mematung, Rania kabur, ia keluar tanpa menoleh. Ingat Room 4C, jari pangkuan. Ingat notaris akta. Ingat papan nama. Ingat enam kursi. Ingat PDF yang tidak dibalas. Rantai itu bukan rantai dendam lagi. Rantai kerja. Selubung sudah terbuka di publik dulu; malam ini selubung terbuka di dapur, tanpa publik, tanpa kemenangan. Terbuka artinya tidak dipakai. Bukan artinya dipamerkan. Hujan makin rapat. Ia tidak mencari makna di hujan. Hujan adalah hujan. Dapur adalah dapur. Yang ia tolak malam ini: panggung kedua. Tidak ada tamu. Tidak ada kamera. Tidak ada kalimat untuk dewan. Hanya perempuan dan alat yang sudah selesai, dan keputusan untuk tidak menyalakan alat itu lagi meski rindu bentuk lama datang sebentar di tenggorokan — rindu aman menyamar, bukan rindu Damar. Ia telan. Air. Selesai.
Ratih SMS jam sembilan: 'Kamu tidur?' Anisa: 'Belum. Rapikan. Tidak ke mana-mana.' Ratih: 'Jangan sendirian kalau pecah.' Anisa: 'Tidak pecah. Malam tenang. Besok jemur.' Ratih: 'Oke. Aku di ujung telepon, bukan di ujung teras.' Anisa: 'Tahu. Terima kasih tidak datang.' Sahabat yang tidak menyerobot malam. Anisa taruh ponsel terbalik. Tidak scroll. Hujan. Ia dengar tetes di talang, bukan di dalam. Talang kerja. Dapur kerja. Ia kerja dengan duduk, tidak dengan pergi. Pergi adalah Menteng. Duduk adalah Tebet. Ia pilih duduk.
Ia buka buku catatan, halaman baru:
*Laras = alat, selesai tugas. Selubung = tidak dipakai, tidak dipamerkan. Maaf untuk diri: belum. Antri. Cerai kertas: sudah. Cerai hati: belakangan. Surat: baca, nol. Temu: nol. Suatu hari: tidak malam ini.*
Ia baca ulang, tidak tambah pidato. Halaman itu lantai, bukan atap. Atap adalah kerja besok. Ia tutup buku, taruh laci, jauh dari kotak wig. Dua laci, dua dunia, satu dapur. Kopi habis. Ia cuci cangkir. Gerakan itu penutup yang lebih jujur daripada pidato. Lampu tetap redup. Ponsel lock. Ia hampir buka PDF lama, lalu tidak — bukan Senin pertama. Aturan malam tenang sama dengan aturan kerja: tidak serobot. Damar di kejauhan, di antrian envelope, tidak di dapur. Dapur milik Anisa. Wig milik kotak. Nama milik papan dan akta dan kuitansi. Ia lap meja, remah kopi, kain basah. Rapikan malam sama dengan rapikan ruko: bukan karena ada tamu besok pagi di dapur, karena ia tinggal di sini. Tinggal adalah kerja yang tidak masuk kuitansi dan tetap sah.
Tidur enam jam. Tidak mimpi koridor. Mimpi ruko, klien tanpa wajah, jam empat. Bangun Senin, heran karena tenang, lalu masak air. Tenang bukan penutup hidup. Tenang adalah lantai. Di atas lantai itu masih ada pekerjaan: maaf pada diri, surat yang masih datang, mungkin suatu hari yang tidak dibuka malam ini. Ia tidak mengerjakan itu pagi ini. Pagi ini administrasi ruko, tinta, galon, papan berdebu. Air mendidih, teh tawar, roti. Sarapan orang yang akan antri angkot. Bukan sarapan orang yang akan ke teras. Ia kunyah, telan, cuci piring. Urutan malam ke pagi tanpa panggung di antaranya. Itu yang ia simpan. Roti biasa, teh tawar, tidak ada katering. Lidah jujur. Perut kenyang. Cukup untuk naik angkot tanpa menyamar.
Di kereta ke Rawamangun ia lihat kaca: rambut sendiri, tidak bob. Tidak ada yang menoleh. Ia tidak menoleh ke belakang mencari Damar. Pintu yang tidak dibuka dulu tetap tidak dibuka. Malam tanpa panggung sudah cukup sebagai bukti ia bisa duduk dengan alat yang sudah selesai, tanpa menyalakannya lagi. Anisa Rahmawati buka kunci ruko pukul sembilan. AC. Lampu. Buku tulis. Hari yang tidak meledak, setelah malam yang tidak menyamar. Itu urutan yang benar: malam tenang, lalu kerja, bukan malam tenang lalu teras, bukan malam tenang lalu balasan, bukan malam tenang lalu wig. Kerja. Nama. Jam empat. Cukup untuk hari ini. Yang belum — maaf diri, hati, suatu hari — antri dengan rapi, tidak diserobot, tidak dijual, tidak dijadikan panggung kedua. Ia buka buku administrasi, catat tinta, catat galon, catat sewa. Angka jujur. Nama jujur. Rambut jujur. Papan berdebu ia lap. Debu hari Senin. Bukan debu gala. Ia kerja. Jendela terbuka. Knalpot. Anak les privat membaca rumus. Anisa menulis angka. Dua bunyi berdampingan. Hidup. Tanpa panggung. Ia kunci laci kuitansi, taruh pena, napas. Jam sembilan lewat. Kerja sudah mulai. Malam sudah cukup.