Minggu pagi Anisa buka laci kamar yang jarang dibuka. Wig bob Laras, kacamata bingkai tebal, pita suara yang tidak terlihat — benda. Bau mothball. Ia tidak memakainya. Duduk di tepi kasur, wig di pangkuan, lima menit. Bukan ritual. Inventaris.
Laras Wijaya: nama kerja, bukan orang ketiga. Wig itu menolongnya masuk gedung suami, menolongnya dicintai sebagai pekerja, menolongnya bongkar. Wig itu juga membelahnya. Anisa pegang rambut palsu, lalu masukkan ke kotak kardus, tutup, tulis spidol: *bukan buang, bukan pakai.* Taruh atas lemari samping kotak blus sidang. Dua kotak musim. Rambut sendiri di kaca: lebih panjang dari bob, beruban sedikit di pelipis yang dulu disembunyikan. Ia tidak cabut uban. Ubannya jujur. Kaca kamar tidak ramah; cahaya dari jendela merata. Ia lihat kantung mata, tidak makeup. Bukan hukuman. Inventaris wajah, sama seperti inventaris wig: ada, tidak disembunyikan, tidak dijual.
Ratih call: 'Kamu di mana?' Anisa: 'Kamar. Merapikan. Tidak ke Menteng.' Ratih: 'Bagus. Jangan bakar wig. Bakar itu sinetron.' Anisa: 'Tidak bakar. Kotak.' Ratih: 'Utuh.' Mereka ketawa karena kata itu sudah jadi lelucon dalam. Lelucon menjaga, bukan mengejek. Setelah tutup, Anisa duduk lagi, kaca, uban, napas. Tidak ke salon hari itu. Salon Selasa. Hari ini cukup kotak dan lelucon. Dua hal yang menahan tangan dari bakar dan dari pakai.
Senin pertama bukan minggu ini. Anisa kerja. Sore di ruko ia sisir rambut sendiri sebelum klien, kaca jamur di sudut sudah ia lap. Klien tidak tahu ada wig di Tebet. Tidak perlu tahu. Sesi selesai. Jam empat. Rambut diikat karet biasa, bukan jepit Nyonya. Karet putus sekali, ia ganti dari laci. Masalah yang bisa dibayar, versi rambut. Ia ketawa kecil sendiri, lalu kunci.
Selasa ia ke salon kecil Rawamangun, potong ujung, tidak bob, tidak model Nyonya. Potong rapi kerja. Tukang potong: 'Ibu dosen?' 'Bukan. Baca kontrak.' 'Oh.' Selesai. Rambut sendiri, versi dijaga, bukan selubung, bukan ornament acara. Di cermin salon ia tidak mencari Laras. Ia mencari apakah poni mengenai alis. Mengenai. Cukup. Kaca salon lebih terang dari kaca kamar; uban lebih kelihatan. Tukang potong tidak tawarkan cat. Anisa tidak minta. Bayar tunai, terima kasih, keluar ke panas, angin di leher. Leher tanpa bob terasa telanjang sebentar, lalu biasa. Telanjang yang bukan skandal. Telanjang yang artinya rambut sendiri kena angin.
Rabu Mira email: *Salinan cerai inkrah sudah di folder Ibu sejak dulu. Saya kirim ulang PDF kalau Ibu mau tempel di lemari, bukan karena ada sengketa. Tidak ada sengketa.* Anisa unduh, print satu lembar putusan, masuk laci envelope stamped. Kertas itu sudah lama selesai. Hati belum. Ia tidak paksa hati minggu ini. Kertas di laci, wig di kotak, nama di papan. Tiga lapisan. Utuh bukan berarti semua lapisan sama rata. Utuh berarti tidak ada yang menyamar. Ia baca putusan sekali, bahasa hakim kering, tanggal, amar. Tidak ada kalimat cinta. Tidak ada kalimat dendam. Ada selesai. Selesai kertas ia hormati dengan menyimpan, bukan dengan pesta, bukan dengan telepon Damar.
Kamis klien tanya, 'Ibu janda?' Anisa diam sedetik. 'Saya bekerja dengan nama saya. Status di kertas selesai. Di sini kita baca kertas Ibu.' Klien angguk, malu, lanjut klausul. Anisa tidak marah. Pertanyaan itu dunia. Jawaban itu dinding. Setelah klien pergi ia tulis di buku ruko: *janda bukan profesi. Konsultan ya.* Ia sapu lantai, buang debu, sapa warung. Profesi kelihatan di sapu dan di stempel, bukan di status yang ditanyakan orang. Status sudah di laci. Kerja di meja. Dua tempat, tidak dicampur.
Jumat Ratih pecel. 'Wig?' Anisa: 'Kotak. Rambut sendiri.' Ratih lihat: 'Ubannya kelihatan. Bagus. Jangan cabut karena bekas Nyonya tidak boleh uban.' Anisa: 'Tidak cabut.' Mereka makan. Ratih tidak tanya Damar. Anisa tidak sebut PDF. Percakapan tentang atap yang sudah tidak tetes, tentang workshop enam, tentang tukang potong yang kira dosen. Hidup biasa. Utuh di meja pecel adalah utuh yang bisa ditertawakan. Ratih bayar piringnya, Anisa piringnya. 'Kamu kelihatan lebih ringan di kepala,' kata Ratih, menunjuk rambut. Anisa: 'Karena tidak ada wig. Bukan karena sudah maaf.' Ratih: 'Aku tidak buru maaf. Aku buru kamu makan.' Nasi habis. Itu buruan yang benar.
Malam Jumat Anisa coba yoga lima belas menit, lebih lama dari sepuluh. Lutut tidak sempurna. Napas ada. Ia tidak jadi orang baru. Ia jadi orang yang sama tanpa wig. Itu lebih sulit daripada orang baru. Orang baru bisa dikarang. Orang sama harus dihuni. Setelah yoga ia minum air, duduk di lantai, pelipis basah. Uban basah. Jujur. Tidak ada yang menyeka untuknya. Ia seka sendiri. Cukup.
Sabtu pasar, minggu jemur. Di balkon ia sentuh pelipis uban, tidak cabut. Tetangga sapa. Anisa angkat tangan. Ponsel lock sembilan. Tidur enam jam. Bangun tanpa heran kali ini. Tubuh mulai percaya Sabtu. Percaya Sabtu adalah percaya tidak ada gala tersembunyi di kalender.
Sore minggu ia buka kotak wig sekali lagi, pastikan masih di sana, tutup. Bukan ragu. Cek seperti cek kunci ruko. Benda tersimpan, tidak menghilang jadi hantu. Laras tidak tinggal di kepala sebagai orang. Laras tinggal di kardus sebagai alat yang sudah selesai tugas. Anisa tulis sticky note dalam kotak, kertas kecil:
*Terima kasih. Cukup. Jangan naik di jam kerja.*
Tutup. Lemari. Rambut sendiri. Nama sendiri. Tidak temu. Tidak teras. Hari tidak meledak. Utuh, versi pelipis beruban, versi kotak di atas lemari, versi jam empat. Cukup untuk tubuh. Hati yang belum maaf pada diri sendiri masih antri — antri tidak boleh diserobot oleh wig, tidak boleh diserobot oleh kafe, tidak boleh diserobot oleh rindu yang menyamar jadi penutupan. Ia cuci muka, kaca, uban, selesai. Tidur hampir enam jam. Mimpi salon, bukan gala. Bangun, teh, ruko. Rambut sendiri kena angin angkot. Tidak ada yang menoleh. Ia tidak menoleh.