Selasa — printer mati. Anisa bawa ke servis dekat kampus, antri, bayar, tunggu dua jam di warung teh. Masalah yang bisa dibayar. Bukan masalah yang butuh hakim. Ia baca modul di HP, koreksi typo, tidak scroll nama lama. Anak sekolah di meja sebelah bahas ujian; Anisa dengar tanpa ikut. Teh manis, piring pecel kosong orang lain. Teknisi telepon: 'Bisa dijemput sore.' Anisa: 'Saya tunggu.' Menunggu mesin lebih sehat daripada menunggu balasan. Printer hidup lagi sore, kuitansi PT. Ia print tes: *Rahmawati Consulting.* Huruf keluar. Ia napas. Lega kecil, jujur, tidak berlebihan. Firma satu orang boleh lega pada mesin. Mesin tidak minta maaf. Mesin minta bayar. Anisa bayar. Selesai.
Rabu klien batal. Anisa tetap buka, sapu, tulis. Jam sepi bukan kegagalan. Jam sepi adalah atap tidak tetes. Ia makan nasi bungkus, cuci tangan, lanjut. Ratih tidak perlu diundang mengisi sepi. Sepi dihuni. Ia tulis modul tambahan soal hibah orang tua, contoh fiktif, print lima set. Printer hidup, huruf rapi. Kerja tanpa tamu tetap kerja. Nyonya dulu mengisi sepi dengan acara. Direktur mengisi sepi dengan modul. Beda isi, sama namanya: hari.
Kamis hujan lagi, atap tidak tetes. Pak Dedi kerja bagus. Anisa SMS terima kasih, transfer sisa. Pak Dedi: 'Siap, Bu.' Dunia tukang. Dunia klausul. Dua dunia yang tidak bertikai. Anisa berdiri di tengah ruko, dengar hujan, tidak taruh ember. Tidak ada bunyi tetes. Lega kecil, sama jenis dengan printer hidup: masalah yang bisa dibayar sudah selesai. Ia tidak mencari masalah baru supaya terasa hidup. Ratih sudah pesan itu. Anisa patuh. Hujan selesai, jalan basah, ia kunci, pulang. Ember di pojok tetap kosong. Kosong yang benar.
Jumat Senin pertama jatuh berdekatan di kalender — Anisa baca envelope kelima malam Jumat karena Senin pertama adalah besok pagi dan ia tidak mau baca di hari ruko. Pilih dapur, malam, kopi. Damar: lebih pendek lagi. Cuaca, kerja, satu kalimat 'saya baik-baik saja dalam arti tidak membuat keributan'. Tidak ada maaf diulang. Tidak ada Laras. Tidak ada undangan. Anisa tutup. Nol. Hampir mengetik 'baik' di draf email, lalu hapus semua. Hampir adalah hampir. Hapus adalah aturan. Cuci cangkir. Jari di atas tombol kirim sebentar, lalu jauh. Otot yang sama dengan tidak memakai wig: tahan, taruh, selesai. Tidur lima jam empat puluh, mimpi printer, bukan koridor. Mimpi mesin lebih sehat daripada mimpi gedung.
Sabtu pasar. Minggu, ibu Anisa telepon — jarang, hati-hati, tidak menyuruh rujuk. 'Kamu makan?' Anisa: 'Makan. Kerja. Tidak rujuk.' Ibu diam, lalu: 'Ibu tidak ngerti semua. Ibu senang kamu makan.' Anisa: 'Saya senang Ibu tidak menyuruh.' Mereka tutup sebelum menangis. Keluarga yang belajar dinding. Bukan sempurna. Cukup. Setelah tutup, Anisa duduk di lantai dapur, napas, tidak pecah. Ibu yang tidak menyuruh adalah hadiah yang terlambat dan tetap hadiah. Ia masak lebih banyak malam itu, bukan karena rujuk, karena lapar dan karena suara ibu masih di telinga sebagai peduli, bukan sebagai perintah. Nasi, sayur, tahu. Piring satu. Cuci.
Senin administrasi, printer hidup, sewa, gaji hemat. Mira: *Tidak ada docket. Envelope enam antri. Protokol temu tetap.* Anisa: *Tetap.* Bank, nama tanpa jeda. Utuh di antrian adalah latihan yang diulang sampai bosan. Bosan datang. Ia terima. Petugas tanya NPWP badan, Anisa sebut nomor tanpa buka kertas — sudah hafal. Hafal nomor badan hukum lebih berguna daripada hafal headline lama. Ia keluar bank, panas, teh botol, lanjut ruko.
Selasa klien baru dua sesi pendek, bukan dramatis, rekening dan hibah, rujuk notaris. Jam empat. Lap papan. Angkot. Tebet. Masak. Cuci. Lock sembilan. Hidup yang dulu ia kira hukuman setelah menang kertas, ternyata isi hari. Isi hari tidak perlu diledakkan supaya sah. Sesi pertama perempuan muda, sesi kedua ibu-ibu, keduanya pulang dengan daftar. Anisa stempel dua kali. Tangan rata. Rak map nambah. Firma bukan empty after win. Firma isi. Isi biasa. Sah.
Rabu Ratih: 'Kamu sudah tiga minggu tidak tanya berita dia.' Anisa: 'Tidak perlu. Surat bulanan cukup supaya kepala tidak mengarang. Berita mengarang lebih parah.' Ratih: 'Utuh.' Anisa: 'Utuh.' Mereka ketawa. Kata itu pensiun jadi lelucon, lalu jadi ukuran: tidak pecah di wajah, tidak ke Menteng, tidak balas, tidak pakai wig, bayar printer, makan, tidur hampir enam jam. Ratih pesan teh manis, Anisa teh tawar. 'Kamu aneh,' kata Ratih. 'Aneh yang makan. Aku suka.' Anisa tidak balas pujian. Ia minum. Hidup biasa tidak butuh caption.
Kamis Anisa pindahkan kotak wig sedikit karena mau taruh koper, lalu kembalikan. Tidak buka. Alat tetap alat. Malam ia tulis:
*Printer hidup. Surat lima: hampir balas, hapus. Ibu telepon, tidak rujuk. Masalah bisa dibayar. Hati belum maaf diri — antri. Tidak serobot.*
Koper ia isi sprei cadangan, bukan pakaian lari. Tidak ada rencana lari. Ada rencana jemur. Ia tutup koper, taruh bawah ranjang. Hidup biasa juga soal barang yang tidak jadi tas kabur.
Jumat workshop tidak diulang bulan ini, sesuai batas tubuh. Klien individu satu. Kunci. Lap. Pulang. Di kereta ia sadar bahu turun tanpa ia perintah. Damai masih belum dinamai. Bahu menamai sendiri. Anisa tidak memaksa kata. Ia masak, makan, cuci, tidur. Pintu teras tidak. Pintu ruko besok Sabtu tutup. Minggu jemur. Hidup biasa, Anisa utuh, tanpa paksa ketemu — bukan karena Damar tidak ada di dunia, karena dunia Anisa tidak lagi diatur oleh pintu orang lain. Printer, atap, ibu, wig, PDF. Semua di tempat. Tidak ada yang menyamar. Malam Sabtu ia setrika blus pasar, uap, kain. Nyonya punya setrika staf. Direktur setrika sendiri, tidak sempurna, cukup rapi untuk Selasa. Cukup rapi adalah standar baru. Sempurna adalah ballroom. Ia gantung blus, padam lampu. Masalah yang bisa dibayar sudah dibayar. Yang belum bisa dibayar — maaf diri — tidak ditagih malam ini.